Ibu akan Selalu Menjadi Orang yang Paling Repot


Penulis:            Sayidah Chovivah
Editor:              Nurul Fatin Sazanah

Cangkeman.net - Berbicara mengenai ibu, maka erat kaitannya dengan wanita, juga tidak bisa dipisahkan dari kehidupan rumah tangga. Berangkat dari kenyataan bahwa ibu adalah makhluk Tuhan yang lebih dimuliakan, maka tak heran jika peran wanita sebagai seorang ibu menempati posisi paling penting dan paling repot. Ucapan Kanjeng Nabi, “Ibumu, ibumu, ibumu,” sudah menjadi pembenaran yang sangat nyata bahwasanya peran ibu tak main-main. Tanpa perlu ditutup-tutupi, tanpa disuarakan, publik sudah tahu bahwa setelah sekian lama adanya emansipasi, wanita bersosok ibu tetaplah tidak pernah lepas dari kata repot.

Beruntung dan patut disyukuri, bagaimanapun di zaman ini sudah banyak pelaksanaan emansipasi wanita. Wanita belajar dengan layak, bekerja di tempat yang laki-laki atau wanita diperkenankan, bahkan sah-sah saja dan ada pula wanita yang belajar otomotif atau apalah yang anti mainstream lainnya. Yang demikian pun merembet perihal rumah tangga. Banyak yang sudah lekas melek bahwasannya tugas seorang istri tidak melulu tentang anak, dapur, dan kasur. Melainkan, bisa juga bekerja. Jadi, seorang laki-laki pun pantas menyapu rumah, mencuci piring, maupun mengurus anak. Yah, keduanya ikut andil sesuai porsi dan kebutuhannya masing-masing.

Tapi tulisan ini tidak dibuat untuk mengagungkan wanita dan tidak dibuat untuk me-ratu-kan wanita. Bukan berarti merendahkan, hanya saja belajar napak alias biasa aja. Tidak muluk-muluk, tidak histeris, melainkan realistis. Catatan yang perlu diingat ialah, praktek lapangan sebagai seorang wanita dewasa tidaklah seistimewa itu dan tidak selurus itu.

Sebagaimana takdirnya, wanita itu ya melahirkan, memandikan si kecil, membuat kopi, menyetrika, menyapu kamar hingga halaman rumah, menyiapkan oleh-oleh untuk silaturahmi, menyiapkan makanan sebelum pergi biar kalau pulang dari silaturahmi tidak grubyugan (tergesa-gesa masak). Wah, kalau begitu emansipasi wanita tidak jalan, dong? Bukan begitu, kan sudah aku dibilang sejak awal bahwa keduanya ikut andil sesuai porsi dan kebutuhannya masing-masing. Kalau laki-laki kan takdirnya menafkahi, maka sang wanita bantu-bantu.

Kalau ada wanita normal yang ingin berumah tangga tapi cuma ingin enaknya saja, ingin bebas sebebas-bebasnya, dan masih sulit menerima akan takdirnya sebagai wanita, repotnya wanita, maka cobalah berpikir dan tanyakan pada dirimu, yang kamu pikirkan itu sekedar yang kamu inginkan atau kamu butuhkan? Itu fiksimu atau benar-benar bisa terjadi? Sebab, sekeras apapun kamu menolak, memang begitulah garisnya.

Laki-laki dan wanita tidak bisa disamaratakan. Lagi-lagi, andil sesuai porsi dan kebutuhannya masing-masing, dan itulah yang dinamakan adil. Karena wanita dan laki-laki itu beda spesies, beda sifat, beda cara, dan tentu beda kebutuhan. Kekuatan fisik pun juga beda. Toh, mereka saling ada kan untuk saling melengkapi. Memang sudah modern, tapi sekali lagi ingat bahwasanya ada sunnatullah semandiri-mandirinya wanita senang kalau disayang, wanita lebih peka dan mudah terbangun ketika si kecil bangun, mandinya lama, panikan, nangisan. Lelaki juga begitu, banyak usilnya, lebih memegang erat ‘pikir keri’ atau pikir belakangan dan boleh dibilang minim kepekaan soal tata letak barang rumah tangga. “Kalau lelaki itu mau berangkat silaturahmi, berangkat ya tinggal berangkat. Nggak paham, suka nggak sadar ternyata ada istri yang paling banyak bergerak menyiapkan oleh-oleh bagusnya apa, pantasnya apa. Menyiapkan si kecil dari mandi, pakai baju dan seperangkat bedak, hingga menyiapkan konsumsi si kecil. Dan hebatnya, ibu masih kuat dan sempat untuk berdandan nyetil, bedak tujuh lapis, gincu lima lapis, dan jilbab licin yang tidak pernah tertinggal.” Begitulah menurut pengalaman kebanyakan orang. Namanya juga perempuan, high heels yang menyiksa pun diterjang.

Yah, jadi wanita, khususnya ibu memang merupakan makhluk yang serepot-repotnya. Aku ini benar-benar menekankan bahwa jadi ibu itu repot, susah. Hal ini harus benar-benar disadari. Kesadaran akan hal itu bukan digunakan untuk negatif thinking kalau bebrayan atau berumah tangga itu susah, dan mending nggak usah. Bukan begitu, melainkan agar kita waspada kalau bebrayan tidak hanya perihal enak. Agar calon-calon ibu ini tidak terlalu kaget, sehingga jika terjadi sesuatu kita dapat fokus pada solusi. Justru hal tersebut bisa digunakan untuk bersyukur pada Allah dengan cara menyadari kalau peran ibu itu penting, dan dengan peran yang sepenting itu maka perilaku foya-foya (ingin dan memaksa di-ratu-kan) patut diurungkan. Kalau paham peranannya penting, harusnya kita juga tahu seberapa besar hal-hal yang perlu kita korbankan untuk kepentingan keluarga.

Pak kyai yang namanya besar dan berhasil membawa muridnya berperilaku baik juga tidak kalah dengan tirakatnya dan tak henti-hentinya memberikan contoh yang baik. Lionel Messi juga sibuk lari-lari sebelum akhirnya menjadi hero piala dunia 2022 bagi Argentina. Tapi ibu adalah pahlawan tawadhu' yang sesungguhnya. Keberhasilan ibu dalam mengantarkan keberhasilan karir suami dan kesuksesan anak dalam meraih cita-citanya, atau kesuksesan untuk menggiring anaknya menjadi manusia yang seutuhnya tidak akan muncul di koran, majalah, apalagi TV. Perannya paling-paling diakui dan diingat ketika hari ibu, itupun kalau ingat. Masih memungkinkan trending di acara bisik-bisik tetangga, misalnya ketika anaknya Bu Nananina sukses, itupun yang disebut bisa saja bapaknya bukan ibunya. Ya begitulah, keberhasilan yang sesungguhnya tidak diukur dari seberapa besar namanya, melainkan apa yang sudah diperbuatnya, karena banyak di negeri ini yang sekedar nitip nama. Eeh.

Dengan demikian, kita mungkin belum siap akan keruwetan itu, namun bekal pengetahuan sudah terbayang. Maka, bekal dari sekarang yang perlu disiapkan adalah menata hati, pikiran, dan mental. Agar ketika sudah sampai pada saatnya, membuat kopi untuk bapak menjadi aktivitas ibadah yang mudah dan menyenangkan tanpa memerlukan jasa bibi-bibi. Biar bibi-bibi itu bekerja di tempat yang membuat ia merasa kaya dan bersemangat. Melihat kepolosan si kecil yang memang pemahamannya belum sampai itu adalah ‘jalan ninja’ untuk tertawa melepas lelah. Lalu, memandang anak sebagai penerus sujud, sehingga menaruh cita-cita pada keturunan itu bukan perihal ia harus jadi dokter. Dan dengan begini semoga para lelaki calon-calon suami juga sadar, juga mulai belajar, mulai niat, pada saatnya nanti untuk menyayangi istri masing-masing dengan sepenuh hati, untuk saling menjaga kewarasan agar setiap anggota keluarga baik-baik saja.

Sayidah Chovivah 
Santri.Tetap makan masakan mamak meski sudah makan di luar.