Siapa Kita Berani Memutus Kasih Sayang Tuhan?



Penulis:    Riza Muhammad
Editor:      Thiara

Cangkeman.net - "Jangan melihat buku dari sampulnya saja"

Rasanya, pernyataan di atas relevan untuk meredam pikiran negatif, baik di kepala atau di hati. Sebab, banyak keadaan orang lain yang tidak kita ketahui dan tidak perlu juga kita tahu apa yang ada padanya.

Sekalipun kita tahu, tidak penting juga mengurusnya. Salah-salah, kita justru malah menghakimi tanpa kejelasan informasi hingga membuat seseorang tersebut putus asa. Lain halnya jika ia meminta validasi, maka perlu ditanggapi dengan catatan jangan membuatnya merasa dihakimi.

Pernyataan di awal tulisan keluar begitu saja sewaktu saya asyik kongko bersama teman-teman selepas berziarah kubur. Entahlah, seingat saya kami sedang berdiskusi panjang lebar tentang fenomena keagaaman. Maka ketika sampai pada pertanyaan siapa pemegang otoritas hukum ketika Rasulullah Saw hidup? Bahwa benar, Nabi lah pemegang Otoritas sah ketika beliau masih hidup.

Lalu, munculah cerita tentang bagaimana Nabi tak pernah memutus harapan umatnya kepada Tuhan. Rasulullah Saw justru membuka pintu menuju Tuhan seluas-luasnya, karena memang Yang Kuasa tidak pernah menutup pintu-Nya. Saya rasa, cerita ini berhubungan dengan metode Nabi menyelami psikis seseorang dalam rangka merangkul umat yang sedang putus asa.

Ada satu riwayat dari Abu Lais Al Samarkand, bahwa waktu itu Abu Hurairah keluar masjid paling akhir selepas menunaikan salat Isya bersama Rasulullah Saw, tiba-tiba seorang perempuan berjilbab rapat berdiri di jalan, lalu ia bertanya kepada Abu Hurairah, "Aku telah berbuat dosa yang sangat besar. Apakah masih terbuka pintu taubat bagiku?"

Lalu Abu Hurairah katakan padanya, "Dosa apa yang telah kamu lakukan?"

"Aku berzina, setelah itu aku bunuh anak dari hasil perzinahanku,"

Abu Hurairah menjawab "Parah, celakalah kau. Demi Tuhan, tidak ada pintu taubat untukmu!"

Wanita tersebut seketika sesak dadanya kemudian jatuh pingsan.

Setelah kejadian itu berlalu, Abu Hurairah tertegun dan berpikir, kenapa aku memberi fatwa padahal Rasulullah Saw hadir bersama kita? Maka pada waktu pagi, Abu Hurairah menyambangi Nabi untuk menceritakan apa yang terjadi kemarin.

Nabi kemudian berkata pada Abu Hurairah, "Innalilaahi wa inna ilaihi rooji'un, celakalah engkau Abu Hurairah! Ada di mana kamu ketika ayat Qs. Al Furqan 68-71 turun?"

Cepat-cepat Abu Hurairah meninggalkan Nabi lalu berlari menelusuri gang di kota Madinah seraya berteriak, "Siapa yang dapat menunjukkan aku perempuan yang meminta fatwa padaku kemarin?" Sampai-sampai anak kecil menyangka Abu Hurairah gila.

Barulah di malam hari beliau berhasil menemukan wanita itu. Abu Hurairah memberitahunya tentang apa yang Rasulullah Saw katakan; bahwa masih luas pintu taubat baginya. Lalu wanita tersebut kembali sesak, kali ini karena bahagia. Ia berkata kepada Abu Hurairah, "Aku memiliki kebun dan kebun itu aku berikan kepada orang-orang miskin untuk penebusan dosaku."

Rasulullah Saw mengedepankan sifat welas asih kepada mereka yang berbuat dosa dengan tidak menakut-nakuti bahwa Tuhan tidak akan mengampuni sebab kedurhakaannya. Padahal, jika Tuhan Maha Perkasa, maka ia juga Maha Pengampun bagi mereka yang bertaubat.

Bahkan Imam Nawawi Al Bantani dalam Mirqatus Su'ud Syarah Sullamut Taufiq menyatakan di antara mereka pemegang otoritas hukum harus bersifat luas pengetahuannya sehingga mereka menghukumi, tetapi tanpa memutus-asakan harapan hamba kepada Tuhannya.

Sedangkan Muhammad Abduh berpendapat dalam Muqaddimah yang ditulis oleh Hasyim Shaleh dalam kitab Al Ijtihad wa Naqdul Al Islam karya Muhammad Arkoun; bahwa para khalifah, mufti, qadhi, dan hakim tidak boleh hanya memutuskan hal-hal yang bersifat remeh, apalagi sampai mengklaim dan mengontrol iman dan ibadah orang lain. Namun, mereka harus memutuskan undang-undang berperadaban dalam hal kewenangan sipil atau bisa dikatakan dapat memanusiakan manusia.

Dalam bahasa Imam Abu Hanifah, ketika beliau ditanya, "Berasal dari manakah engkau?" maka sang imam menjawab, "Aku berasal dari kelompok yang tak pernah mencela para sahabat, berkeyakinan dengan qadha dan qadar Tuhan, dan tidak mengklaim dirinya yang paling suci hanya karena sering berbuat baik, sedangkan ia menghujat keimanan para pendosa."

Riza Muhammad 

Alumni Pondok Pesantren Daarul Rahman dan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta. Sekarang sedang menempuh Pascasarjana di kampus yang sama. Ia pernah menjadi volunteer Perpustakaan Pelosok (Perpusok) di Desa Kampar Riau 2016 dan termasuk anggota Perhimpunan Masyarakat Pesantren Indonesia (PMPI).