Jangan Dungu, Gempa Bumi Bukan Tanda Masyarakatnya Banyak Maksiat!


Penulis:            Thiara
Editor:              Fatio Nurul Efendi

Cangkeman.net - Sejak terjadinya gempa Cianjur beberapa waktu lalu, akhirnya kini frekuensi gempa susulan semakin jarang dan semakin kecil. Tapi gak cuma Cianjur, rupanya gempa-gempa kecil juga belakangan terasa di Sukabumi, Bogor, Maluku, Bengkulu, hingga beberapa daerah lainnya.

Sayangnya, masih banyak pihak gak bertanggung jawab yang menyebarkan video hoax tentang fenomena gempa demi konten belaka. Akibatnya, banyak emak-emak dan bapack-bapack yang tertipu dan jadi paranoid.

Seperti ibu saya, beliau rajin manggil saya cuma untuk memastikan kebenaran sebuah video gempa bumi. Akibatnya, hasil kekepoan ini bikin timeline saya dipenuhi berbagai postingan BMKG, wkwk.

Selain perkara video hoax, di media sosial sendiri, masih ada aja orang yang berkomentar receh dan sembrono seperti, "Pantes aja kena gempa, di sana kan banyak tempat maksiat," atau, "Gak heran kena azab, orang sana suka main ilmu hitam." 

Hal-hal di atas membuat sebutan 'netizen maha benar' emang gak salah lagi. Di tengah orang-orang yang terkena musibah, masih ada netizen dengan jari-jari kejam yang berkomentar bodoh. Heran gak, sih? Seolah setiap daerah itu bersaing dalam berbuat kebaikan; yang masyarakatnya kena musibah, berarti banyak dosa.

Yang gak habis thinking, ahli agama di tempat saya juga berpendapat serupa. Beliau beranggapan bahwa gempa yang menimpa Cianjur adalah buah akibat dari perbuatan maksiat masyarakat di sana. Seakan beliau dan warga sekitar adalah orang-orang suci yang jauh dari kemaksiatan, hahaha.

Secara logika, sebenarnya perbuatan maksiat yang dimaksud warganet gak ada kaitannya dengan gempa maupun fenomena alam lainnya. Mau taat agama sekalipun, kalau alam lagi gak baik-baik aja ya tetep kena dampaknya.

Toh, kita semua tau kalau Indonesia terletak di antara lempeng pasifik, lempeng Eurasia, dan lempeng Australia yang terus saling berinteraksi satu sama lain. Belum lagi, negara kita ini juga berisi gugusan gunung berapi di dunia. Jadi sebenernya, bukan hal aneh kalau suatu daerah diguncang gempa bumi. Justru faktanya, setiap hari Indonesia selalu mengalami fenomena alam ini, kok.

Memang, mungkin maksud netizen itu gempa adalah bagian dari peringatan Tuhan kepada hamba-hamba-Nya. Seperi kisah masa lalu di mana ketika terjadi gempa bumi, Rasulullah Saw akan menyentuh tanah dan berkata, "Tenanglah, belum waktunya untukmu." Mengingat bahwa bumi juga merupakan makhluk Tuhan yang bisa merasakan marah (pada manusia).

Kisah-kisah Rasulullah bersama para sahabatnya patut menjadi gambaran yang baik. Tapi, bukankah terlalu angkuh untuk berpikir bahwa kemarahan alam di suatu daerah disebabkan oleh kemaksiatan manusianya? Terlebih ketika kita sendiri juga makhluk yang berdosa?

Dari pada berpikir demikian, kenapa gak mencoba untuk berprasangka baik? Setiap hal kecil yang terjadi selalu ada alasan tersembunyi, apalagi gempa bumi.

Barangkali setiap nyawa yang hilang adalah bentuk kasih sayang Tuhan, sebab banyak orang-orang baik yang kelelahan dengan isi dunia. Bahkan orang-orang yang berlumur dosa sekalipun, kematian bisa jadi keringanan, sebab hidup berlanjut pun belum tentu tobat; malah menambah durasi siksaan, hehehe.

Jadi maksud saya, akan lebih baik kalau kita—sebagai manusia yang punya akal—bisa bijak dalam berpikir dan memberi anggapan. Apapun yang terjadi di muka bumi pasti ada alasannya. Enggak perlu menjadikan dosa kemaksiatan orang sebagai kambing hitam, kita gak cukup suci untuk berpikir begitu.

Dan lagi, kalau gempa bumi betul-betul bentuk teguran, bukankah kita juga termasuk objek sasarannya? Meski gak merasakan; kita semua melihat beritanya, merasakan dukanya, sebagian orang menjadi paranoid, bahkan ada yang mendadak taat ibadah.

Gempa bumi bisa dianggap sebagai peringatan Allah kepada seluruh manusia, bukan hanya untuk segelintir orang yang merasakannya. Di mana letaknya rasa kemanusiaan, ketika mulut berkomentar seenaknya pada mereka yang sedang dirundung duka?

Thiara

Suka nulis tapi males baca. Ayok kenalan di Instagram @thiara.yhiara