Mengenal Rasi Bintang dalam Astronomi Jawa


Penulis:    Nurul Fatin Sazanah
Editor:      Thiara

Cangkeman.net - Istilah-istilah seperti Orion, Sagitarius, Aries, Ursa Mayor, Scorpio mungkin sudah gak asing di telinga kita. Itu semua adalah nama rasi bintang menurut ilmu Astronomi Barat. Namun, yang akan kita bahas kali ini bukanlah rasi bintang berdasarkan Astronomi Barat, melainkan rasi bintang dalam ilmu Astronomi Jawa.

Budaya Jawa memang punya ilmu astronominya sendiri. Sejak dahulu kala, masyarakat Jawa sudah mengenal rasi bintang dan menciptakan nama-nama khusus menggunakan Bahasa Jawa sesuai dengan pola bintang yang mereka lihat. Berikut ini adalah beberapa nama rasi bintang terkenal yang ada dalam ilmu Astronomi budaya Jawa:

1. Lintang Kartika
Dalam budaya Jawa, Lintang Kartika merupakan nama untuk menyebut bintang Pleiades, yakni kumpulan 7 bintang yang terdiri dari Alcyone, Celaeno, Electra, Maia, Merope, Taygeta, dan Sterope. Jika diartikan, lintang dan kartika sebenarnya memiliki makna yang sama, yaitu bintang. Dari penggunaan dua kata yang maknanya sama ini, disebut-sebut menunjukkan betapa orang Jawa sangat mengistimewakan gugus bintang Pleiades. Maksudnya adalah bahwa orang Jawa menganggap Lintang Kartika atau bintang Pleiades sebagai "bintangnya bintang".

Bintang Pleiades atau Lintang Kartika ini sebenarnya bukanlah rasi bintang, melainkan gugus bintang atau yang biasa disebut asterism. Bagi masyarakat Jawa, Lintang Kartika memiliki peran penting dalam dunia pertanian. Ketika gugus bintang tersebut berada pada posisi 50ยบ, maka ini menandakan datangnya Mangsa Kapitu atau musim ketujuh dalam kalender Pranata Mangsa. Dengan begitu, petani sudah bisa memindahkan bibit padi dari lahan pembibitan ke lahan utama.

2. Lintang Klopo Doyong atau Lintang Banyak Angrem
Astronomi Barat menamakan rasi bintang ini dengan nama Scorpio karena polanya dianggap mirip kalajengking. Namun, dalam astronomi Jawa lebih dikenal sebagai Lintang Klopo Doyong karena menurut pandangan orang Jawa, rasi bintang tersebut serupa pohon kelapa yang miring. Di sisi lain, ada juga masyarakat Jawa yang menyebut rasi Scorpio ini dengan nama Lintang Banyak Angrem.

Dalam budaya Jawa, Lintang Klopo Doyong atau Lintang Banyak Angrem menjadi penanda mangsa kalima atau manggala. Apabila rasi bintang ini muncul di langit, artinya musim hujan akan segera datang.

3. Lintang Waluku
Dalam ilmu Astronomi Jawa, istilah Lintang Waluku digunakan untuk menyebut rasi bintang Orion. Lagi-lagi, pola rasi bintang dalam Astronomi Jawa ini sedikit berbeda dengan Astronomi Barat. Rasi Orion merupakan gambaran seorang pemburu dalam mitologi Yunani, sedangkan dalam persepsi orang Jawa tidak terlihat demikian; melainkan lebih tampak seperti bajak sawah atau luku. Oleh sebab inilah, dinamakan Lintang Waluku. Masyarakat Jawa menggunakan Lintang Waluku sebagai patokan datangnya musim tanam.

4. Lintang Gubuk Penceng
Lintang Gubuk Penceng merupakan nama yang disematkan oleh orang Jawa untuk rasi bintang Crux. Meskipun konstelasi Crux berbentuk salib, tetapi dalam Astronomi Jawa agak berbeda, yakni digambarkan seperti gubuk yang agak miring atau penceng. Maka dari itulah, orang Jawa menamakannya Lintang Gubuk Penceng.

Bagi nelayan tradisional Jawa, Lintang Gubuk Penceng seringkali digunakan sebagai penunjuk arah selatan. Sebab, posisi rasi ini ada di langit selatan dan termasuk rasi bintang yang mudah diamati.

5. Lintang Pedati Suwung
Lintang Pedati Suwung adalah sebutan untuk rasi bintang Ursa Mayor dalam Astronomi Jawa. Lintang Pedati Suwung terdiri dari tujuh bintang besar. Penggambaran ini sesuai dengan pola rasi bintang Ursa Mayor yang memang terkenal mempunyai tujuh bintang besar, yaitu Alkaid, Mizar (Alcor), Alioth, Phecda, Megrez, Merak, dan Dubhe.

Kelima rasi bintang di atas merupakan pola bintang yang cukup terkenal dalam budaya Jawa. Meskipun ada perbedaan penggambaran pola bintang antara budaya Jawa dengan Astronomi Barat, ini bukanlah yang perlu diperdebatkan. Hal tersebut adalah sesuatu yang wajar—sebab, antar satu budaya dengan budaya lainnya terkadang memang memiliki perspektif berbeda dalam melihat pola rasi bintang. Dengan kata lain, setiap budaya memiliki pola bintangnya masing-masing.

Nurul Fatin Sazanah

Hobi menghayal, menggambar, dan menulis.