Tips-Tips Membaca Buku Filsafat


Penulis:            Achmad Fauzan Syaikhoni
Editor:              Nurul Fatin Sazanah

Cangkeman.net - Sudah menjadi fakta bahwa filsafat adalah kajian ilmu yang sulit untuk dipahami. Ketika membaca teks-teks filsafat, agaknya sudah pasti kita akan pusing tujuh keliling dan butuh waktu yang tidak sedikit untuk bisa memahami. Dari mulai istilah-istilah asingnya, konsep-konsep abstraknya, hingga isi di tiap paragraf yang seolah berputar-putar dan tidak jelas maknanya seperti apa.

Tak hanya itu, masalah ketika membaca buku filsafat terkadang juga berdampak serius terhadap pemahaman seseorang. Alih-alih paham dan menguasai pemikiran filsafat, pemahaman tersebut justru bisa membuat seseorang jadi fanatik dan menolak pemikiran lainnya. Padahal salah satu nilai yang terkandung dalam filsafat itu sendiri adalah mengupayakan orang agar terbuka oleh banyak hal. Sebagai contoh, ada salah satu kawan saya yang sangat menguasai pemikiran Karl Marx. Dia begitu menyukai pemikiran Karl Marx dan hampir semua buku filsafat Karl Marx dia punya. Akan tetapi, ketika diajak diskusi tentang filsafat, dia selalu mengutip Karl Marx, berusaha menyambung-nyambungkan pemikiran Karl Marx dengan pembahasan diskusi, hingga seolah-olah hanya pemikiran Karl Marx lah yang paling benar dibanding yang lainnya.

Tentu, hal itu menjadi sebuah ironi, apalagi untuk seorang pemula yang belajar filsafat seperti saya. Bagi kalian yang sedang kasmaran dengan filsafat, tenang saja, jangan panik. Dengan kita mengetahui masalah-masalah tadi, di tulisan ini saya akan menyuguhkan tips-tips belajar atau membaca buku filsafat agar tidak sampai pada hasil yang negatif atau setidaknya nggak bingung-bingung amat ketika terjun di pemahaman filsafat.

Sediakan kamus

Saya berani menjamin ketika kalian membaca buku filsafat tanpa kamus, penyakit pusing tujuh keliling kalian akan bertambah menjadi pusing empat belas keliling. Pasalnya, buku filsafat itu nggak seperti buku-buku yang lainnya. Dia berisi banyak sekali bahasa-bahasa aneh, yang terkadang oleh sebagian orang disebut ‘bahasa langit’ karena mereka menganggap bahasa filsafat jauh dari pikiran dan realitas. Tapi yang sebenernya nggak begitu, kok. Anggapan itu lahir karena selama ini mereka belum pernah mengeksplorasi kosakata yang ada di kamus.

Jadi, hal yang pertama-tama harus kalian persiapkan ketika hendak membaca buku filsafat adalah sediakan kamus. Entah kamus fisik atau kamus digital. Tetapi, alangkah lebih baiknya lagi kalau kalian bisa pakai kamus yang khusus untuk filsafat. Sebab, Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) kadang nggak lengkap dan pengartiannya terlalu sempit untuk makna-makna yang bersifat filsafat. Tenang saja, ada banyak kamus filsafat di toko-toko buku online maupun offline. Harganya pun nggak terlalu mahal, kok.

Perhatikan konteks pemikiran

Membaca buku filsafat itu selain membuat kita paham tentang pemikiran filosofis, juga supaya membuat kita terinspirasi untuk mengkontekstualisasikan di kehidupan yang sedang kita jalani. Meskipun pemikiran filosofis itu mengangkat nilai-nilai universal, tetapi di beberapa kondisi dan situasi pasti pemikiran seorang filsuf itu mempunyai kekurangan. Kalau saya ilustrasikan, pemikiran para filsuf itu seperti halnya alat-alat. Ada yang seperti sendok, pisau, palu, gergaji, dan sebagainya. Jadi, tempatkan pemikiran seorang filsuf itu berdasarkan kondisi yang tepat. Misalnya, kalau mau makan, ya, pakai sendok, jangan pakai palu.

Untuk cara menempatkannya, kita harus mengetahui dulu bahwa lahirnya pemikiran seorang filsuf itu berkaitan dengan kondisi kehidupan sosialnya. Maka, tips kedua yang harus kalian lakukan ketika membaca buku filsafat adalah pahami terlebih dahulu biografi singkat atau latar belakang lahirnya pemikiran seorang filsuf itu. Setiap buku filsafat, hampir semuanya selalu ada latar belakang seorang filsuf, sebelum akhirnya menuju substansi pemikirannya. Tetapi kalau nggak ada, saya sangat menyarankan agar jangan malas-malas untuk mencarinya di internet. Kalian bisa mencarinya di Wikipedia, atau kalau mau lebih jelas lagi di Stanford Encyclopedia of Philoshopy.

Jangan hanya membaca sekali

Sekali lagi, buku filsafat nggak seperti buku-buku lainnya, apalagi seperti novel yang bisa tuntas bila hanya dibaca satu kali atau sekali duduk. Buku filsafat sangat butuh diperhatikan, agar sebuah pemahaman bisa masuk di pikiran. Sebagaimana seorang filsuf ketika melahirkan pemikirannya, mereka membutuhkan waktu yang tidak sedikit untuk merenungkan realitas hingga terstruktur menjadi pemikiran filosofis dalam tulisan-tulisannya.

Jadi, tips ketiga yaitu ketika membaca buku filsafat usahakan membaca setiap kalimatnya, paragrafnya, atau bahkan keseluruhan isi bukunya secara berkali-kali hingga kita benar-benar paham. Setidaknya dua kali kalau kita serius membacanya. Sebab, terkadang buku filsafat itu berubah-ubah maknanya kalau kita nggak benar-benar memahami isinya. Pun akan berbahaya jika kita hanya paham di batas permukaan saja.

Tuliskan apa yang didapat ketika membaca

Kalau sudah benar-benar paham, silakan kalian tulis apa saja yang sudah didapat ketika membaca buku filsafat. Menulisnya nggak harus lengkap seperti menulis esai atau resensi. Cukup dengan menulis poin-poin dan garis besar dari karakteristik pemikiran yang ada di bukunya.

Apa yang hendak kita tulis nggak harus yang sepaham dengan pemikiran atau isi bukunya, termasuk juga keraguan kalian atau kritik dari pemikiran yang ada di buku filsafat. Sebab, seorang filsuf itu manusia, sama seperti kita yang masih mempunyai banyak kekurangan. Justru akan hilang nilai filosofisnya jika kita hanya paham-paham saja tanpa menyelipkan keraguan di dalam buku filsafat. Selain itu, tujuan dari tips ini adalah untuk mengetahui sejauh mana perubahan pemikiran kita setelah membaca buku filsafat.

Sebuah pesan

Membaca buku filsafat itu memang membutuhkan kesabaran. Ketekunan untuk terus ingin tahu, dan keberanian untuk mengesampingkan keyakinan-keyakinan pun harus ada ketika benar-benar mau memahami filsafat. Tetapi, semua itu akan menjadi makanan sehari-hari kalau kita suka dan terbiasa bersahabat dengan filsafat. Bahkan, saya bisa jamin kalau kalian akan selalu membaca filsafat meskipun ketika belum bisa membeli buku filsafat.

Masalah-masalah ketika membaca buku filsafat itu sebenarnya hanya disebabkan oleh satu hal, yaitu kita nggak terbiasa memandang hal-hal kecil yang membentuk realitas. Kita terbiasa dengan yang praktis, hanya melihat hal-hal yang konkret (nyata) untuk diasumsikan sebagai sesuatu yang ‘ada’. Alhasil, ketika membaca filsafat seolah-olah ia asing dan jauh dari realitas. Padahal, kita harusnya tahu bahwa yang tak terlihat itu adalah unsur dasar hingga akhirnya kita bisa melakukan apa-apa.

Achmad Fauzan Syaikhoni
Manusia setengah matang, yang sedang fakir pengetahuan. Kalau mau menyumbang pengetahuan, bisa kirim lewat Instagram saya @zann_sy