NU, Sampah, dan Kiblat Peradaban

nu.or.id


Penulis:   Sayidah Chovivah
Editor:    Thiara

Cangkeman.net - 7 Februari lalu NU berumur satu abad. Sebelumya, saya mengerti bahwa warga NU memang banyak, tapi setelah perayaan satu abad NU saya baru menyadari bahwa sangkin banyaknya, "sangat banyak" masih terdengar tidak efektif. NU adalah organisasi muslim terbesar di dunia, dengan begitu para pembesar NU pasti sudah sejak dulu menyadari bahwa mereka memungkinkan untuk membuat pergerakan yang signifikan; mampu menjadi penggerak transformasi peradaban. Dalam beberapa hal NU telah membuktikan diri akan kemampuannya, bahkan kabarnya kini NU memiliki planning lebih besar dalam konteks Internasional.

Tak lain dengan saya, saya juga memiliki harapan besar terhadap NU. Terlepas dari sebatas organisasi, NU tumbuh besar dengan kemurnian menjaga prinsip-prinsip agama—yang mana setiap agama mengajarkan kebaikan—dan dalam hal ini NU merupakan organisasi Islam. NU membangun segala aspek yang bisa dibangun tanpa adanya kepentingan partai politik, dan tidak menutup diri pada perkembangan zaman, membuat saya dapat menaruh harapan pada NU. NU lah yang saya kira mampu memulai sesuatu yang dampaknya besar.

Dari semua harapan besar terhadap demokrasi, ekonomi, politik, peran aktif dalam penanganan konflik dunia muslim, atau lain sebagainya, saya hanya berharap agar kesadaran akan penanganan sampah terutama di Indonesia dapat menjadi lebih baik. Mengingat NU ini jumlah pasukannya banyak, lahir di Indonesia yang Indonesia sendiri memiliki banyak penduduk, tetapi kesadaran Indonesia terkait sampah saya kira masih minim. Maka secara tidak langsung, NU bisa dikatakan juga sebagai penyumbang sampah dalam jumlah besar. Bisa dikatakan orang-orang NU tidak cukup baik dalam hal kesadaran membuang sampah pada tempatnya.

Sebelumnya tidak bermaksud bagaimana, hanya saja semoga ini bisa menjadi perbaikan bagi diri saya, dan siapa saja baik warga NU maupun seluruh masyarakat Indonesia. Dalam hal ini, dilihat-lihat NU ini kan organisasi yang paling banyak memiliki acara kumpul-kumpulnya, dan dalam acara-acara itu sebagian besar ada konsumsinya. Ketika acara selesai, sampah konsumsi berserakan dimana-mana, kotor bukan main.

Tapi balik lagi, NU lah yang sering membuat acara dengan jumlah warganya yang banyak. Organisasi ini sudah cukup berumur, maka masalah di atas bisa jadi tumbuh turun-temurun. Tapi saya optimis bahwa masalah ini juga bisa teratasi dimulai dari NU itu sendiri.

Sebelum menuju pembahasan selanjutnya, mari saya bantu, bagaimana bisa kok seakan-akan saya melihat NU ini sebagai biang masalah dari sampah yang tidak dibuang pada tempatnya? Mari kita mulai dengan melihat dan berangan-angan, bagaimana kondisi kotornya lingkungan setelah acara haul dan khataman? Acara pengajian yang dihadiri satu kelurahan, di alun-alun ataupun lapangan? Terlebih ketika sampah-sampah di lapangan itu terendam air hujan? Air lumpur beserta rumput lapangan yang dipenuhi sampah plastik, setengah porsi nasi dan secuil telur bacem yang tidak habis dimakan; sungguh menjadi perpaduan sampah yang ah aku sampai sulit berkata-kata. Bayangkan saja bagaimana repotnya para manusia yang membersihkan semua itu nantinya.

Betul, orang bilang ini bagian dari ngalap berkah, mengambil kebaikan dari aksi sukarelanya membersihkan tempat—yang baru saja digunakan untuk orang-orang mengaji maupun bersholawat. Kemarin pun begitu, beberapa video berseliweran kondisi lingkungan Stadion Sidoarjo setelah perayaan satu abad NU yang banyak sampahnya, diikuti juga banyak sukarelawan yang mau membersihkan. Si pemosting video itu bilang sebagai aksi nyata dari ngalap berkah, mengabdi, dan lain sebagainya. Saya setuju pakai pol! Saya ikut senang dengan banyaknya relawan yang ikut andil. Apalagi orang-orang itu ya orang NU, karena istilah mengambil berkah seperti ini populer di kalangan NU.

Saya ikut terharu, tidak muda, tidak tua, mereka bersatu untuk membersihkan lingkungan.Tapi dibalik semua rasa bahagia itu, ada rasa prihatin yang muncul. Beberapa pertanyaan dan pernyataan hadir dalam pikiran: Mengapa tidak para manusianya saja yang peduli lingkungan sejak awal? Mulai dari merawat sampahnya masing-masing yang mereka ciptakan sendiri. Bukankah akan lebih mudah? Bukankah kalau yang beraksi hanya relawannya, lama-lama mereka juga akan kewalahan dalam menangani sampah—yang orangnya semakin bertambah banyak? Toh, ketika kesadaran membuang sampah pada tempatnya itu sudah ada dalam setiap jiwa, maka semua tempat pasti sangatlah nyaman ditempati.

Mungkin ketika mayoritas sudah sadar akan pentingnya membuang sampah pada tempatnya, para relawan itu ada saja yang mengeluh perihal "Nanti bagaimana caranya mencari berkah?" sedang itu jalan ninjanya.Tapi bukankah masih banyak jalan yang dapat ditempuh selain memungut sampah? Jangan lah egois untuk mencari keberkahan dengan meraup semuanya sendiri. Bukankah ketika para relawan itu menurunkan egonya dan membiarkan, bahkan mengajak semua orang sadar terhadap lingkungan, bisa dijadikan berkah juga?

Toh, saya kira seharusnya para relawan juga akan bersenang hati jika gerakan sadar sampah ini dilaksanakan. Syukur-syukur kalau acara komunitas memungut sampah di pantai sudah tidak diperlukan lagi karena manusia sudah sadar dengan sampahnya masing-masing. Biarlah mereka membuat acara yang lebih fresh dan berkelanjutan lainnya.

Lalu, bagaimana cara agar sampah-sampah yang akan datang dapat ditanggulangi lebih baik? (dalam hal ini dimulai dari NU) Sebelum itu, jauh sebelum perayaan satu abad NU, keresahan saya terjawab.

Saat itu saya hadir dalam suatu pengajian umum di Kulon Progo. Dalam acara pengajian yang diisi oleh Habib Sayyidi Baraqbah, saya ingat beliau menghimbau kepada seluruh jamaah pengajian agar ketika selesai pengajian, jamaah membuang sampah pada tempatnya. Beliau juga memerintahkan para panitia agar menyiapkan tempat sampah atau setidaknya membuat tanda agar sampah diletakkan di beberapa titik agar tidak berserakan. Sungguh ini cara yang efektif.

Himbauan di atas turun langsung dari kyainya sendiri. Mendengar itu tentu saya senang, sampai-sampai dalam batin saya seperti ada semacam selebrasi "Habib, I love you," walhasil, saat pengajian selesai sampah pun berkumpul rapi. Ndilalah beberapa waktu kemudian ketemu pengajian yang diisi juga Habib Sayyidi Baraqbah, himbauannya sama persis dan prakteknya pun memuaskan hati.

Jika semua pengajian besar kyainya memulai—agar tak bosan menghimbau seperti yang dilakukan Habib Sayyidi Baraqbah—maka kesadaran masyarakat akan tumbuh. Seiring waktu, mereka menyadari pentingnya membuang sampah pada tempatnya. Tapi sayang, yang saya tahu pengajian seperti itu baru dilakukan oleh Habib Sayyidi Baraqbah dan beberapa kyai tertentu. Ini terbukti pada keadaan setelah perayaan satu abad NU kemarin.

Untuk membangun kesadaran membuang sampah pada tempatnya, saya kira, para pengisi utama acara-acara NU perlu meniru langkah yang telah dilakukan Habib Sayyidi Baraqbah. Tinggal para pembesarnya itulah yang berbesar hati tidak gengsi agar menyingkirkan perasaan 'ikut-ikutan' caranya habib Sayyidi Baraqbah. Saya yakin, Habib Sayyidi Baraqbah juga akan merasa senang jika langkah itu diikuti kami-kami ini.

Kalau mau gas pol, prakteknya juga harus dimulai dari acara kecil-kecilan seperti; tahlilan, arisan, rapat karang taruna, acara-acara IPPNU, dan sebagainya. Pokoknya begitu acara selesai, setiap orang membersihkan sampahnya sendiri. Nanti yang bagian nyapu-nyapu tinggal membersihkan debu yang rontok dari kloso (tikar).

Mau dimulai dari kesadaran bersama, atau dimulai dari rasa sungkan terhadap kyai, tidaklah menjadi masalah. Lama-kelamaan hal ini akan tertanam dalam setiap jiwa. Bisa dimulai dari warga NU yang luar biasa banyak, dilakukan serentak, maka kiblat peradaban kebersihan tidak mustahil diambil alih oleh NU melebihi bersihnya Jepang (yah optimis saja dulu).

Kalau NU sudah bergerak, insyaallah Indonesia mengikuti. Apalagi ini hal kebaikan yang sebetulnya fundamental. Gak melulu soal dalil النَّظَافَةُ مِنَ الْإيْمَانِ (Kebersihan adalah Sebagian dari Iman), kebersihan adalah sesuatu yang dibutuhkan setiap manusia.


Sayidah Chovivah 
Santri.Tetap makan masakan mamak meski sudah makan di luar.