Emang Benar Kalau Depresi Itu Tandanya Enggak Punya Iman?


Penulis:            Siti Dianah
Editor:             Fatio Nurul Efendi

Cangkeman.net - Masalah penyakit mental sampai saat ini memang masih menjadi hal yang tabu di kalangan banyak orang. Seolah hal-hal tersebut tidak ada dan hanya drama yang dibuat-buat saja. Sehingga bukannya mendapat pertolongan, justru para penderita gangguan mental sering dianggap sebelah mata oleh orang-orang.

Rendahnya pemahaman masyarakat terkait gangguan mental dengan berbagai stigma negatifnya yang mengatakan, "Orang depresi itu ciri lemahnya iman," yang membuat penderita depresi atau gangguan mental lainya cenderung menyembunyikan keluhan-keluhannya bahkan tidak mencari upaya penyembuhannya.

Mirisnya, ketika penderita depresi mencoba untuk mengeluarkan apa yang ada di pikirannya, justru malah sering dihakimi yang membuat mereka semakin down dan lebih memilih untuk diam serta memendam apa yang dia rasa. Sedangkan hal semacam itulah yang akan menjadi bom waktu di kemudian hari.

Namun, tentu saja stigma-stigma buruk itu juga terjadi karena ada penyebabnya.

Lalu, kenapa orang depresi disebut dengan kurang iman?

Pertama, orang depresi memiliki gangguan pola pikir yang membuatnya tidak bisa berpikir jernih serta putus asa. Keputus-asaan tersebut seringkali dilampiaskan pada bunuh diri atau perilaku-perilaku yang cenderung melanggar nilai sosial maupun agama.

Seperti ada kasus seorang ibu yang membunuh bayinya karena tak terima suaminya pergi. Kemudian ada juga kasus seorang ibu yang menggorok 3 anaknya karena depresi, dengan motif anaknya lebih baik mati daripada harus merasakan kepedihan dalam hidup. Serta tak jarang pula, mereka melampiaskan amarah mereka pada minuman keras dan obat terlarang dengan tujuan supaya bisa lupa masalah.

Depresi menyebabkan pikir begitu buntu dan tak mudah tergoda oleh bisikkan setan, sehingga mudah untuk mereka melakukan sesuatu yang merugikan. Mereka sering kali berpikir untuk bisa lari dari kenyataan, lari dari masalah, serta berpikir bahwa mati bisa membuat mereka lari dari segala goncangan diri yang menyiksa.

Maka, dalam kasus orang-orang depresi, yang harus mereka pertahankan adalah pemahaman terkait agama. Itu yang bisa membuat mereka tetap bertahan.

Kedua, Kualitas ibadah jadi menurun.

Depresi itu menyebabkan seseorang merasa tidak memiliki energi untuk banyak bergerak dari tempat tidur. Seperti untuk berwudu, salat, dan ritual ibadah lainnya. Bukan hanya karena malas, tetapi memang mereka tidak lagi memiliki minat untuk melakukan sesuatu.

Sekadar untuk bangun dari tempat tidur saja membuat mereka cemas dan bahkan mereka sendiri tak ingin bangun lagi. Mereka selalu berpikir untuk menghilang dari kenyataan karena ketidaksiapan menjalani hidup yang dipenuhi gangguan psikis.

Ketahuilah, penyebab depresi itu bukan karena kekurangan iman, tetapi kekurangan dukungan sosial. Masalah yang menerpa seringkali tidak bisa dipecahkan, dan jika disimpan dalam jangka waktu lama akan mengakibatkan stress yang tak terkenali. Penyebab lain juga bisa karena faktor genetik atau keturunan, jadi tak ada hubungannya dengan masalah iman.

Lemah iman bukan penyebab depresi, tetapi depresi-lah yang menyebabkan iman melemah. Sehingga dalam keadaan seperti itu, bentuk arahan serta dukungan adalah kunci utama supaya mereka bangkit dari posisi terpuruk mereka.

Penyakit mental sama halnya penyakit fisik. Sama-sama untuk diobati dan bukan untuk dihakimi. Penyakit bisa menyerang siapa saja dan kapan saja. Jiwa yang sehat dan raga yang kuat adalah kunci bagi terbentuknya sebuah kebahagiaan.

So, jangan pernah menghakimi orang depresi. Kamu gak tahu seberapa tersiksanya mereka bertahan hidup dengan goncangan jiwa yang tak ada habisnya.

Stop men-judge orang lain tanpa tahu apa yang mereka rasakan.

Siti Dianah

Seorang penulis kelahiran tahun 2002 di tanah Cianjur. Saat ini dia masih menjadi seorang mahasiswi di Universitas Teknologi Nusantara, juga berprofesi sebagai guru honorer di salah satu sekolah swasta Cianjur. Baginya menulis adalah jalan hidup dan kewajiban, dengan menulis dia merasa bahagia dan puas.