Adilkah Menilai Seseorang dari Tingkatan Sekolahnya?


Penulis:        Thiara
Editor:          Fatio Nurul Efendi

Cangkeman.net - Bukan lagi rahasia umum, dunia pendidikan adalah hal yang sangat penting bagi setiap orang. Di masyarakat kita sendiri, pendidikan kental kaitannya dengan lembaga formal seperti sekolah, pondok pesantren, tempat les privat, dan lain sebagainya.

Inilah yang jadi alasan klasik kenapa para orang tua dan kita sendiri berlomba-lomba bersekolah di tempat terbaik. Meski memang di luar sana masih banyak yang tidak begitu memedulikan soal 'yang terbaik' dari pendidikan. Mau lembaganya bagus atau enggak, yang penting sekolah; mau pinter atau enggak, yang penting lulus; mau minat atau enggak, yang penting jadi sarjana.

Gak ada satupun yang salah dari hal ini. Kita semua punya alasan sendiri dalam mengenyam pendidikan. Yang jadi permasalahan, masih ada aja orang yang menjadikan dirinya sendiri '"tumbal" demi kesetaraan sosial. Sayangnya, ini jadi titik mula terciptanya anggapan bahwa nilai seseorang terletak dari pendidikannya.

Kita memaksakan diri kita sendiri untuk mengikuti perkembangan jaman demi kesejahteraan sosial yang ada. Mengabaikan minat dan bakat demi diakui di tengah masyarakat—yang kini, setidaknya harus lulusan sarjana untuk jadi seseorang yang dihormati dan lebih dihargai.

Gak cukup sampai di sana, saya juga menyaksikan tradisi di mana anak seni dan sastra masih dianggap gak berguna di tengah masyarakat. Rambut gondrong, baju compang-camping, mau jadi apa? Nulis puisi-puisi gak jelas, mau dijadikan apa? Emangnya ada yang mau beli?

Berbeda dengan mereka yang berlatar pendidikan bidang kesehatan, hukum, teknik, hingga keuangan. Mungkin lebih sedikit mendapat hujatan dan kalimat-kalimat gak enak dari masyarakat. Pokoknya, orang-orang taunya mereka hebat aja.

Segi bidang dan tinggi rendahnya pendidikan punya pengaruh besar terhadap pandangan masyarakat. Beberapa orang mungkin aja terpaksa melanjutkan pendidikan karena takut dimaki keluarga dan orang sekitar.

Karena sebenarnya, meskipun sekarang ada banyak lembaga pendidikan yang bergerak di berbagai macam bidang. Ada orang-orang yang lebih ingin menekuni minatnya di dunia luar, seperti, ilmu pedalangan dan wayang, kesenian batik, pengrajin kayu, bisnis kuliner, pecinta alam, atau menjadi konten kreator.

Orang-orang sejenis ini mungkin terlalu berkaca pada kisah-kisah inspiratif, di mana lulusan SD juga bisa sukses, kok. Kalau memang begitu, ya apa salahnya? Horang mereka yang menjalani, pahit, manis mereka yang rasakan, kita punya hak apa untuk menilai keputusan mereka?

Lulusan SD, SMP, SMA, sampai sarjana punya tagarnya sendiri di tengah masyarakat. Yang duduk di bangku sekolah, meskipun udah 6 tahun, 9 tahun, sampai 12 tahun duduk belajar berjam-jam, masih ada ... aja yang dicap "orang gak berpendidikan".

Masih mending kalau seseorang putus sekolah atas keinginannya sendiri. Gimana ceritanya, kalau orang ini putus sekolah demi bantu ekonomi keluarga? Terpaksa mengalah karena biaya yang bentrok dengan pendidikan adik? Setelah ditampar kenyataan, penilaian yang didasari pendidikan bisa jadi luka tersendiri buat orang-orang tertentu.

Saya sendiri pernah merasakan diskriminasi di tempat kerja karena latar pendidikan. Saya dianggap gak punya sopan santun karena menanyakan perihal gaji. "Pegawai lain yang lulusan sarjana aja gak ada yang nanyain tentang gaji," begitu katanya. Lahh ... salah siapa, dari awal masuk saya gak dikasih tau sistem gajinya gimana? Lagian, sebagai pegawai baru kan wajar nanya soal gaji? Jadi, apa cuma lulusan sarjana yang boleh nanya soal upah? Hadeuhh ....

Yang saya gak paham, apa hubungannya sekolah dengan sopan santun? Coba liat deh, di KBBI sendiri pendidikan punya pengertian : proses mengubah sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan.

Oke, taroklah mengubah sikap dan usaha mendewasakan itu salah satunya berbentuk sopan santun. Tapi pada kenyataannya, sekolah secara umum hanya fokus dalam mengajarkan suatu bidang. Urusan kedisiplinan dan karakter pelajar tetap balik lagi ke anak itu sendiri.

Kita gak punya hak ngasih label karakteristik dan nilai hidup seseorang berdasarkan level pendidikannya. Hal begini yang bikin orang takut ambil keputusan karena stereotip yang ada. Sebagai contoh kecil: banyak cowok yang mikir dua kali buat ngelamar cewek "berpendidikan" karena dirinya sendiri bukan lulusan sarjana. Ngerti ya, maksudnya?

Jadi, sok-sok aja mau ngejar gelar demi menghindari respon negatif orang sekitar. Tapi ... jangan malah ikut-ikutan membedakan kasta orang lain dari segi pendidikannya. Buat apa juga melebarkan sayap di dunia pendidikan, kalau cara berpikirnya sempit banget kek kuburan!

Thiara

Suka nulis tapi males baca. Ayok kenalan di Instagram @thiara.yhiara