Cara Albert Camus Menghadapi Quarter Life Crisis

Money Plus

Penulis:            Achmad Fauzan Syaikhoni
Editor:             Fatio Nurul Efendi

Cangkeman.net - 
Dewasa ini, terutama kalangan milenial dan zilenial kerap membicarakan situasi quarter life crisis, atau dalam istilah filsafat disebut krisis eksistensial: kondisi manusia yang gundah akan makna, tujuan, dan kebebasannya dalam memilih jalan hidupnya. Kondisi tersebut biasanya memunculkan pertanyaan-pertanyaan seperti: Aku hidup untuk apa? Apakah makna dari hidup ini? Apakah ada maknanya atau tidak? Apakah gunanya aku hidup di alam semesta ini?

Dalam filsafat eksistensialisme, kondisi semacam itu secara sadar ataupun tidak, sebenarnya didasari oleh perasaan bahwa kehidupan di dunia ini absurd. Apa yang kita upayakan dalam hidup ini serba tidak jelas makna dan tujuannya. Atas dasar perasaan itu, manusia kemudian mempertanyakan eksistensinya terhadap segala hal yang melingkupi dirinya.

Untuk membongkar kepelikan situasi tersebut, pada tulisan ini akan membahas salah satu aliran filsafat yang tidak kalah menarik dari eksistensialisme, yaitu “absurdisme”. Aliran itu digagas oleh Albert Camus, yang mana pada saat itu beliau mencetuskan pemikirannya sebagai kritik terhadap kehidupan modern di abad 20. Bagi sebagian orang, beliau bukanlah seorang filsuf-bahkan Albert Camus sendiri pun menolak sebutan filsuf dan eksistensialis-beliau justru lebih terima ketika disebut seorang sastrawan.

Meski demikian, karya-karyanya yang memang notabene bertajuk sastra, tapi di dalamnya sangat pekat dengan pemikiran-pemikiran filosofis, terutama yang merujuk pada eksistensialisme. Salah satu karyanya yang terkenal adalah “Mitos Sisifus”, yang dalam pembahasan kali ini menjadi referensi mengenai absurdisme dan kaitannya dengan krisis eksistensial.

Mengenal Absurdisme
Dalam pengertian filsafat, absurdisme merupakan aliran yang menyatakan bahwa makna hidup tidak mungkin ditemukan oleh manusia secara absolut. Sebab, manusia tidak akan menemukan makna dari kehidupan dengan eksistensinya yang masih berjalan terus-menerus di ruang dan waktu yang bersifat dinamis dan kompleks. Upaya apapun yang dimungkinkan manusia untuk menemukan makna absolut dari alam semesta, pada akhirnya akan gagal. Oleh karenanya, ketidakjelasan pada yang disebut makna hidup, ditafsirkan sebagai sesuatu yang absurd.

Namun bukan berarti absurdisme di sini seperti halnya ‘nihilisme’ yang menyatakan bahwa kehidupan tidak mempunyai makna; adalah hal yang sia-sia ketika menusia berusaha menemukan makna dari kehidupan. Kata “absurd” pada konteks ini bukan berarti tidak mungkin secara rasional, melainkan tidak mungkin secara manusiawi.

Kausa Absurditas
Absurditas hidup disebabkan oleh dua hal, yaitu yang pertama adalah terjadinya kontradiksi antara apa yang ada di dalam pikiran dengan apa yang terjadi di realitas. Perihal ini sudah umum kita ketahui sebagai problem eksistensial, biasanya kita menyebutnya ketidaksesuaian antara ekspektasi dengan realitas. Perasaan-perasaan seperti: overthinking, frustasi, stres, galau, itu sebetulnya secara fundamental disebabkan karena apa yang kita idealisasikan itu tidak relevan dengan yang terjadi di realitas. Di situlah absurditas hidup.

Kehidupan memang absurd, kita sebagai manusia yang punya pikiran untuk memproduksi idealisme, kadang kala dipaksa untuk meruntuhkannya demi tetap hidup dengan apa yang tidak berdasarkan idealisme. Kalau memang pada faktanya kehidupan tidak selalu sesuai dengan idealisme, lantas mengapa kita diciptakan dengan kemampuan bisa memproduksi idealisme? Kata Albert Camus: itulah absurditas.

Yang kedua adalah perihal upaya mendalami makna hidup sedalam mungkin, seluas mungkin, sehakiki mungkin, tetapi pada kenyataannya hal itu tidak pernah terjadi. Misalnya ketika hari ini kita memaknai hidup ini A, tetapi di kemudian hari belum tentu makna A itu masih tetap relevan. Kalau kita memaksakan makna A itu selalu relevan, sementara pada kenyataannya tidak A, maka itulah absurditas.

Lantas, bagaimana jika kenyataan hidup memang se-absurd demikian? Apakah benar-benar “benar”, bahwa sejatinya hidup ini absurd seperti yang dikatakan Albert Camus?

Analogi Absurditas
Sebelum lanjut pada cara menghadapinya, agar kita lebih mudah menangkap maksud dari pemikiran absurdisme, ada baiknya kita mengetahui kisah di dalam “Mitos Sisifus”, karya sastranya Albert Camus yang begitu representatif di kehidupan nyata.

Pada mitologi Yunani, ada dewa yang bernama Sisifus, putra dari Raja Aeolus. Sisifus ini nakal dan sering melakukan kejahatan, sehingga dewa-dewa lainnya menghukumnya dengan dimasukkan Sisifus ke neraka. Kemudian Sisifus mengaku menyesal atas perbuatannya, berjanji tidak akan mengulanginya kembali, dan meminta untuk dikembalikan lagi ke bumi. Tetapi, setelah kembali ke bumi, Sisifus kembali nakal dan melakukan kejahatan, walhasil dewa-dewa semakin marah, dan Sisifus dijatuhi hukuman paling mneyakitkan: mendorong batu ke atas bukit, tetapi setelah sampai atas, batu itu jatuh lagi ke bawah, lalu Sisifus dipaksa mendorongnya lagi. Sisifus melakukannya sampai akhir hayatnya.

Sekelumit kisah Sisifus di atas adalah gambaran dari absurditas hidup. Ketika manusia berupaya memaknai hidup, menentukan tujuan hidup sehakiki mungkin, sedalam mungkin, seluas mungkin, pada akhirnya semua itu tidak akan berarti karena pada kenyataanya akan terus berubah. Manusia selalu berputar-putar di situ: menerima masalah, menghadapinya, lalu setelah selesai, sebuah masalah akan muncul lagi. Kehidupan selalu menunjukkan misteri, dan manusia tidak tahu ending-nya akan seperti apa.

Menghadapi Absurditas

Setelah mengetahui analogi dari “Mitos Sisifus”, sebagian dari kita mungkin ada yang sempat berpikir, “Kalau hidup ini absurd, lantas mengapa kita masih tetap menjalaninya? Bukankah lebih baik bunuh diri saja?”

Albert Camus dalam “Mitos Sisifus” menyematkan prinsip, “Should I kill myself, or have a cup of coffe?” Maksudnya adalah ketika kita resah; sumpek karena absurditas hidup, lebih baik mana antara bunuh diri atau ngopi saja? Toh, kita juga tidak tahu apakah setelah mati nantinya akan bahagia tanpa adanya absurditas hidup?

Jika ada yang berpikiran menghadapi absurditas dengan cara bunuh diri, menurut Albert Camus itu adalah perbuatan pengecut. Sebab, manusia yang bunuh diri hanya menginginkan bahagia tanpa mau memberontak, sedangkan dalam eksistensinya ada kapabilitas; kemampuan yang dapat membuat dirinya tetap hidup; merasakan bahagia, meskipun di tengah absurditas.

Untuk menghadapinya, ada salah satu perkataan Albert Camus yang cukup ciamik untuk dibuat rujukan, “I continue to believe that this world has no ultimate meaning. But I know that something in it has a meaning and that is man, because he is the only creature to insiston having one”.

Makna yang manusia kejar tidak akan sampai puncak, karena ia mengejarnya merujuk pada alam semesta. Makna dari hidup ini ada di dalam diri manusia, oleh karenanya untuk tetap bisa hidup di tengah absurditas, Albert Camus menyarankan untuk memaknai setiap lika-liku kehidupan agar merujuk pada manusianya. Manusia adalah subjeknya, bukan objeknya. Di sinilah bau-bau sintesa Albert Camus dari nihilisme ke eksistensialismenya terlihat.

Kesimpulan
Absurdisme bisa dikatakan sebagai between two lines dari “eksistensialisme” dan “nihilisme”. Dengan kata lain, absurdisme memang secara jelas menyatakan bahwa makna sejati, absolut, dari realitas tidak akan ditemukan, tetapi justru dari ketidakjelasan tersebut memungkinkan manusia untuk mengakuinya, lalu memberontak agar eksis dan memberikan makna yang terlepas dari apakah makna tersebut sifatnya sejati, absolut, atau tidak.

Pada puncaknya, semua yang diupayakan manusia adalah meraih kebahagiaan. Dan, dari penjelasan tadi tentang absurdisme, dapat disimpulkan bahwa untuk medapatkan kebahagiaan, manusia harus merasakan; memaknai segala hal yang sudah melingkupi, bukan mencari di luar diri.

Achmad Fauzan Syaikhoni
Manusia setengah matang, yang sedang fakir pengetahuan. Kalau mau menyumbang pengetahuan, bisa kirim lewat Instagram saya @zann_sy