Tahun Kian Bertambah, Hidup Makin Susah? Ubahlah!

Belle Co on Pexels

Penulis:        Sesiria Dwi Mustikasari
Editor:          Thiara

Cangkeman.net - Negara berflower—sebutannya sih begitu. Meniru gaya bicara anak muda si juru kunci komposisi penduduk di Indonesia. Ribuan pulau membentang di negeri ini, kok ya mesti anak muda dari Gen Z yang mendominasi? Sekedar informasi, sebelum persambatan duniawi aku mulai, sensus penduduk 2020 menyebut sumbangan jumlah penduduk paling banyak berasal dari Gen Z pada angka 75,49 juta jiwa. Uwaw! Begitu banyaknya anak muda di negeri kita. Patutkah kita untuk berbangga?kalau aku sih, ya b aja. 

Miris. Tahun kian bertambah, kepadatan penduduk pun membuatku jengah. Hidup sudah susah tapi jumlah manusia pun kian bertambah. Masalah sosial tak kunjung reda, rasa-rasanya kian menular kemana-mana. Mungkin ini pentingnya duduk di bangku sekolah—memahami teori—yang katanya tak penting tanpa praktek langsung menghadapi masalah. "Halah, kamu masih muda, pelajaran hidupmu tak lebih banyak dengan kami yang sudah tua.” begitulah kata mereka. Para senior kehidupan yang menolak untuk diajak bicara. Mendoktrin pikiran perkara beban, utang, putus sekolah, kebodohan, pendapatan yang kurang hingga masalah kesehatan semata-mata hanya takdir yang digariskan Tuhan.

Bicara masalah sosial, rasanya tak akan ada habisnya. Menyalahkan takdir yang salah sasaran, lagi-lagi tak memihak kaum menengah kebawah yang menderita. Daripada terus-menerus menyalahkan takdir yang kadang tidak sesuai harapan para pembaca, bukankah baiknya kita instropeksi diri hingga angan menjadi nyata? Mencoba perbaiki diri sebagai bentuk memperbaiki nasib sekaligus wujud cinta tanah air pun usaha memajukan Indonesia.

Rasanya sayang sekali jika banyak usia muda bertebaran di negeri ini tapi kualitasnya kurang mumpuni. Kali ini mari bersama kita diskusi mencari solusi perkara apa saja yang bisa memberbaiki kuantitas dan kualitas sumber daya manusia di negeri ini. Yuk, mari!

1. Stop perbanyak anak

"Banyak anak banyak rezeki” pepatah Jawa satu ini rasanya kurang cocok lagi dipercayai. Di tahun yang sudah modern seperti sekarang, faktanya banyak anak semakin banyak kebutuhan yang mencekik nurani. Ingat, penduduk di negara ini masih di dominasi oleh penduduk miskin yang bertebaran di mana-mana. Daripada memikirkan perkara memperbanyak anak, bukankah lebih baik memperbaiki ekonomi yang lebih utama?

Nelangsa hati melihat anak kecil sudah diajak wara-wiri untuk meminta-minta. Apa kita sebagai orang tua tidak merasa berdosa? Hanya mau membuat tapi enggan untuk merawat, hingga menjadikan anak sebagai alat. Banyak sedikitnya anak bukan ajang untuk berlomba. Sehingga perlu berpikir jangka panjang sebelum memutuskan untuk menambah anak di lingkungan keluarga. 

2. Jangan jadi manusia yang lemah

Gagal sekali, ngeluh. Gak keterima di tempat kerja yang dikehendaki sudah frustasi. Capek deh. Heran dengan jenis manusia satu ini. Ya ndak papa mengeluh, tapi mbok ya sewajarnya saja. Kita dari lahir sudah ditempa untuk menjadi pribadi yang satu tingkat lebih baik setiap harinya. Kita yang bayinya cuma bisa rebahan di umur satu setengah tahunan, belajar jalan yang mesti jatuh bangun dulu baru bisa lancar. Sama saja dengan kehidupan dewasa yang katanya makin berumur makin banyak masalahnya.

Dunia ini tidak cocok untuk manusia-manusia lemah yang tak bernyali. Zaman terus berubah, kita akan tergerus perubahan jika tidak mampu beradaptasi. Sebagai generasi Z yang mendominasi, baiknya perbanyak skill dan pengetahuan untuk memperkaya kualitas diri. Indonesia negara yang kaya akan sumber daya alam. Negeri ini akan lebih hebat jika para generasi muda mampu mengolahnya untuk kesejahteraan masyatakat di Indonesia.

3. Transmigrasi, yuk!

Fyi sobat nyangkem, Jawa menjadi pulau terpadat yang menjadi destinasi favorit penduduk untuk mengadu nasib. Pingin cepat kaya, merantau ke kota besar di Jawa seperti Jakarta dan Surabaya. Entah apa yang jadi pikiran orang-orang memilih merantau di kota yang sudah padat orangnya. Lapangan kerja belum tentu ada, tapi lingkungan terdampak padat sudah sewajarnya.

Para sobat yang ingin merantau bisa lebih dipikirkan untuk mencari lokasi lain yang masih sedikit penduduknya. Bukankah itu akan lebih meratakan penduduk di Indonesia? Mencoba menyelami lebih mendalam wilayah Indonesia yang masih jarang dikenal. Tidak melulu kota kota besar yang dielu-elukan.

4. Cari ilmu sebanyak banyaknya

Cara keempat supaya Indonesia cepet maju, ya dengan memperbaiki kualitas pendidikan di Indonesia. Memberikan jaminan pendidikan yang baik untuk anak bangsa kita sehingga melahirkan sumber daya manusia yang berkualitas. Para generasi muda yang mengemban tugas untuk memperkaya kemampuan juga harus tetep semangat mencari ilmu ke mana saja.

Katanya sih, "Kejarlah ilmu sampai ke negeri Cina". Kalo sekarang kalian ingin memperdalam ilmu, bisa ke mana saja dengan berbagai jalur. Buat sobat nyangkem yang kesulitan finansial, pemerintah juga gak tanggung tanggung memberikan beasiswa buat kalian yang layak. Jadi intinya generasi muda harus lebih pintar dibanding sesepuhnya, hehe.

5. Jangan sakit-sakitan

Gimana mau majuin negeri kalo masyarakatnya saja pesakitan. Ciceh kalo kata orang Jawa. Kurang tahan banting dengan kondisi fisik yang lemah. Kualitas SDM yang rendah seperti ini yang juga jadi penyebab negara ndak maju-maju. Secara pribadi, kita harus sadar tentang pentingnya hidup sehat. Menjaga pola hidup yang baik pun menjadi alternatif untuk mempertahankan kesehatan mental.

Inget ya, sobat nyangkem, masalah datang tanpa kita tau kapan waktunya. Ketika tubuh tidak siap menghadapi masalah duniawi, yang ada malah jadi penyakit. Sobat nyangkem gak mau kan sudah pesakitan pun stress karena butuhan?

6. Kerja! Semuanya butuh duwit

Alternatif terakhir supaya Indonesia cepet maju, ya kerja. Kalo gak kerja tentunya ndak punya duit, sedangkan kita buang air kecil di tempat umum aja mesti bayar. Bayangin aja jika satu keluarga yang bekerja cuma satu orang. Apa ndak bungkuk si penanggung beban keluarga? Kebahagiaan bukan melulu berasal dari uang, tapi realistisnya apa-apa butuh uang. Jadi budayakan benci menganggur supaya kita cepat kaya pun hidup mujur.

Sesiria Dwi Mustikasari

Suka apa aja asal bikin nyaman.