Bikin Caption Mengadu Pada Tuhan Tidak Lebih Efektif Daripada Mengkomunikasikan dengan Hamba-Nya

Monica Flores on Unsplash

Penulis:        Sayidah Chovivah
Editor:          Fatio Nurul Efendi

Cangkeman.net - Pernah memiliki masalah dalam hal salah paham? Tentu sering bukan? Sudah ngaku saja sering biar saya enak membahasnya,kalau engga minimal iya-in aja biar cepet. Tentu bagi manusia kebanyakan,salah paham adalah hal yang tidak diinginkan karena memang keadaan (yang tanpa sadar) menimbulkan rasa saling sakit dan menyakiti.Tapi emang sih,banyak manusia yang tidak sadar kalau mereka sedang dalam kondisi salah paham. Ketidaksadaran itu membuat suasana semakin runyam. Penglurusan masalah sulit ditempuh, paling repotnya kalau kesalahpahaman itu terjadi pada dua orang yang saling mutungan (ngambekan). Sebab dampak dari mutungan itu kan diem-dieman yang bisa merembet jadi musuhan dan dampak buruk lainnya.

Merasa menjadi manusia yang sering bergelut dengan kesalahpahaman, saya jadi punya pandangan juga kekhawatiran perihal kesalahpahaman. Kekhawatiran saya muncul ketika ada Whatsapp Status yang menuliskan berbagai caption. Caption yang ditulis misalkan seperti ini "Seseorang yang terluka oleh lisanmu, bisa aja berpura-pura biasa saja di hadapanmu. Tetapi siapa yang bisa mencegah dia menceritakan rasa sakit hatinya pada Rabb-nya?.Berhati-hatilah,jangan sampai di hadapanmu ia terdiam. Namun di hadapan Rabb-nya ia tersendu-sendu sembari mengadukan namamu. Rasulullah bersabda :"Takutlah dengan doa orang yang terdzolimi,karena tidak ada hijab (penghalang) diantaranya dengan Allah.(HR.Bukhori & Muslim)". 

Caption di atas menurut saya biasa-biasa saja, lazim,dan tiada salah. Caption itu bernilai menasehati dan mengajak para viewers-nya untuk "Ayolah kita sama-sama menjaga perasaan orang lain, ayolah berhati-hati kalau ngomong sama orang lain".

Tapi nyatanya, tidak, kenyataan tidak semulus itu. Nyatanya saya memiliki kemauan untuk memberikan perlakuan lebih kepada caption itu. Karena caption itu ditulis oleh seseorang yang saya mengenalnya sebagai seseorang yang pandai menjaga lisannya, (bukan orang yang blak-blakan),memiliki background 'ukhtea-ukhtea', sekaligus penulisan yang seperti itu,saya menjadi antusias untuk memikirkannya.Toh saya ini juga merasa terwakili sekali dengan tulisannya salah satu author di Cangkeman.Ini linknya.https://www.cangkeman.net/2022/11/percayalah-posting-story-dakwah-setiap.html?fbclid=PAAab7ZKURc94Bp9_iObxWRBi-4e1J_K6pc3GIXIL5csavscqO3Qv4cYzxeew&m=1

Terlepas dari link itu,sebenarnya apa toh itu 'ukhti-ukhti' dan yang bagaimana,itu tidak terlalu penting bagi saya, tidak semua ukhti-ukhti itu buruk,bagus malah. Tapi yang menganggu itu,kalau meminjam bahasanya Cak Nun "Agama kurang diperkenalkan sebagai berita gembira dan janji cinta,melainkan sebagai tukang cambuk,pendera,dan satpam otoriter",ya tidak sebegitunya juga, sih. Tapi kalau ada petuah yang banyak berunsur "hayooolohh,jangan begini,jangan begitu,nanti kamu bla,bla,blaa" itu jujur saya kurang nyaman mendengarnya.

Balik lagi pada caption status itu. Saya tidak ada masalah dengan caption itu, hanya saja saya ingin membuatnya lebih ramah. Mengingat diri ini sempat salah paham dengan caption itu. Awalanya, menyimpulkan caption itu alih-alih bermaksud "Ayolah kita sama-sama menjaga perasaan orang lain,ayolah berhati-hati kalau ngomong sama orang lain" justru saya malah asik berpikir dan khawatir kalau-kalau caption itu membuat orang mudah memanfaatkan dalil "Takutlah dengan doa orang yang terdzolimi,karena tidak ada hijab (penghalang) diantaranya dengan Allah", khawatir kalau-kalau orang-orang jadi mudah merasa ter-dzolimi dan berlomba-lomba untuk mengadu pada Allah. Mengaku-ngaku ter-dzolimi dan berdoa sesuka hati.

Maksud saya, manusia kan banyak luputnya, kalau dalam kenyatannya kamu terdzolimi itu ternyata hanya miss komunikasi bagaimana? Mungkin kita berdoa kepada Tuhan sambil merintih kesakitan, mengadu pada-Nya bahwa kita sedang didzalimi seseorang,dengan tanpa sadar, lalu ternyata seseorang yang mendzalimi itu justru adalah orang yang sedang mengaku kesakitan? Ibaratnya begini, kamu pernah (dengan sadar) curhat sama orang yang juga sering menjadi tempat curhat orang yang paling kamu benci? Engga kan? Ya kali begitu, tapi itu sama halnya kamu membenci orang yang berlari pada Tuhan yang sama. Ndilalah dia juga mengadukanmu pada-Nya, wah antik wal lucu. Dan ndilalah juga nemu qoute-nya Cak Nun yang nyambung "Mustahil kita mencintai sang pencipta jika kita masih membenci ciptaan-Nya".

Bukankah kalau hidup itu enaknya ya yang damai-damai saja, santai, tentram. Syukur-syukur bisa mencintai sesama manusia dengan kadar luar biasa, yang bisa seikhlas Sheila on 7 dalam lagu Dan keluaran 1999 yang liriknya seikhlas ini,"Lupakanlah saja diriku,bila itu bisa membuatmu kembali bersinar dan berpijar seperti dulu kala.Caci-maki saja diriku,bila itu bisa membuatmu kembali bersinar dan berpijar seperti dulu kala". Tingkat kecintaan yang mantap,bukan?

Kalau bahasanya Gus Baha kurang lebihnya begini,"Kalau mencintai itu, tidak hanya tidak menyakiti orang yang dicintai, tapi juga siap, sabar disakiti orang yang dicintai". Wah kalau saja semua praktek perdamaian itu bisa dilakukan serentak secara permanen, maka dunia ini benar-benar akan damai. Tapi,dunia ya tidak akan seru, bosan, dan tidak berkembang. Maka nesunan, konflik, jail ya sewajarnya saja. Biarkan sunnatullah berjalan semestinya, tak perlu diprotes, tapi setidaknya manusianya sadar untuk selalu berusaha menurunkan egonya demi kebermanfaatan bersama. Jadi, pasal mengadu pada Tuhan,kita sama-sama sibuk meminta pertolongan dalam rangka penyelesaian masalah. Bukan sibuk saling adu disakiti,tapi diri minim evaluasi.

Sayidah Chovivah 
Santri.Tetap makan masakan mamak meski sudah makan di luar.