Kenapa Balita Bisa Ketagihan Bermain Henpon?

Pexels

Penulis:            Angga Prasetyo
Editor:             Fatio Nurul Efendi


Cangkeman.net - Henpon di zaman sekarang memang multifungsi. Dari sekadar sebagai alat komunikasi, mencari recehan, sampai mengasuh anak. Untuk kegunaan terakhir, saya agak kaget juga, sih, tetapi ponsel memang bisa menggantikan kerja ART dalam batasan tertentu. Beri anak ponsel, orangtua atau pengasuh seperti anggota keluarga lain, anggaplah neneknya, maka bisa melanjutkan aktivitas hingga selesai. Masalahnya, ketika hp diambil, anak, terlebih masih berusia di bawah tiga tahun akan memberikan sebentuk perlawanan. Atau malah, saat baru diberikan, anak tak karuan tingkahnya. Tantrum merupakan istilah yang lumayan bombastis saat ini. Mengapa bisa demikian?

Erik Erikson, merupakan tokoh psikologi yang menurut saya cukup mendetail membahas perkembangan manusia, selain Piaget. Erikson membagi menjadi delapan tahapan. Dalam tulisan ini, saya hanya fokus pada tahapan kedua, yang disebut masa balita dengan rentang usia dua hingga tiga tahun. Apa sebabnya? Simpel saja. Karena anak yang saya amati dan menjadi inspirasi tulisan ini, berusia dua tahun lebih sedikit.

Setiap tahapan perkembangan mendapatkan situasi krisis. Agak seram ya, istilah yang diberikan Erikson, atau mereka yang mengikuti tradisi Freudian. Krisis yang dimaksud berawal dari tugas-tugas perkembangan yang ada di setiap tahapan. Tentu saja hal ini juga dipengaruhi oleh kondisi sosial di mana anak tumbuh dan berkembang, termasuk juga orang-orang sekitar anak. Makanya, disebut dengan krisis psikososial.

Pada tahap kedua perkembangan menurut Erikson, krisis psikososial yang terjadi adalah otonom vs ragu-ragu. Hasil akhir yang diharapkan dari fase ini adalah kemandirian, atau istilah lainnya mengerti dan menjalankan sesuatu atas kehendak sendiri.

Pada fase kedua, anak memiliki hubungan yang sangat khusus, artinya betul-betul mempengaruhi dirinya, berasal dari kedua orangtua mereka, dan orang lain yang sering terlibat. Nah, dari orang-orang sekitar anak, ia mengenal henpon. Barangkali mulanya cuma menunjukkan, lalu meminjamkan sebentar. Pihak pemberi hape, keasyikan dengan cara demikian. Tadinya untuk mengalihkan sementara fokus anak, menjadi pilihan absolut. Eh keterusan setelah mengetahui anak anteng saja menatap henpon. Pokoknya, kalau mau ngapa-ngapain dan si anak lagi dianggap bawel atau apa, kasih hape. Selesai urusan. Sementara orang yang terlibat, melanjutkan kegiatan. Semakin lama, kok si anak makin keras kepala? Saat hp akan diambil, ia mulai melawan. Menangis barangkali? Ya sudah kasih sebentar lagi.

Semakin menambahkan waktu bermain henpon si anak, malah makin tak karuan sikapnya. Dulunya cuma menangis, sekarang mengamuk saat henpon diambil. Atau malah, sampai si anak tak mau ngapa-ngapain. Bisa loh sampai tahap ini. Seperti misalkan, matanya sibuk menatap hape, mulut tak mau dibuka ketika disuapi. Apa nggak makin jengkel yang ngasih makan anak? Atau ketika dipanggil, telinga anak seperti sudah membusuk. Tiada guna indera pendengarannya itu selain menambah estetika. Anak memilih mengabaikan panggilan dan sibuk menatap henpon. Entah sedang lihat apa. Atau contoh lain, saat tiba waktu mandi, henpon diambil, suasana rumah bagai perang. Anak menjerit-jerit seakan sedang disiksa. Orang-orang lewat menatap tajam rumah kita. Berasumsi kalau di rumah yang mereka lewati, sedang ada KDRT. Jadilah gosip di lingkungan tempat kita tinggal. “Jangan galak-galak ngurus anak, sampai anakmu berteriak-teriak kemarin,” barangkali begitu. Yakin saya, orang-orang sekitar anak bakalan migrain ketika anak menjadi tak karuan sikapnya dan keluarga kita menjadi bahan gunjingan tetangga. Padahal asumsi tukang gosip belum tentu benar. Cuma gara-gara apa? Henpon, yang diberikan orang-orang sekitar anak.

Seperti yang saya katakan sebelumnya, pada fase kedua tahapan perkembangan menurut Erikson, hasil akhir yang diharapkan adalah kemandirian. Namun sikap ini tidak langsung muncul. Ada proses yang dijalankan: mengendalikan hasrat/keinginan menguasai dan bagaimana melepaskannya.

Objek yang ingin dikuasai yang terlihat jelas berupa henpon. Sebetulnya juga ada objek ingin dikuasai anak, biarpun ia tak sadar. Menguasai sosok yang memberikan henpon, yang barangkali juga tak sadar. “Hape ini diambil? Oke. Saya akan menjerit-jerit membuatmu frustasi,” mungkin begitu sebentuk pernyataan tersemat saat anak memberikan perlawanan, yang misalkan dalam bentuk tangisan. Permainan ini terus berlangsung sampai salah satunya menganggap pihak yang kalah.

Teringat kejadian yang menurut saya lucu. Ketika saya menyaksikan henpon akan diambil oleh yang mengizinkan, saat itu si anak berkata, “Nggak, nggak. Ini punya aku. Ini punya aku,” dengan cara berbicara anak umur dua tahun lebih sedikit. Ini merupakan salah satu contoh termudah dari konsep hasrat untuk menguasai. Anak kecil jelas tidak terlalu paham suatu benda milik siapa. Asalkan sudah dipegang olehnya, atau menarik perhatian, ada kemungkinan dianggap benda tersebut adalah miliknya, bukan kepunyaan orang lain. Tentu saja, orang yang lebih tua darinya mesti menjelaskan. Hal ini berkaitan dengan bagaimana si anak melepaskan sesuatu.

Masalahnya, belajar melepaskan tak pernah mudah, bahkan untuk orang dewasa sekalipun. Anak kecil, utamanya berusia dua hingga tiga tahun, keinginan bersenang-senangnya masih terbilang sangat tinggi. Anak mempertahankan sesuatu yang mampu membuatnya senang dan ingin berlama-lama hingga tak tahu batasan waktu. Justru, saat henpon diambil, malah belajar tentang ancaman: sebentar lagi kesenangan yang didapatkan sejak tadi akan hilang. Ia pun juga mulai belajar curiga, bahwa orang-orang sekitar dianggap penganggu. Padahal, henpon yang ia gunakan, mampu membuat senang tetapi malah diambil. Apakah itu tak bisa dibilang pengganggu kesenangan? Karena itulah, ketika henpon diambil, anak memberikan respon negatif. Intensitas dan jenis perlawanan memang tergantung pada anak.

Jadi, akar penyebab balita ketagihan henpon dalam konsep perkembangan menurut Erikson, karena anak usia dua hingga tiga tahun, tak tahu cara melepaskan sesuatu. Tentu saja, berbekal daya kreativitasnya, Erikson menghubungkan banyak hal, salah satunya apakah nanti seorang anak mampu mandiri? Seseorang dikatakan mandiri, menurutnya mampu mengatasi ketergantungan yang menjerat. Artinya, untuk mencapai itu, dibutuhkan kemampuan melepaskan.

Bagaimana caranya?

Wah, kalau soal itu sih tergantung dari cara mengasuh anak. Sebetulnya juga ini di luar konteks bahasan. Karena saya cuma mencari penyebab, bukan solusi. Memang, ada suatu metode yang sangat ampuh dalam kasus anak yang saya jadikan pengamatan. Adapun metodenya dengan membatasi kuota internet yang digunakan si anak main henpon. Kalau dulu langsung diambil begitu saja, saya menganggap bahwa si anak punya pikiran dan perasaan negatif kepada yang mengambil benda yang memberikan kesenangan.

Ketika henpon yang digunakan mati tiba-tiba lantaran mencapai batasan kuota internet yang telah ditentukan, ia memang menangis. Namun bukan menangis sarat amarah dan frustasi: mengamuk, tetapi lebih ke arah sedih. Orang dewasa sekitarnya pun memberikan penjelasan bahwa batas waktu bermain telah habis, sambil menunjukkan bahwa henpon yang digunakan tak mampu digunakan lagi. Seiring berjalannya waktu, si anak lebih bisa menerima dengan cara ini daripada diambil secara 'paksa': tidak ada suatu bukti bahwa hp yang digunakan betulan tak bisa digunakan, hanya sekedar diambil saja. Kalau menurut orang-orang sekitar anak cara yang digunakan dianggap baik, saya oke-oke saja. Alhamdulillah, berguna juga ilmu yang saya dapatkan semasa kuliah.


Angga Prasetyo
Kontributor ini masih malu-malu untuk menceritakan dirinya. Dapat ditemui di Instagram @anggaprass