Mengenang Pengalaman Magang di Rumah Sakit Jiwa


Penulis:            Angga Prasetyo
Editor:             Nurul Fatin Sazanah

Cangkeman.net - Karena rumah sedang direnovasi besar-besaran, sekalian saja memilah barang-barang yang sekiranya sudah tak berguna untuk dibuang. Saat melakukannya, saya menemukan laporan magang. Suatu kegiatan yang dilakukan ketika masih duduk di bangku perkuliahan di tahun ketiga. Melihat laporan bersampul oranye sebagai warna khas fakultas, membuat saya bertamasya ke masa lalu.

Magang merupakan agenda wajib bagi saya dan rekan-rekan mahasiswa lain karena sebagai prasyarat tugas akhir. Sebetulnya sih, kalau bukan alasan tersebut, saya malas melakukannya. Saya bukanlah mahasiswa yang gemar melakukan kegiatan macam-macam saat berkuliah. Namun karena tak bisa dihindari, mau tidak mau harus dilakukan.

Sekedar catatan, fakultas membebaskan mahasiswa dalam memilih tempat magang. Tentu saja hal ini dipengaruhi dari tema yang tertulis dalam proposal magang yang telah dikerjakan mahasiswa. Selanjutnya, dosen akan memilih siapa saja yang akan dibimbing. Program magang memang mirip sekali dengan skripsi. Mahasiswa akan mendapatkan satu dosen pembimbing, mengerjakan laporan magang yang terdiri lima bab, yang nantinya akan diujikan di fakultas dan ada dosen penguji. Perkara ujian, di tempat magang pun akan dilaksanakan.

Seperti mahasiswa lain, saya pun tenggelam dalam kehebohan dalam menentukan lokasi program magang. Saya mulai mencari setelah sosialisasi magang diberikan, yaitu terjadi pada awal semester. Demi Tuhan, sulit betul mendapatkannya. Barangkali pada masa itu, saya masih sangat idealis, sementara kesempatan yang ada sangat terbatas. Saya ingin magang di rumah sakit jiwa. Sebuah keinginan muluk-muluk. Bahkan, dosen pembimbing sudah mengarahkan untuk mencari tempat magang lain dan memberikan tawaran di suatu instansi. Namun saya tolak.

Barangkali bagi pembaca, ada yang menganggap jenis instansi magang yang saya tentukan berkaitan dengan passion. Hah! Apalah passion. Persetan dengan itu. Bahkan jika ditanya sekarang, saya sama sekali tak bisa memastikan passion macam apa yang saya punya. Saya hanyalah manusia yang betul-betul malas mempelajari sesuatu yang baru. Hal ini berkaitan dengan jurusan dan peminatan yang saya ambil, yaitu Psikologi Klinis. Jika dikaitkan kemalasan dengan latar belakang pendidikan yang dipunya, rumah sakit jiwa merupakan lokasi ideal dalam menjalankan program magang. Tentu saja alasan ini tidak saya sampaikan saat menjalankan rekrutmen dan seleksi. Singkat cerita, saya baru mendapatkan kabar baik satu minggu sebelum semester berakhir. Lega bukan main.

Dibayar nggak? Oh, jelas tidak. Justru saya harus membayar uang administrasi. Tidak banyak. Jika ingatan saya tepat, sebesar dua puluh ribu rupiah. Program magang dilaksanakan saat liburan semester, sekitar bulan Agustus hingga hampir penghujung September. Adapun Supervisor Lapangan alias pembimbing magang sekaligus penguji di suatu rumah sakit jiwa merupakan seorang Psikolog Klinis Dewasa.

Terdapat kejadian yang menarik saat pertama kali memasuki ruangan bangsal. Saya mengalami kecemasan yang luar biasa. Bahkan saat kami berjalan menuju ruang bangsal, Pembimbing Lapangan berkata, “Tak perlu cemas, Mas Angga.” Kemudian saya balas, “Susah untuk nggak cemas, Bu.” Hal inilah yang membuat kami tertawa.

Akar kecemasan saya bisa jadi lantaran stereotipe tentang manusia-manusia yang mengalami gangguan jiwa berat. Perilaku mereka begini-begitu, dan seterusnya. Tingkat kecemasan semakin meninggi ketika kami tiba di depan pintu bangsal. Seakan-akan, pintu bangsal itu merupakan gerbang menuju dunia lain, di mana para penghuninya merupakan makhluk yang sungguh berbeda dengan orang-orang yang berada di luar bangsal. Terlebih setelah mengetahui bahwa hanya saya satu-satunya mahasiswa tingkat strata satu yang magang di sana. Sisanya, calon dokter. Di masa mendatang, barulah ada beberapa calon perawat yang “belajar” di sana.

Pintu bangsal dibuka. Saya terdiam sebentar, sebelum mengambil langkah menuju dunia lain. Ibu Psikolog masih saja menggoda, “Udahlah, Mas, tak perlu cemas,” kemudian ditambah, “Kalau terjadi hal yang aneh, silakan konsultasi kepada Kepala Bangsal.”

Dalam batin, saya berteriak, “Kalau terjadi apa-apa!” Diikuti pertanyaan, “Makhluk macam apa yang mendiami di bangsal ini?” Serta berbagai kalimat sarat dengan kecemasan terus lahir dalam pikiran.

Saya yakin, pada saat itu selain kecemasan, ketegangan merupakan sesuatu yang sungguh menyiksa batin. Satu pikiran yang membuat keduanya mereda adalah bahwa inilah konsekuensi atas pilihan yang telah saya diambil. Yah, barangkali juga sempat ada pikiran, seharusnya tidak perlu magang di rumah sakit jiwa. Namun pada akhirnya, saya tetap magang di sana.

Ibu Psikolog pergi setelah membantu saya untuk berkenalan dengan para pekerja di bangsal tersebut.

“Ya, Tuhan, apa yang harus saya lakukan sekarang?” Karena tak menemukan jawaban pasti, saya memutuskan berkeliling di ruangan bangsal. Ada semacam perasaan kurang menyenangkan ketika para pasien memandang saya. “Wah, ada mainan baru, nih.” Mungkin begitu yang ada dibenak mereka.

“Pak, pak. Sini.” Rupanya ada seorang pasien memanggil. Saya pun menghampiri.

“Sibuk, nggak?” tanyanya.

Saya jawab, “Nggak.”

Dan ia membalas, “Yuk, main catur.” Loh ya, diajak main. Ya sudah, saya terima tawarannya. Cukup banyak pasien lain nimbrung. Bikin deg-deg serr.

Memang, saya memenangkan permainan itu. Namun, bukan perkara tersebut yang membuat sumringah dan merasa enteng. Melainkan ucapan dari lawan bermain, “Nggak perlu tegang di sini, Pak. Dari tadi bapak malah mirip banget dengan orang gila. Sibuk sendiri. Saya jadi heran, sebetulnya yang gila itu saya atau bapak?”

Ucapan itu membuat suasana menjadi riuh gaduh. Saya tertawa ngakak dibuatnya. Sampai-sampai seorang perawat keluar dari ruangan untuk mengetahui keadaan macam apa yang sedang berlangsung. Saya memberikan isyarat bahwa semuanya dalam kendali. Tak ada yang perlu dicemaskan. Kalimat itu pun menerobos ke dalam jiwa saya. Tak ada lagi yang perlu dicemaskan di sini.

Terdapat salah satu pasien yang memandang saya dari kejauhan. Entah mengapa, saat saling menatap, ada semacam keyakinan bahwa kami akan memulai menjalani takdir bersama selama program magang berlangsung. Begitulah akhirnya. Saya memutuskan pasien tersebut menjadi objek pembelajaran dalam memahami dan mengembangkan kemampuan menegakkan diagnosis klinis untuk kasus pasien pengidap gangguan jiwa berat.

Dan memang berat prosesnya. Emosi capek, pikiran ya capek, tenaga apalagi. Hambatan terbesar yang didapatkan yaitu, keluarga pasien kurang kooperatif. Saya pikir, bukan status saya sebagai mahasiswa magang, melainkan tentang kasus pasien itu sendiri. Hal ini pun juga dibuktikan dengan salah satu berkas catatan pasien tersebut, keluarga pasien memang begitu adanya.

Pada masa itu, begitu banyak berita yang mengabarkan tentang ODGJ melakukan tindakan kriminal berat, seperti melakukan aksi pembakaran anggota keluarga, pembunuhan, berbagai jenis tindakan penganiayaan berat, dan seterusnya. Pun pasien yang saya jadikan sebagai objek pembelajaran. Mungkin karena ikatan takdir atau hal lain yang tidak terdefinisikan, meskipun merasakan berbagai rasa lelah, mengalami hambatan dalam menjalankan dan berhubungan dengannya, tak pernah sekalipun kesal.

Program magang berakhir sebelum semester baru dilaksanakan. Biarpun pada mulanya semua itu berasal dari rasa malas, mendapatkan kesempatan magang di rumah sakit jiwa merupakan pengalaman yang sulit dilupakan. Bisa jadi dikarenakan terdapat beberapa hal yang didapatkan hingga program magang berakhir. Salah satunya, menjadi sabar dalam menghadapi kegilaan. Bukan hanya kegilaan yang dialami oleh mereka yang mengidap gangguan jiwa berat, tetapi juga kegilaan sendiri.

Sigmund Freud pernah berkata, “Sejatinya, tak ada manusia yang betul-betul waras.” Saya pikir, pendapat bapak pendiri Psikonalisa itu betul adanya. Setiap manusia punya kegilaan masing-masing. Bentuknya beragam dan kadarnya pun bervariasi. Hal yang membedakan orang gila hidup di luar bangsal dengan mereka yang harus menjalankan terapi di sana, atau yang telah “lulus”, hanyalah kegilaannya masih bisa diterima oleh orang-orang sekitar atau tidak. Lagipula, nggak lucu juga punya latar belakang pendidikan kejiwaan, suatu saat malah menjadi pasien pengidap suatu gangguan jiwa.

Angga Prasetyo
Kontributor ini masih malu-malu untuk menceritakan dirinya. Dapat ditemui di Instagram @anggaprass