Mau Jadi Apa Jika Hidup Tanpa Perencanaan?

Pixabay on Pexel

Penulis:        Sayidah Chovivah
Editor:          Fatio Nurul Efendi

Cangkeman.net - Perencanaan sudah menjadi pakaian manusia. Ia adalah hal yang selalu dipakai manusia. Pasalnya memang manusialah yang patut dan pas untuk selalu memiliki perencanaan. Sebab hanyalah manusia yang diberikan akal. Manusialah yang bisa berangan-angan waktu kemarin, kini, bahkan masa depan. Bahkan walaupun manusia tidak berkuasa pada waktu yang akan datang, tetapi manusia masih bisa mengusahakannya dari sekarang. Mencoba menciptakan nasib di waktu mendatang, bahkan manusia dapat merencanakan hal-hal yang akan terjadi pada dua,lima, sepuluh, bahkan dua puluh tahun mendatang.

Manusia telah banyak berencana, tentu ini pertanda baik. Bahwasanya manusia memiliki keoptimisan dalam menjalani kehidupan. Dengan melakukan perencanaan, manusia sedang berupaya mengoptimalkan kemampuan yang telah diberikan Tuhan.

Lalu, apa kabar bagi manusia-manusia yang selalu buntu ketika menyusun perencanaan? Yang ditanya cita-citanya apa saja mutar otak berkali-kali tapi masih saja tidak punya jawaban? Jangankan merencanakan lima tahun ke depan, bisa menyelesaikan hari-hari saja rasanya sudah sangat bersyukur. Kalau mau ditanya pengen sukses? Ya pengen, pengen kaya? Ya pengen, pengen sejahtera? Ya tentu, pengen jadi bermanfaat? Ya pasti. Tapi definisi sukses, kaya, sejahtera itu seperti apa? Caranya bermanfaat itu bagaimana? Mencapainya itu bagaimana?

Kabar baik untuk manusia yang rajin bergerak. Bergerak apa saja, tanpa melihat ada uangnya atau tidak. Sebenarnya pemahaman ini sangatlah enteng, sepele dan tidak muluk-muluk. Hanya saja karena lingkungan apalagi zaman serba gadget yang 'ndilalah' algoritma Instagram-nya membahas tentang self improvement yang pasti tidak jauh-jauh dari persoalan perencanaan, tentu membuat hati menggebu. Tapi jika kita bicara soal praktek, susahnya bukan main.

Ada momen di mana, yang datang bukannya hal yang positif tapi justru yang banyak menempel di pikiran adalah kekhawatiran yang menyangka orang-orang di sekitar melakukan berbagai macam hal untuk menjahati kita dan berlebihan hingga merasa dirinya adalah satu-satunya manusia yang hidup secara tak terstruktur. Kekhawatiran itu memunculkan statement "Manusia tanpa perencanaan tidak akan sukses, tidak punya pencapaian".

Oleh sebab itu, maka kita perlu yang namanya bergerak. Sebab nyatanya seperti kata Bunda Teresa, "Kita tidak bisa semua melakukan hal-hal besar, tetapi kita dapat melakukan hal-hal kecil dengan cinta yang besar." Dan segala sesuatu yang besar tercipta dari gabungan pekerjaan-pekerjaan kecil,kan?

Lalu muncul pertanyaan, bergerak bagaimana yang dimaksud dan bagaimana kita meyakini hanya bermodalkan bergerak tapi dapat membuahkan pencapaian yang bisa dibanggakan? Pertama-tama saya akan menyampaikan kenyataan bahwa hidup tetap butuh perencanaan, bukan berarti harus membuat perencanaan yang njlimet bin ruwet, tapi setidaknya kita punya sesuatu yang dikerjakan yang dapat memunculkan perencanaan minimal satu langkah berikutnya. Sebab,manusia butuh merasa berguna untuk tetap hidup. Misalkan saja, kita menyapu, setelah menyapu kita punya kegiatan lagi, mencuci baju. Atau ketika kita sedang mencuci baju kita berencana untuk pergi ke perpustakaan. Itu yang dimaksud dengan perencanaan muncul karena kita melakukan sesuatu. Pokoknya, bergerak saja dulu, soal manfaatnya apa,nanti juga mengikuti. Dan alasan paling mudah untuk melakukan pekerjaan pokok seperti mencuci baju, beres-beres, dan sebagainya adalah agar pekerjaan-pekerjaan itu tidak menggangu kesempatan 'yahud' yang datang ujug-ujug.

Belum juga yakin? Mari membangun pikiran yang sederhana. Dimulai dari menghayati lagu Berdiri Teman, milik Closehead yang liriknya begini, "Tak usah berharap lebih 'tuk berlari.Mungkin hari ini tak pernah kembali. Berjalanlah perlahan menyelesaikan hari. Jangan kau jadikan satu kenangan. Yang memilukan, berdiri, teman. Jalan begitu panjang terbentang.Jangan kau lewatkan tanpa harapan. Berdiri, teman." 

Nah, tapi kalau masalah kamu sulit membuat perencanaan dan kamu mageran, itu masalah yang besar. Karena waktu berjalan cepat, tapi kamu malah sibuk bermain handphone dan tidur every where, every time. Waktu yang kau lalui terlalu sayang untuk dilewatkan untuk hal-hal itu. Tapi tidur untuk tidak mengkhawatirkan takdir, itu pengecualian (tapi jangan lama-lama juga lah). Sebab ketika kita mencoba untuk mengerjakan sesuatu, maka kesempatan akan selalu datang menghampiri. Kita tidak akan tahu di perjalanan mana kebetulan-kebetulan yang ternyata memang diberikan kepada kita itu, kita temukan.

Membangun keyakinan kpeada diri sendiri bahwa akan memiliki nasib yang baik sangat perlu dilakukan. Dan sebagai manusia yang mudah bangga dan percaya pada pemikiran logisnya, manusia juga memerlukan validasi atas pikirannya sendiri tentang nasib yang sedang ia jalani. Mengurangi prasangka,"hidup kok gini-gini saja to?,jauh dari rata-rata malah!".

Coba lakukan hal ini ketika keadaan pikir sedang tidak baik-baik saja. Kita dapat melakukan penenangan diri seperti tarik nafas panjang, hembuskan lalu berpikir dengan tidak memandang masalah itu besar dan coba pikirkan solusi yang paling sederhana yang bisa kau lakukan. Karena dalam keadaan fit, kita lebih mudah untuk menilai sesuatu secara tepat dan sederhana.

Ada beberapa contoh perjalanan orang yang bermula dari pergerakan yang walaupun itu hanya bergerak iseng, karena mereka jika ditanya akan menjawab, "Awalnya cuman iseng saja!" Mereka adalah Danar Widianto yang iseng mengirim video untuk audisi X Faktor Indonesia (karena pandemi jadi audisinya kirim video), Gilang Bhaskara yang ingin kuliah di Bandung dan tidak memperdulikan ia masuk universitas mana (yang penting di Bandung ) tapi akhirnya kenal stand up di Bandung dan jadi komika terkenal, padahal dirinya tidak lulus kuliah. Arif Didu pun begitu, kemana angin niup gua ngikut aja, katanya. Dan nama-nama itu adalah nama-nama yang bisa kita cari di mesin pencari. Ya,ini hanya perkara coba-coba dan siapa tahu jadi rezeki yang yahud luar biasa. Tanpa boleh dilupakan tetap ada proses panjang di dalamnya. Dan contoh kecilnya ya ini, kalau saya tidak mencoba menuliskan artikel ini tiada mungkin ujug-ujug artikel saya nangkring di sini. Kalau menurut Dr. Fahruddin Faiz yang telah istiqomah ngaji bertahun-tahun ketika ditanya cita-cita kedepannya apa atas ngajinya itu, beliau hanya 'ngendika',"Biarkan,kita usahanya optimal dan nanti hasilnya kita serahkan".Sebab menurutnya ketika sesuatu dilakukan dengan optimal akan menghasilkan karomah. Seperti karomahnya orang yang pandai, dapat beasiswa, karomahnya orang yang pandai melakukan pekerjaan sesuatu maka ia juga akan mendapatkan pekerjaan dengan imbalan yang setimpal. Jadi fokuskan saja usahanya, hasilnya mau jadi buah apa saja, biarkan. Dan begitulah kehidupan, jika toh tidak mampu untuk berencana secara terstruktur, biarlah saja waktu yang memberikan jawabannya. Beliau ngendikan, bahwa selayaknya kita belajar (di perguruan tinggi) ya niatkan belajar, jangan terlalu menuntut apa hasilnya. Jika bersungguh-sungguh, karomahnya (manfaatnya) pasti dapat. Tapi fokuskanlah pada belajarnya, karomah hanyalah hadiah. 

Di manapun kita berada,bukankah kita selama hidup kita terus berproses dalam belajar apa saja? Jadi tidak berencana besar bukan suatu masalah. Toh berencana besar tanpa ada usaha untuk mewujudkannya juga tidak baik. Kita sebagai manusia yang berketuhanan layaknya tidak perlu terlalu khawatir pada nasib yang akan datang,wong nasib tidak memandang masuk akal atau tidak untuk mewujudkan takdir yang memang sudah digariskan. Tapi tetap saja, sebagai manusia yang dibekali akal dan fisik yang sempurna sepantasnya berusaha,apa saja,mulai saja,dan syukuri saja.Memang bermimpi tapi tidak punya perencanaan yang 'thirik-thirik' dan tak punya definisi spesifik akan mimpi itu, masih saja rasanya tidak masuk akal untuk bisa dicapai. Tapi justru keraguan diri inilah yang perlu digusur. Sebab, bukankah nasib seorang hamba tergantung pada prasangkanya? Bukankah seseorang harus optimis untuk yakin kuat sampai atas ketika ia mengendarai motor sehingga ia bisa persiapan dari bawah untuk tancap gas sekuat-kuatnya? Ah,berbicara soal prasangka saya jadi ingin merepoti handa taulan sekalian yang dekat dengan Tuhan, tolong sampaikan permintaan maaf saya akan prasangka buruk yang saya lakukan.

Sayidah Chovivah 
Santri.Tetap makan masakan mamak meski sudah makan di luar.