Pemasangan Kabel Memang Bisa Bikin Bete

 

Penulis: 
    Angga Prasetyo
Editor:       Thiara

Cangkeman.net - Salah satu risiko punya tempat tinggal di pinggir jalan adalah adanya kabel yang semrawut. Kebanyakan kabel yang ada milik provider internet. Mungkin gak masalah kalau sedikit, tapi kalau banyak? Pusing ngeliatnya. Terlebih kalau sampai menjuntai ke pekarangan rumah, bisa banget bikin senewen.

Januari lalu, salah satu keluarga saya menegur seseorang yang sedang memasang kabel. Inti tegurannya kira-kira begini, “Mas, maaf sebelumnya. Kalau bisa, jangan pasang (kabel) di sini, udah banyak.” Setelah ditegur dengan sopan, yang ditegur malah pura-pura budeg. Gimana gak makin jengkel?

Saya pikir, wajar dan sudah jadi hak juga untuk menolak seseorang yang memasang kabel lagi, karena kabel-kabel yang terpasang sudah memasuki area rumah kami. Kabelnya pun macam-macam; kabel dari provider internet, PLN, dan … wah, saya sampai lupa kabel apa aja. Tapi yang paling banyak dan sering pasang kabel itu berasal dari provider internet.

Sempat juga ada kejadian begini, setelah memasang kabel—ada salah satu kabel lain yang entah tidak dipergunakan lagi atau karena alasan lain—diletakkan begitu saja di atas carport. Mau menghujat pelaku, gak tahu siapa orangnya. Itu pun saya baru mengetahui saat ingin ngaso di balkon lantai atas.

Kali ini, petugas pemasang kabel agak banyak, sekitar empat atau lima orang. Saya melihat kabel yang akan dipasang agak besar daripada sebelumnya, cuma lebih kecil daripada kabel PLN. Saya menduga, kabel yang nantinya mereka pasang itu dari provider internet. Mereka masih pura-pura budeg dan tetap melanjutkan pekerjaannya. Barangkali karena saya anggota keluarga laki-laki yang keluar rumah, makanya salah satu dari mereka memberikan respon.

“Nanti bakalan rapi kalau tiang sudah terpasang.”

Tarik napas panjang, hembuskan, sabaaar. Ini hari libur, nggak perlu merasa jengkel. Apalagi sampai memarahi orang.

Akhirnya saya ngomong gini, “Mana ada, Mas. Urusan yang merapikan kabel, bukan dari orang-orang situ, kan? Tapi dari Sudin Bina Marga. Saya sudah melapor dua kali dan mereka datang, bukan dari perusahaan Mas-masnya.”

Kemudian, saya tunjukkan hasil pekerjaan dari pihak Sudin. Pertama, yang mengerjakan adalah petugas dari Pekerja Penanganan Prasarana dan Sarana Umum Kelurahan. Kala itu saya memberikan laporan melalui aplikasi JAKI yang langsung ditindaklanjuti. Dalam satu hari petugas selesai mengerjakannya.

Namun, tak lama kemudian, kabel kembali menjuntai. Saya pun membuat laporan lagi melalui aplikasi yang sama. Tapi kali ini petugas yang datang jauh lebih lama dari sebelumnya, baru ditangani 18 hari setelah pengajuan laporan. Bisa jadi, mereka mendapatkan banyak laporan atau faktor lain, tetapi proses pengerjaannya lebih rapi.

Saya lalu menceritakan bagaimana cara bekerja petugas pemasangan kabel selama ini yang melewati pekarangan rumah saya, gak ada yang beres. Asal sudah terpasang, ya sudah. Perkara rapi atau tidak, bukan masalah. Intinya tuh, hasil pekerjaannya asal-asalan.

Saya kembali berbicara kepada mereka, “Ya sudah kalau mas-masnya tetep ngeyel, ya, lapor dulu dah ke Pak RT. ”

Mereka akhirnya menghentikan pekerjaannya dan duduk di pos kamling, ada pula yang di pinggir jalan. Sementara saya, berdiri di depan pagar sambil merespon pembicaraan dengan tetangga jauh yang kebetulan lewat. Sikap saya tetap kekeh. Saya udah bete parah dengan banyaknya kabel yang melewati rumah saya.

Kemudian, saya mendapatkan kabar dari Pak RT yang meminta petugas kabel datang ke rumahnya. Namun, para petugas tersebut memutuskan untuk menghentikan pekerjaannya. Kabel yang niatnya akan dipasang, hanya digantung di tiang listrik. Sebagai penutup, saya katakan, “Maaf, ya, Mas.” tapi mereka melengos pergi. Ya sudah.

Hal-hal kecil seperti ini yang bikin bete abis. Saya pikir, tidak hanya saya yang merasakannya. Budaya kulonuwun alias permisi, semakin ditinggalkan. Seakan rasa peduli akan keberadaan orang lain kian menipis. Mbok ya tolong lah, jangan begitu.

Saya paham, mereka 'hanya' bertugas pemasang kabel. Maksudnya, perkara perizinan bukan pekerjaan mereka. Pasti ada suatu divisi yang khusus mengurusi hal ini. Memikirkannya, membuat saya punya asumsi yang tidak-tidak. Jangan-jangan, memang gak berizin?

Sependek pemahaman saya, perkara perizinan tuh ribet, membutuhkan waktu lama, dan juga biaya yang tidak sedikit. Terlebih untuk pemasangan kabel. Namun, bukan berarti hal-hal seperti ini dilewatkan begitu saja. Cuan jalan terus, urusan perizinan bodo amat. Sampai-sampai mengorbankan kenyamanan orang lain.

Pernah juga saya dan salah satu anggota keluarga sempat menegur. Awalnya bilang iya, tetapi mereka diam-diam memasang kabel. Akhirnya, bukan orang-orang seperti saya yang dirugikan, tetapi juga petugas pemasang kabel.

Bayangkan, seberapa sering mereka mendapatkan respon yang kurang menyenangkan ketika menuntaskan tugas dan tanggung jawabnya. Sebab ada pihak yang emoh lantaran propertinya dilewati kabel. Kalau di depan jalan, saya pikir gak masalah. Namun, kalau sampai masuk wilayah properti, sebagai pemilik sah-sah saja keberatan.

Untungnya, sehari kemudian, mereka memasang kabel tidak lagi melewati rumah kami. Sehingga kejadian kurang menyenangkan bisa diselesaikan dengan baik.


Angga Prasetyo
Kontributor ini masih malu-malu untuk menceritakan dirinya. Dapat ditemui di Instagram @anggaprass