Menjadi Manusia Romantik ala Khalil Gibran

Poem Hunter

Penulis:        Achmad Fauzan Syaikhoni
Editor:         Fatio Nurul Efendi

Cangkeman.net - Ketika membaca judulnya, jangan kira tulisan ini nanti akan memaparkan perkara-perkara romantik cinta-cintaan seperti halnya sama pacar atau kekasih kalian. Bukan. Manusia romantik yang dimaksud di sini adalah manusia yang menyadari keberadaannya terhadap kehidupan secara romantik. Jadi, kalau tidak tertarik sama pembahasannya, silakan men-skip sebelum kecewa. Tapi kalau penasaran, mari kita sama-sama memahami apa maksud dari Kahlil Gibran tentang menjadi manusia romantik.

Sebagian dari kita mungkin tak asing dengan nama “Kahlil Gibran”. Entah itu dari puisinya yang sering di-quote buat story di sosial media, atau yang secara serius mempelajari pemikiran Gibran lewat buku-bukunya. Yang jelas, ia adalah seorang penyair terkenal dari Lebanon, yang karya-karyanya tidak lepas dari hal-hal spiritual dan kemanusiaan.

Gibran semasa kecil, adalah anak yang pendiam dan jarang tertawa. Ia lebih suka menyendiri, mengamati, dan mengagumi alam semesta. Selain pribadinya yang introvert, kepintaran Gibran menafsirkan realitas dalam bahasa tak luput dari pengetahuan Ibunya mengenai bahasa Perancis dan Arab. Konon, guru pertama Gibran dalam menulis sastra adalah Ibunya sendiri.

Sudah, singkat saja biografi dari Gibran buat pengantar menuju pemikirannya. Kalau mau lengkap, silakan kawan-kawan meluncur ke mbah google. Di sana banyak sekali literatur yang memaparkan latar belakang kehidupan Gibran. Di tulisan ini, saya hanya fokus membahas pemikiran-pemikiran Gibran, khususnya di hal “romantisismenya terhadap manusia dan kehidupan”.

Gibranisme: Antara Sastra dan Filsafat

Pemikiran Gibran yang akan dibahas ini sebenarnya bertajuk filsafat. Oleh karenanya, ada sebagian kalangan menyebut pemikirannya dengan “gibranisme”. Tetapi karena Gibran sendiri adalah seseorang yang kental dengan dunia sastra, maka supaya kita nanti nggak gelagapan, penting mengetahui terlebih dahulu bagaimana keterkaitan antara sastra dan filsafat.

Dalam buku “Filsafat, Sastra dan Kebudayaan” karya Mudji Sutrisno, menyatakan bahwa antara sastra dan filsafat sebetulnya saling berhubungan, hanya saja perbedaan dari keduanya terletak pada cara pengerjaannya. Filsafat cara kerjanya diharuskan menafsirkan realitas secara sistematis, sedangkan sastra cara kerjanya menjelajahi realitas tanpa pretensi sistematis.

Keakraban antara filsafat dan sastra bisa dikatakan sebagai alat dan modal. Filsafat mengambil sastra sebagai modal untuk menafsirkan realitas secara sistematis, dan sastra menafsirkan hal-hal filosofis secara lebih komunikatif. Sifat dari keduanya cenderung abstrak, tetapi sastra lebih bisa menyentuh batin manusia karena orientasinya langsung pada titik realitas alamiah. Dari sinilah pemikiran filsafat Gibran nanti terlihat menarik.

Antara Rasa dan Intelek

Ciri khas pemikiran Gibran adalah penggunaannya dalam menafsirkan eksistensi lewat rasa. Senada dengan buku tadi, Gibran menganggap rasa itu alat yang dapat mencapai keseluruhan dasar dari realitas. Sedangkan intelek, fungsinya untuk menata apa-apa yang dihasilkan rasa secara sistematis.

Misalnya: kita menulis puisi ketika melihat keindahan gunung. Sebelum keindahan gunung itu ditafsirkan menjadi puisi, kali pertama yang muncul adalah eksistensi gunung dalam perasaan kita. Setelah itu, hadir semacam ketertarikan, yang akhirnya mendorong intelek untuk menafsirkan keberadaan gunung itu sebagai sesuatu yang indah dalam puisi. Jadi, Gibranisme menganggap bahwa apa-apa yang sudah ditafsirkan sekarang itu berasal dari rasa yang secara intuitif menghasilkan ketertarikan.

Apa yang disebut rasa dan intelek ini adalah fitrah manusia yang memiliki fungsinya masing-masing. Jika hanya menggunakan rasa, maka kita nggak bisa eksis secara konkret dan sosial. Dan, jika hanya menggunakan intelek, maka untuk eksis saja pun, ya, nggak bisa. Sebab, intelek hanyalah alat konversi, bukan alat aktualisasi. Jadi, menurut Gibran, menjadi manusia yang romantik, haruslah menggunakan kedua alat itu.

Relasi Diri dengan Alam

Gibran melihat keberadaan manusia dengan sangat menarik, yaitu bahwa manusia memiliki dualisme: manusia di satu sisi sebagai makhluk Tuhan, dan di sisi yang lain sebagai bagian dari alamnya. Dengan kata lain, relasi yang dihasilkan antara perasaan ‘mengada’ dengan alam, maka itulah hakikat eksistensi manusia.

Bagi Gibran, unsur romantik dalam keberadaan manusia nggak hanya di taraf bahasa saja, melainkan juga di taraf kesadaran diri yang selalu berhubungan dengan alam. Keberadaan ‘rasa’ jika merujuk pada sastra adalah alat yang memungkinkan alam sebagai ekspresi kesatuan diri dari manusia. Oleh sebab itu, konsep “eksistensi” di beberapa karya sastranya nggak hanya ditujukan pada manusia, tetapi juga pada segala apapun, termasuk benda dan alam. Seperti misal salah satu penggalan puisinya ini:

Aku mendengar anak sungai merintih bagai seorang janda yang menangis meratapi kematian anaknya. Dan aku kemudian bertanya, “mengapa engkau menangis, sungaiku yang jernih?" Dan sungai itu menjawab, "sebab aku dipaksa mengalir ke kota tempat manusia merendahkan dan mensia-siakan diriku dan menjadikanku minuman-minuman keras dan mereka memperalatku bagai pembersih sampah, merancuni kemurnianku dan mengubah sifat-sifatku yang baik menjadi buruk”.

Penggalan puisi di atas menunjukkan bahwa romantika kehidupan itu terjadi karena adanya hubungan antara gambaran mental dari eksistensi sungai, dengan eksistensi manusia. Segala tindak-tanduk kita nggak lepas dengan keberadaan alam. Oleh sebab itu, untuk kita bisa ‘mengada’ secara romantik, haruslah menyertakan alam sebagai kesatuan dalam keberadaan kita.

Catatan Penulis

Dari semua penjelasan tadi, kalau dirumuskan secara garis besar sebenarnya ada pada yang disebut “hukum alam” dan “makhluk sosial”. Kedua hal itulah yang menjadi alasan mengapa Kahlil Gibran selain disebut sebagai sastrawan, tetapi juga filsuf eksistensial.

Maksudnya, untuk menjadi manusia, yang pertama haruslah mengikuti hukum alam. Artinya, segala tinda-tanduk manusia itu tidak lepas dari hal yang transenden; di luar kesanggupan manusia. Kedua, fakta bahwa manusia hidup itu selalu berhubungan dengan manusia yang lainnya. Dua hal itulah yang harus berjalan beriringan dalam keberadaan manusia.

Misalnya: ketika kita malas berpikir dan belajar, lalu di suatu diskusi ada orang yang mengatakan pola pikir kita ‘dungu’, ya, berarti jangan marah. Karena itu sebagian dari hukum alam. Begitupun sebaliknya, kita jangan gampang menghakimi orang secara subjektif. Lihatlah manusia secara keseluruhan dari hal-hal yang melingkupinya. Mengada dan bersosialisasilah berdasarkan fitrah alam dan nilai kemanusiaan. Kalau dua hal itu sudah bisa dilakukan, maka itulah esensi dari menjadi manusia romantik.

Achmad Fauzan Syaikhoni
Manusia setengah matang, yang sedang fakir pengetahuan. Kalau mau menyumbang pengetahuan, bisa kirim lewat Instagram saya @zann_sy