Seni Mencintai ala Erick Fromm

Aya Canina on Medium


Penulis:        Sokhikhul Fahmi
Editor:          Fatio Nurul Efendi

Cangkeman.net - Cinta merupakan topik yang menarik dari zaman dulu sampai sekarang, bahkan mungkin nanti sampai masa depan. Apalagi di kalangan anak muda, cinta seperti sosok yang siap datang untuk menghantui dan berusaha menjamahnya sampai pada hati bagian paling dalam. Anak muda yang mulai mengenal cinta akan merasakan temuan dunia baru yang absurd tapi indah. Karena dengan hadirnya cinta akan membuatnya menemukan obat dari segala keadaan yang menyakitkan. Cinta memberikan warna baru. pengalaman baru, pandangan baru, motivasi baru, tujuan baru, bahkan baju baru dalam alur cerita sesorang.

Jika mendefinisikan cinta sebagai hal yang selalu ada di semua perkara maka akan menjadikannya berlebihan karena benci, kecewa, dan bosan juga siap datang dan berusaha dengan sabar antri menunggu penghianatan. Tapi ketika semua perkara jika didasari dengan cinta akan menjadikannya ikhlas dan berkualitas. Banyak tokoh yang membahas mengenai cinta, ada yang mencoba mendifinisikan sebagai perasaan yang bersumber dari libido atau hormon seseorang, ada yang beranggapan sebagai anugrah yang jatuh dari langit, ada yang mendefinisikan sebagai salah satu watak yang harus ditimbulkan pada diri manusia.

Tokoh yang berusaha mendefinisikan dan membahas mengenai cinta di antaranya adalah Erick Fromm. Ia adalah Ahli Psikologi Sosial yang mengarang beberapa buku yang salah satunya berjudul “seni mencintai”. Erick Fromm membahas Cinta karena terinspirasi dari tetangganya yang melakukan bunuh diri akibat galau berkepanjangan. Menyadari perkara ini cukup serius, akhirnya hal itu memberikan stimulus bagi Erick untuk membahas lebih dalam mengenai cinta.

Meskipun bagi sebagian orang judul buku ini terkesan agak alay, tapi di dalamnya begitu menarik mengenai uraianya tentang cinta. Diterangkan pada buku tersebut bahwa cinta itu sebenarnya watak yang harus dibangun mulai dari pikiran dan dibiasakan sampai menjadi karakter. Jadi pertama-tama, sebelum seseorang sibuk dengan mencari orang yang cocok untuk dicintainya, maka seharusnya terlebih dahulu menanamkan watak cinta di dalam dirinya. Selantutnya, ketika watak cinta sudah ada di dalam dirinya, maka semua orang bisa dicintainya meskipun caranya berbeda-beda (antara guru, tetangga, orang tua, pasangan, dll) dan bukan berarti poligami. Cinta menurutnya merupakan hubungan antara pribadi dengan dunia keseluruhan. Jadi ketika cinta hanya ada pada satu orang dan tidak peduli dengan yang lainnya, itu dinamakan egois. Cinta adalah bersatu dengan yang lain.

Cinta yang baik menurutnya seperti paradok kata ”dua makluk menjadi satu namun tetap dua”. Maksudnya bersatunya antara dua orang tapi dengan tidak menghilangkan keutuhan individualitas dari masing-masingnya. Seperti orang menikah berjanji untuk senang dan susah bersama, makan minum bersama, tidur mandi bersama tapi bukan berarti salah satunya mendominasi atau mengsubordinasi kepada yang lainnya. Jika demikian terjadi disebutnya sebagai kesatuan Simbiotik yaitu cinta yang menyerahkan diri kepada orang lain karena takut keterasingan dan keterpisahan. Jadi cinta yang matang adalah cinta yang produktif yang diawali dengan membentuk pribadi merdeka selanjutnya melahirkan kebebasan dengan selalu diimbangi pemikiran yang kritis dan orientasinya adalah memberi. Maka kata Erick Fromm Cinta itu “standing in” atau tumbuh bukan “falling for” atau jatuh.

Lebih lanjut mengenai buku tersebut bisa langsung cuss beli dan baca bukunya sendiri ya, karena di dalamnya masih buanyak pembahasan yang menarik seperti objek, problem, unsur cinta, dll.

Sokhikhul Fahmi

Mahasiswa IAI Tribakti. Ig @shokhikhul_fahmi