Sudah Miskin, Arogan Pula


Penulis:        Ahmad Nur Faizi
Editor:          Fatio Nurul Efendi

Cangkeman.net - Kalian mungkin sering lihat atau dengar kalau ada orang kaya yang bertindak semena-mena. Bertindak yang secara umum dikatakan salah, tetapi mereka merasa benar dan tidak takut sama konsekuensinya. Sampai kita geram dan mengatakan “Lu udah salah ya salah, ga bisa jadi bener.”

Itu sikap aorgan mereka. Sikap yang membuat mereka merasa bisa melakukan hal apapun mau itu benar atau salah. Dan kalaupun itu salah, mereka bisa menutupinya dengan senjata mereka yaitu uang.

Orang yang dibilang kaya yang punya harta, uang, rumah, mobil yang banyak bahkan sampai tak terhitung punya sifat arogan wajar aja, kan begitu?

Memang ga semua orang kaya seperti itu dan ada beberapa yang memiliki sifat rendah hati, baik, sampai dermawan dengan orang lain.

Namun sudah sewajarnya manusia menjadi arogan jika dia merasa unggul dari orang lain, kan?. Apalagi dari segi keuangan dan kekuasaan. Ngga heran kalau kita banyak lihat dan dengar orang-orang kaya menindas orang yang miskin.

Mereka arogan seperti itu yaaa buat saya sendiri wajar karena mereka memiliki sesuatu yang berlebih.

Tapi kalau yang arogan itu yang kurang mampu atau kata kasarnya “Si Miskin” bagaimana? Wajar ga sih kira-kira?

Manusia jadi arogan bukan karena mereka kaya, tetapi karena miskin? Lucu sih saya dengarnya.

Saya sering lihat dan dengar lewat media sosial atau dari cerita teman-teman saya kalau ada orang miskin menjadi arogan. Salah satu ceritanya waktu pandemi sedang memuncaknya kemarin, ada seorang yang terbilang kaya memberikan sedekah setiap hari sabtu dan minggu kepada orang-orang yang membutuhkan. Dia membagikan sembako dan uang di rumahnya. Banyak orang berdatangan ke rumahnya untuk mendapatkan bantuan.

Namun suatu hari si kaya ini rehat dahulu dan nggak ngasih sedekahnya hari itu doang.

Orang-orang yang biasanya dapat bantuannya bertanya kenapa. Si kaya bilang kalau libur dulu untuk hari itu.

Bukannya pengertian lantas pergi, mereka malah bertanya “Jadi ga mau ngasih nih?" dengan nada mengejek dan merendahkan. Mereka terus bertanya dengan konteks yang sama seperti itu agak lama. Untungnya si kaya sabar menjawab mereka terus menerus sampai mereka pergi satu persatu..

Nah in nih, udah dikasih bantuan malah ngelunjak.

Yah kalau dilihat dari sudut pandang yang menerima bantuan bakal sedih sih soalnya ga dapat bantuan. Tapi yah tidak seperti gitu juga dong balasannya.

Heeyyy~

Bukan anda juga yang kena dampak dari pandemi, tetapi semua orang juga kena imbas.

Juga seharusnya mereka mengerti kalau tidak dipastikan mereka akan mendapatkan bantuan setiap saat. Bersyukur. Sudah dapat keringanan dari orang lain. Orang miskin dengan kearoganan seperti itu tidak cocok untuk mereka. Karena menurut saya sendiri menjadi arogan butuh syarat dan ketentuannya sendiri. Syarat dan ketentuan itu sudah saya jelaskan sebelumnya dan intinya yang pasti mempunyai harta dan kekuasaan. Minimnya punya harta berlebih lah.

Karena bagi orang kaya sendiri saat mereka sedang mengalami atau mencari masalah pasti bakal mereka tangani dengan uang. Nyari masalah dengan mencuri coklat di minimarket. Ketahuan bukannya bayar malah nyewa pengacara. Ngebut di jalan tol sambil mabuk. Kecelakaan dan bunuh beberapa orang, keluarga korban dikasih uang dan nyewa pengacara biar hukuman ringan.

Walau itu bukan perbuatan baik tetapi seperti itulah cara menangani masalah untuk golongan atas.

Sedangkan orang miskin punya apa? Ga punya apa-apa. Lah kok arogan?

Orang miskin cuma punya skill akting untuk menarik rasa iba dari masyarakat. Mereka bakal membuat suatu statement yang terlihat mereka seperti korban dan merendah-rendahkan serendah mungkin diri mereka agar masyarakat akan iba dengan mereka.

Contohnya kayak mereka yang membangun rumah di atas tanah yang bukan milik mereka. Saat digusur oleh pemilik tanahnya, mereka akan berontak dan menyuarakan “Ketidakadilan Bagi Orang Miskin”. Mereka tidak mau rumahnya digusur dengan alasan sudah tinggal lama lah, mau tinggal di mana lah, saya orang yang tidak punya lah, dan alasan-alasan lainnya yang memancing rasa iba.

Itulah modal mereka. Modal mereka bisa bersikap arogan.

Tapi ga semua orang yang kurang mampu seperti itu yah. Ada juga kok yang baik dan ga arogan.

Ahmad Nur Faizi
Bingung punya bakat apa.
Hari-hari hanya untuk berangan diri daripada beranjak diri.
Pas SD maunya jadi pelatih marching band, pas SMP maunya jadi penulis, pas SMA maunya kerja di Jepang, terus maunya jadi pro gamer, eh sekarang maunya tidur-tidur aja.

Hobbynya baca komik, baca novel, dan dengerin music.