Maaf, Saya Lemot

Invisiblepower on Pexels

Penulis:        Thiara
Editor:         Fatio Nurul Efendi

Cangkeman.net - Sebagai makhluk sosial, manusia harus memiliki kapasitas otak yang mumpuni untuk digunakan berpikir. Sebab demi memudahkan mereka untuk beradaptasi dengan sesama mahluk hidup, terutama soal komunikasi.

Sekarang, coba bayangkan jika sebuah manusia hanya memiliki otak dengan RAM hanya sebesar 2gb untuk berpikir; serta ROM yang hanya dapat menampung 32gb ingatan. Dengan kehidupan yang tak berbatas ini, sangat beruntung manusia tersebut masih bisa hidup berdampingan dengan sesamanya.

Saya adalah salah satu contoh manusia dengan kapasitas otak seperti yang disebutkan di atas. Tentu saja ini bukan sebuah kebanggaan, pun bukan sesuatu yang lagi memalukan. Sebab aib yang satu ini cukup lama mendarah daging, dan di satu sisi, sudah seperti identitas diri.

Istilah populer untuk manusia seperti saya adalah lemot. Demi kesehatan emosional, orang-orang biasanya sangat menghindari orang lemot. Namun sayangnya, rata-rata orang lemot selalu ada dalam circle pertemanan. Rasanya ada yang kurang kalau dalam sebuah kelompok gak ada orang lemot. Jadi, saya juga berperan sebagai pelengkap.

Gak perlu ditanya lagi soal tanggapan teman terdekat yang mengenal saya, dipastikan mereka adalah orang-orang yang sabar. Meski kadangkala, saya sengaja gak diajak berdiskusi akan suatu hal, ya karena otak saya terlalu EDGE buat mikir.

Dalam sekali pertemuan, setidaknya ada salah tiga pembicaraan yang harus saya cerna ekstra keras. Tapi jika topik pembahasan adalah gosip terpanas, semua rela turun tangan. Secara bergilir teman-teman saya mau menceritakan kronologi yang terjadi.

Meski begitu, gak jarang saya masih kesulitan menangkap inti pembicaraan. Ya, gimana bisa saya paham? Kadang yang nyeritain ulang alurnya malah dibikin maju-mundur; giliran ada yang ceritanya tersusun, ngomongnya gak pake titik-koma; sekalipun ada teman yang super telaten dalam bercerita, saya udah keburu takut duluan liat bombastic side eyes khas bestie lainnya yang mulai naik pitam.

Di ujung waktu, kepala saya bak mengeluarkan bau busuk dan menimbulkan asap dari hasil berpikir. Tapi cukup mengecewakan ketika yang berhasil saya tangkap ternyata masih gak sinkron sama ceritanya. Ujung-ujungnya, mereka menyerah dan meninggalkan saya yang gak tau apa-apa. Lah, salah saya apa ditinggalkan?

Tapi, sisi baiknya lemot membuat saya terhindari dari dosa ghibah. Temen-temen yang mau ngajak ngegosip ujung-ujungnya nyerah juga. Dan saya pun berujung gak tahu-menahu soal gosip terkini.

Di sisi lain, ada kalangan cowok yang sebut kalau cewek lemot itu lucu dan gemesin karena dianggap polos. Hahaha ... kenyataannya gak begitu, ferguso! Butuh orang yang super sabar buat ngadepin pasangan lemot. Daripada polos, saya lebih menyebut lemot itu bentuk lain dari bego wkwk.

Di tengah obrolan sama doi, selalu ada aja respon saya yang bikin dia kesel. Dia nyeritanya A, yang saya tangkep B. Dia ngobrolinnya kapan, saya pahamnya kapan. Kadang miskom gini bikin kita ribut juga. Yang parahnya lagi, lemotnya saya suka kumat di waktu yang gak tepat. Bukannya baikan, suasana malah makin muram. Jadi, serius masih mau sebut cewek lemot itu gemesin?

Gak cuma pasangan dan temen-temen, keluarga di rumah juga pernah kena imbas kelemotan saya. Adakalanya kesabaran mereka habis. Saking emosinya, Ibu saya bahkan pernah menganggap lemotnya saya ini adalah masalah yang serius.

"Rubah dari sekarang. Ngobrol sama kamu bikin orang kesel, tau!"

Hati saya yang serapuh tisu ini sempet tersenggol waktu Ibu ngomong gitu. Tapi kalau dipikir-pikir, saya juga gak bisa menuntut semua orang buat terbiasa dengan saya apa adanya, termasuk orang tua sekalipun. Lemot kadang jadi sesuatu yang sulit ditoleransi. Jangankan orang-orang, saya sendiri aja suka kesel dan insecure soal ini.

Rata-rata, lemot juga suka dibarengin sama sifat gak enakan. Karena merasa diri gak bisa diandalkan soal komunikasi, saya ngalah aja kalau dititah ini-itu. Tapi, kadang saya tau kalau lagi dimanfaatin karena disangka gak ngerti apa-apa. Jatuhnya diterima gak enak, melawan juga malu. Orang lemot bisa apa?

Jujur aja, telat mikir sangat berpengaruh pada cara saya berkomunikasi sehari-hari. Contohnya waktu kerja aja, ketika ada instruksi atasan yang gak saya ngerti, biasanya saya memilih untuk mencernanya dulu sendirian. Sesekali saya juga minta bantuan rekan, walau udahnya saya malu, karena yang gak saya pahami ternyata adalah hal yang sangat sederhana.

Padahal, jaman sekolah saya tergolong siswa pintar, terutama matematika. Sampai sekarang pun banyak teman saya yang meminta bantuan kalau ada tugas soal hitungan. Tapi, apa gunanya pinter berhitung tapi lemah berkomunikasi?

Lemot membuat saya enggan berkomunikasi. Di depan orang baru, bisa-bisa saya dianggap bisu karena jarang banget ngomong selain ngangguk dan geleng-geleng doang. Selain memang lagi males berinteraksi, ini juga jalan ninja menghindari permasalahan lemot. Ya

Namun, menutup diri bikin saya jadi serba penakut. Menjalin interaksi sama bos aja takut—kalau-kalau ada obrolan yang bikin saya kena cap beloon. Nanya-nanya ke temen takut bikin kesel. Ngobrol sama orang baru takut jadi bikin ilfil. Padahal, wajar sekali bertanya kalau ada hal yang gak kita pahami. Masalahnya, saya keseringan nanya dan harus berulang kali dikasih taunya. Orang-orang bisa sesabar apa menghadapi saya?

Lemot membuat banyak orang emosi yang berujung nyalahin saya. Saya disebut gak bisa mikir, dungu, dan segala bentuk bodoh lainnya. Dari sana, saya ikut-ikutan nyalahin diri sendiri juga, "anjir, ai aing bodo-bodo teuing!" maki saya dalam hati. Ya, siapa sih yang mau jadi orang lemot?

Pada akhirnya, saya mencerna baik-baik apa yang ibu bilang; saya harus berubah. Meskipun entah gimana caranya, saya harus berubah. Saya gak mau melulu bikin orang kesel kalau ngobrol sama saya. Dan saya juga gak mau terus-terusan menyalahkan diri sendiri. Barangkali, kamu punya cara ampuh mengatasi lemot? Hubungin saya!

Thiara

Suka nulis tapi males baca. Ayok kenalan di Instagram @thiara.yhiara