Gali Lubang Tutup Lubang: Jalan Berlubang yang Terpaksa Diterjang


Penulis:        Sesiria Dwi Mustikasari
Editor:          Susi Retno Utami

Cangkeman.net - Utang di satu tempat saja belum lunas, eh minggu depan sudah bingung mencari pinjaman untuk menutup utang sebelumnya. Pinjam ke sana ke mari, yang penting tanggungan hari ini beres. Tapi besoknya sudah pusing lagi gara-gara desakan ekonomi yang setiap hari mencekik naluri. Kebutuhan pangan naik, buku sekolah anak perlu dibayar, tagihan listrik membengkak, belum lagi cicilan utang yang mesti dibayar. Ironi yang masih umum terjadi di masyarakat, menyedihkan memang.

Maka penting untuk kita melek pengetahuan dan perlu secuil memberi simpati terhadap masalah sosial yang jadi pendorong ketimpangan ekonomi di negeri ini. Ya kenyataannya seperti itu, masih ada saudara-saudara setanah air kita yang selalu khawatir masalah uang. Mau gimana lagi, apa-apa butuh uang. Realistis sajalah.

"Makanya kalau butuh uang ya kerja, jangan bisanya ngutang, terus enggak dipikir bayarnya pake apa!" ucap seorang yang keras hatinya, tajam dalam bertutur kata dan tak berpikir panjang untuk mencari tahu fakta yang sebenarnya.

Ehem. Mungkin ini maksud diajarkannya kelas ekonomi dan budi pekerti di bangku sekolah. Berusaha menyentil orang-orang yang dengan gampangnya mengkritisi kehidupan orang lain yang terdistraksi perkara utang. Padahal, utang pada dasarnya bisa menimpa siapa saja tanpa perlu memandang kelas sosial masyarakat yang diagungkan. Ada si miskin yang berutang, tentu ada pula si kaya yang punya utang. Bedanya hanya di nominal dan keperluan.

Si kaya pusing dengan tagihan kartu kredit yang nominalnya tak berani dibayangkan oleh si miskin dan orang awam semacam kita. Tapi tentu saja besarnya tagihan kartu kredit itu disesuaikan dengan kebutuhan dan gaya hidup si kaya. Sementara si miskin, berutang untuk menyambung hidupnya. Pendapatannya tidak cukup untuk menutup segala keperluan rumah tangga. Seperti banyaknya pengeluaran untuk biaya makan, transport, sekolah anak, dan belum lagi biaya dadakan yang tak diharapkan.

Kondisi finansial masyarakat yang serba kekurangan, kemudian memberikan peluang bagi bank plecit untuk melebarkan sayap di kelas ekonomi menengah ke bawah. Bagi orang-orang berpenghasilan kecil, uang Rp 500.000,- sampai dengan Rp 5.000.000,- sudah sulit untuk menemukan pihak yang sudi meminjamkannya. Peluang inilah yang mendorong bank plecit wara-wiri di lingkungan masyarakat ekonomi rendah. Menyasar masyarakat yang kekurangan, dengan iming-iming bantuan proses pengajuan kredit mudah tanpa jaminan, serta pencairan cepat tanpa syarat yang menyusahkan namun dengan bunga yang tak normal.

Kenyataannya, bank plecit masih eksis di lingkungan masyarakat. Mau bagaimana lagi, hanya mereka yang bisa membantu di kala kepepet. Angsuran yang tiap minggu mesti dibayar oleh nasabah menjadikan para penagih sudah tak asing berseliweran dan menggedor pintu tiap-tiap rumah. Kalau tak siap uangnya gimana?

“Ya disemayani/janjiin dulu saja,” semboyan ibu-ibu sekitar rumah yang masih akrab dengan bank plecit di negeri tercinta kita.

Kalau sudah kepepet harus bayar dan belum punya uang, lagi-lagi terpaksa ambil utang dengan sistem kepepet di bank plecit yang lain untuk bayar utang di bank plecit satunya. Terus saja begitu, sampai teori bumi datar terbukti wkwk. Toh nyatanya bumi masih tetap bulat.

Begitulah hidup, ada hitam ada putih, teratur siang dan malam yang silih berganti datangnya. Orang berutang, tentunya karena terdesak keperluan dan tuntutan tanggungan kehidupan. Kalau enggak utang, ya enggak makan. Cuma menjadikan gaji sebagai pegangan, tentu saja kurang. Gali lubang tutup lubang makanya jadi pilihan.

Berutang dan memberi utang bukan sebuah kesalahan, hanya sistemnya saja yang perlu diperbaiki. Semoga, kebobrokan tatanan ekonomi lekas direvisi oleh para petinggi. Membantu si miskin bukan hanya dengan bantuan uang, tetapi juga dibekali ilmu yang dapat dimanfaatkan. Tidak lupa juga untuk mengetuk hati si kaya, yang diharapkan lebih mawas dan berempati pada sesama.

Arigato.

Sesiria Dwi Mustikasari

Suka apa aja asal bikin nyaman.