Rokok: Kebutuhan atau Keinginan?

Bianca Salgado on Pexels

Penulis:        Harry Wijaya
Editor:          Fatio Nurul Efendi

Cangkeman.net - Suatu ketika seorang teman datang kepada saya. Dengan wajah kusut ia pun berkata, “Gue gak punya uang. Bingung mau ngasih makan apa ke anak istri.”

Awalnya saya iba mendengar ceritanya. Membayangkan bagaimana nasib anak istrinya, mau makan apa mereka besok? Saya juga terbayang bagaimana pusingnya menjadi teman saya. Uang tidak ada, kerja juga tidak, tapi sudah memiliki tanggung jawab.

Tapi sesaat kemudian saya mulai menyadari satu hal. Teman saya ini bicara begitu sambil menghisap sebatang rokok di tangannya. Pertanyaan pun muncul di benak saya. “Dia tidak punya uang kok bisa beli rokok?” Saat ditanya begitu dia menjawab kalau rokok itu hasil berhutang di warung.

Lantas saya bertanya lagi, “Kalau berani berhutang demi rokok, kenapa tidak berhutang untuk beras saja? Untuk makan anak istri.”

Sebenarnya, rokok itu kebutuhan atau keinginan sih?

Produk tembakau ini memang sudah tak asing lagi bagi kita khususnya orang Indonesia. Hampir setiap hari kita melihat rokok. Yang dipajang di warung, yang sedang dihisap, atau yang hanya tinggal puntungnya saja berserakan di tanah. Rokok ada di mana-mana. Jika ditanya rokok keinginan atau kebutuhan, maka jawabannya akan bervariasi.

Ada orang yang menganggap rokok sebagai kebutuhan. Bahkan katanya, kalau tidak merokok rasanya pusing. Ada yang menganggap dengan merokok mereka akan lebih semangat. Ada yang kalau merokok maka pekerjaannya akan lebih maksimal. Sehingga mereka butuh rokok di kehidupan sehari-hari, lebih dari sebuah keinginan.

Jangan salah, tidak semua yang membutuhkan rokok adalah perokok. Para pebisnis rokok, para pekerja di pabrik rokok sampai penjual rokok juga membutuhkan rokok. Bukan untuk dikonsumsi, tapi untuk menyambung hidup. Untuk meraup keuntungan. Karena bila dilihat dari tingginya minat terhadap rokok, maka produk ini juga menjadi sumber perekonomian negara kita.

Bahkan bagi si perokok, pengeluaran untuk rokok saja sudah cukup besar untuk mereka. Mungkin saja rokok bisa dikatakan sudah menjadi kebutuhan primer bagi para perokok. Yang bahkan lebih diutamakan lebih dari kebutuhan seperti beras dan lainnya.

Saya juga pernah bertemu dengan seorang penjual bangku keliling. Seorang kakek-kakek tua, memanggul dua buah bangku berbahan bambu. Saya membelikannya air karena dia bilang haus. Beliau mengaku sudah seharian tidak minum, padahal hari itu lumayan terik. Saat saya tanya apakah tidak haus, ia menjawab, “Enggak, ini kan ada rokok.” katanya sambil menghisap batang tembakaunya.

Pernah lihat rokok sebagai alat transaksi? Saya pernah melihatnya dua kali. Pertama saat naik angkot, seorang penumpang membayar dengan tiga batang rokok dan si supir menerimanya. Kedua saat ada pengamen, ada yang memasukkan sebatang rokok ke dalam gelas yang disodorkan si pengamen. Kelihatannya rokok memainkan peran penting di sini.

Rokok juga dianggap dapat mempererat pertemanan. Saat di tongkrongan sampai di acara seperti tahlilan, rokok selalu ada. Bahkan saat di tahlilan, para jamaah yang datang akan mengantongi rokok terlebih dahulu ketimbang suguhan makanan lainnya.

Lalu di sisi yang lain juga ada yang akan menjawab, “Ngerokok mah kalau kepingin saja.” Bagi mereka rokok hanya sekedar keinginan. Mereka yang mungkin tidak terlalu kecanduan dan masih bisa membatasi jumlah konsumsi rokok. Tapi meski begitu, kadang konsumsi rokok mereka dalam sehari tetap saja banyak.

Jika kalau suruh berpendapat rokok itu kebutuhan atau keinginan. Maka saya yang bukan perokok ini akan menyebut bahwa rokok adalah kebutuhan. Hal itu bisa dilihat dari seberapa keras orang dalam mendapatkan benda ini. Walau tidak memiliki uang, seorang perokok cenderung akan mencoba untuk mendapatkan rokok meski harus meminta dengan teman atau berhutang di warung.

Ya, sepenting itu produk tembakau ini dalam kehidupan sehari-hari warga kita. Bayangkan jika tiba-tiba rokok menghilang dari peredaran. Mungkin akan besar dampaknya. Selama ini promosi dan iklan rokok selalu dibatasi oleh pemerintah. Contohnya adalah iklan rokok yang tayang hanya pada malam hari agar tidak ditonton anak-anak. Tapi pemerintah tak pernah secara tegas melarang anak atau remaja merokok.

Merokok tidaklah salah, jika jadi kebutuhan maka silakan saja dilakukan. Asal paham dengan segala resikonya. Apa pendapatmu soal rokok?


Harry Wijaya

Adalah seorrang penulis konten asal Depok yang suka membahas isu-isu sosial dan politik. Untuk menghubungi Harry, bisa melalui akun Twitter @hrrywjy.