Kira-Kira Seperti Ini Pesta Pernikahan Saya


Penulis:        Thiara
Editor:          Fatio Nurul Efendi

Cangkeman.net - Setelah menjalin hubungan cukup lama, sepasang kekasih akan memikirkan jenjang yang lebih serius. Apalagi hubungan asmara di usia matang, jelas terbesit untuk mengakhirinya dengan pernikahan. Yang jadi pertanyaan, apa menikah semudah itu?

Di era sekarang, menikah identik dengan acara akad dan resepsi. Ada yang melaksanakannya dalam satu hari sekaligus, ada yang dibagi menjadi beberapa hari, atau bahkan mengadakan pesta hingga seminggu berturut-turut. Semua bukan cuma tergantung budget, tapi juga bergantung tradisi dan cara berpikir.

Gak jadi masalah kalau seseorang punya cukup uang untuk mengadakan pesta pernikahan yang megah; menjamu ribuan tamu undangan; hidangan ala restoran bintang lima; sampai cendera mata dengan nilai mahal. Semua sultan wajar menghamburkan uang untuk hal-hal semacam ini.

Oke-oke wait, bayangan saya kejauhan. Gak perlu bawa-bawa sultan, deh—di masyarakat pada umumnya aja—resepsi pernikahan itu tradisi wajib. Minimal ada tenda, panggung, dan artis yang menggiring tamu buat bersuka ria. Jangan lupa juga sepasang mempelai yang duduk memajang diri dengan busana dan aksesoris yang ruwet.

Memang, siapa sih yang gak mau merayakan momen sekali seumur hidup ini? Selain punya kesan tersendiri, resepsi pernikahan juga bentuk pengumuman melepas masa lajang. Iya, yang tiap tahunnya diteror oleh keluarga, tetangga, sampe warga satu RT; kelak gak akan lagi mendengar pertanyaan seputar status pernikahan.

Masalahnya, ada aja orang yang terlalu menghabiskan waktu, tenaga, pikiran, dan biaya buat hari pernikahan; ketimbang persiapan untuk kehidupan setelahnya.

Dari jauh hari, sepasang sejoli dan keluarga sudah merencanakan rancangan pernikahan; yang hanya diadakan sehari-dua hari. Biaya yang ditabung dari usaha menghemat dalam kurun waktu tertentu, ludes dihabiskan untuk menyewa gedung maupun dekorasi; yang cuma dipake dalam hitungan jam. Ya ... tradisinya emang begitu, sih. Tapi, wajar gak sih kalau saya kurang pro?

Karena biayanya yang cukup besar, gak heran ada beberapa orang yang terpaksa menjual aset demi mengadakan resepsi pernikahan. Mirisnya, ada juga yang rela meminjam sana-sini demi ngadain hajat yang 'gak malu-maluin' keluarga. Bukannya bahagia, selepas nikah malah dikejar hutang.

Tentunya, semasa SMA saya juga pernah punya impian menikah yang mevah; foto prewedding dengan nuansa 80-an, resepsi di gedung dengan dekoran berwarna pastel, gaun menawan yang senada dengan setelan keluarga, serta teman-teman yang menjadi bridesmaids di pernikahan saya.

Berbeda jauh dengan kenyataan orang tua saya yang nikah ala koboi. Selepas melakukan ijab kabul di KUA, mereka menyewa baju pengantin dan pergi ke tukang foto. Iya, tukang foto pinggir jalan yang jasanya lebih sering digunakan untuk nge-print dan cetak pasfoto. Setelah foto nikahnya jadi? Ya, selesai. Gak ada sewa-sewa WO, tenda, segala macem. Begitu sah, langsung cabut ke rumah. Gokil, emang!

Saat tau cerita dan alasannya, saya gak goyah untuk mewujudkan pernikahan impian yang wah. Sampai pada satu waktu, saya mulai bekerja dan merasakan rasanya nyari duit, suuulit bos. Apalagi pas saya iseng liat-liat katalog WO, buseet ... mahal banget! Paling murah itu di kisaran Rp. 10 jutaan, belum biaya lain-lain. Serius mau saya habiskan cuma untuk gelar nikahan? Enggak deh, ya. Buat ukuran saya, nominal segitu bisa digunakan untuk hal yang lebih primer; DP rumah, misalnya.

Selain itu, saya juga kurang setuju dengan konsep resepsi pernikahan pada umumnya, di mana mempelai wanita memakai make up tebal dan menahan memakai gaun yang kurang nyaman selama berjam-jam. Belum lagi, selama itu pula saya harus tetap tersenyum ramah menyambut tamu-tamu yang terus berdatangan. Ini acara saya, jadi seharusnya saya merasa enjoy dan nyaman, dong?

Dari sini lah titik awal saya mulai menimbang-nimbang pernikahan koboi. Ada kemungkinan, saya akan melakukan akad yang cuma dihadiri keluarga inti. Setelahnya, saya bakal langsung pamitan dan cuss ... ke rumah baru bareng suami (cialahh suami wkwk).

Kalau hajatan itu bentuk syukur, ya saya tinggal adakan syukuran; yang penting tamu makan enak. Atau, bisa juga rasa syukur tersebut saya wujudkan dengan sedekah ke orang yang betul-betul membutuhkan.

Lucunya, kadang saya menghayal acara nikah rasa tongkrongan; selepas akad, saya mau undang temen-temen buat main ke rumah. Selain parasmanan, saya suguhi juga cemilan, kopi, dan beberapa bungkus rokok. Pasangan saya bisa ajak teman-temannya nobar piala dunia sambil tebak-tebakan seperti musim sekarang. Saya sendiri mungkin bakal BBQ-an sambil bertukar gosip dengan teman yang lain. Dan yang paling penting, tamu wajib pake setelan kasual! Gimana? Nikahan saya asik, kan? (Masih hayalan, woi!)

Untuk kerabat dan keluarga yang jaraknya dekat, bisa saya kunjungi satu-persatu bareng pasangan. Silaturahmi yang gak cuma asal salam-salaman di pelaminan aja, tapi juga sharing dan bener-bener mengenal satu sama lain. Dengan begini, mereka tau siapa yang saya nikahi; dan pasangan juga makin paham, gimana seluk-beluk keluarga saya.

Jadi, begitulah kronologis nikahan yang masih terus saya kembangkan sebelum tidur.

Menurut saya, nikah koboi bukan gambaran dari sepasang pengantin yang gak punya modal. Kita cuma selektif ngatur uang. Karena biaya nikah yang gak sedikit itu sebenernya bisa digunakan untuk hal yang bersifat primer seperti membangun atau menyicil rumah, mengisi kebutuhan rumah tangga, persiapan persalinan, biaya pendidikan anak, tabungan keluarga, hingga biaya darurat. Siapa yang tau, kehidupan kedepannya akan seperti apa?

Yang jelas, gak masalah kalau mau mengadakan pesta pernikahan selama udah mengatur prioritas kebutuhan utama dengan tepat. Tapi, gak usah muluk-muluk deh. Gak usah peduliin apa kata orang, wong kita yang menjalani bahtera rumah tangga. Mengingat resepsi pernikahan cuma berlangsung hitungan jam, tapi rumah tangga? Seumur hidup.

Thiara

Suka nulis tapi males baca. Ayok kenalan di Instagram @thiara.yhiara