Telur dan Burung si Bujang


Penulis:        Angga Prasetyo
Editor:         Fatio Nurul Efendi

Cangkeman.net - “Orang Italia mengajarkanku bahwa di atas Tuhan, di atas anak-anak, di atas istrinya, dan di atas ibunya, yang paling utama dari seorang pria adalah mencintai penisnya.”

Ungkapan di atas yang dikemukakan oleh tokoh fiksi dalam drama seri Peaky Blinders bernama Jack Nelson. Diakui atau tidak, diungkapkan secara frontal atau samar-samar, setiap lelaki pasti mencintai penisnya lebih dari apa pun. Namun, bagaimana jika kepunyaanmu bermasalah?

Bujang, bukan nama sebenarnya. Tahun depan, tiga puluh dua usianya. Kebetulan sedang mampir ke ibu kota. Sedang perjalanan dinas, katanya. Karena sama-sama mampu meluangkan waktu, kami bertemu dan berujung membicarakan sesuatu yang tak lazim. Tentang penis.

Sebagai seseorang yang punya takdir hidup di negara religius, seksualitas merupakan tema pembicaraan yang tabu. Setidaknya, mampu membuat suasana canggung menggantung, tetapi perasaan ini sepertinya hanya saya saja yang merasakan.

“Lha, katanya lagi tak tau mau nulis apa. Ini loh kubantu. Tulis saja perkara ini.”

Sebelumnya, saya memandang ke bawah. Tempat si jagoan berkandang. Barulah ku pandang wajah laki-laki di hadapan saya, “Ada apa dengan penismu, Jang?”

Mikropenis dan Kriptorkismus

Permasalahan penis yang dialami Bujang sudah ada sejak lahir. Ukurannya tidak sesuai standar. Dunia kedokteran mengistilahkan sebagai mikropenis. Idealnya, rata-rata ukuran penis laki-laki dewasa sekitar sembilan senti. Terdapat pendapat lain mengatakan tujuh senti masih dibilang normal. Pada wawancara  dadakan yang kami lakukan, Bujang mengklaim, kepunyaannya kurang dari tujuh senti.

Sebetulnya, saya ingin sekali memastikan klaim Bujang secara langsung. Biar betulan riil gitu, tapi kok rasanya gimanaaa gitu, ya. Mosok iya, saya bilang sambil seakan-akan mau me-rudupaksa dia, “Ah, nggak percaya gue, Jang. Coba sini, sini, gue lihat.” Akhirnya, saya cuma bisa percaya saja dengan klaimnya. Saya pikir, ini keputusan yang teramat bijak.

Namun, Bujang punya masalah lain. Suatu kondisi yang disebut kriptorkismus. Seharusnya kedua buah zakar atau testis berkandang di kantong skrotum, sementara dalam kasus Bujang, salah satu testisnya melayang-layang di tempat lain.

Kriptorkismus atau undescended testis terjadi lantaran salah satu testis telat turun dari rongga perut ke kantong skrotum. Sama seperti kasus mikropenis, kriptorkismus sudah bisa dipastikan oleh dokter ketika bayi laki-laki baru saja lahir. Tidak dapat dipastikan betul-betul penyebab Bujang bernasib demikian. Sebuah kasus medis yang langka memang. Diperkirakan dalam 25 kelahiran bayi laki-laki, satu bayi akan berpotensi mengalami kriptorkismus.

Dari Semangat Berobat Hingga Putus Asa

Bujang tidak ingat betul usia ia mulai melaksanakan berbagai terapi demi alat reproduksinya normal. Biar seperti laki-laki kebanyakan. Namun, ia yakin sudah dimulai sejak masuk sekolah dasar.

Bujang mesti menghadapi jarum suntik seminggu sekali. Juga, menelan berbagai pil pahit yang harus ditebus setiap rawat jalan. Entah rumah sakit sebelumnya sudah angkat tangan atau memang yang terbaik, ia dirujuk ke rumah sakit yang lebih besar.

Di rumah sakit yang kedua, Bujang mendapatkan terapi yang lebih serius. Dia naik ke meja operasi saat duduk di kelas tiga sekolah dasar. Dengan tujuan si buah zakar yang gemar bertandang itu kembali berkandang. Menurut ingatannya, ini adalah masalah pertama yang harus dituntaskan oleh pihak rumah sakit. Selanjutnya, ia dirawat dua pekan sebelum diizinkan pulang.

Ternyata hasil operasinya gagal.

Si buah zakar tak betah berlama-lama di kandang. Dia kembali berpetualang. Malang betul nasib si Bujang. Punya buah zakar yang gemar wara-wiri. 

Awalnya kawanku ini tak begitu memahami akibat dari kelakuan si buah zakar. Maklum, pada waktu itu masih bocah. Pada akhirnya, ia tahu akibat yang harus ditanggung: tidak punya sperma dan tak punya bulu halus. Mau ketawa tapi kok sungkan.

“Mungkin, tujuan operasi tersebut agar alat reproduksi yang kupunya tetap normal, meski ukurannya tidak sesuai rata-rata.”

Barangkali asumsi yang dikatakan olehnya ada benarnya juga. Bujang lanjut bercerita tentang pengobatan yang terus dilakukan hingga masuk era putih biru, alias SMP. Pada tahap inilah ia merasa harus mengibarkan bendera putih. Menyerah.

Sebuah keputusan yang dibuat bukan atas ego sendiri, katanya. “Aku melihat ibu sudah mulai putus asa. Jadi, kuputuskan menyerah dan tidak mau menjalankan terapi pengobatan lagi. Biarlah begini adanya.”

Sambil klepas-klepus menikmati sebatang rokok, dia menambahkan, “Fungsi penisku sejauh ini cuma sebatas jalur air seni.”

Gambaran Tekanan atau Stressor yang dialami Bujang


Malu dengan Kondisinya

“Seandainya seperangkat alat reproduksi kondisinya sama denganmu saja, misalkan, bukan tidak mungkin saat ini, aku sudah mengawini perempuan.”

Menjalankan hidup dengan punya nasib mikropenis dan kriptorkismus bukanlah perkara mudah. Serangan rasa malu karena kondisi kelaminnya yang demikian adanya terkadang muncul tanpa tedeng aling-aling.

Pandangan demikian mempengaruhi bagaimana Bujang bersikap dengan orang lain. Dia mengklaim akibat kondisinya yang demikian, sering malu bila berhadapan dengan orang lain, khususnya perempuan yang sekiranya punya tanda-tanda ingin melakukan hubungan lebih dekat.

Enggan Berhubungan Lebih Lanjut dengan Perempuan

Masih berkaitan dengan poin sebelumnya, Bujang sering tidak memperdulikan kaum perempuan yang punya maksud ingin berhubungan lebih lanjut.

“Bukannya merasa sok ganteng, biar kondisiku begini, perkara potensi jodoh tak terlalu mengenaskan.”

Bujang mengorek-ngorek kenangan beberapa kali mendapatkan kesempatan saat perempuan menyatakan perasaan. Dia merasa senang pada awalnya. Namun, mengingat kondisinya seperti itu, dia selalu menolak untuk menjalani hubungan lebih lanjut.

“Lah, buat apa memberikan kesempatan pada seseorang jika ujungnya nanti kemungkinan besar bubar. Perkara menjalin hubungan dengan orang lain, jangan main-main.”

Bagi Bujang, suatu hubungan dibalut romansa pasti akan berakhir duduk bersama di pelaminan. Kondisi alat reproduksinya yang tidak normal menjadi alasan ia menutup rapat-rapat potensi hubungan macam itu. Alasan lainnya, Bujang sangat yakin bahwa ia tidak mampu memberikan nafkah seksual kepada perempuan manapun.

Mandapatkan Pandangan Negatif

“Memangnya siapa yang mau punya nasib seperti ini?”

Punya penderitaan mikropenis dan kriptorkismus terkadang bisa menjadi bahan ejekan. Bujang memberikan persamaan bahwa laki-laki yang memiliki ukuran penis normal, misalkan, akan marah saat dicela jika ukurannya dianggap kecil. Begitupun dirinya. Hal yang lebih menyebalkan lagi, hal tersebut disampaikan oleh keluarga besarnya sendiri. Rasa malu terbalut sakit hati bisa terasa berlipat-lipat.

Merasa Kesepian

Bujang mengatakan, perasaan kesepian kian menguat ketika baru masuk usia tiga puluh. Sebuah perasaan yang menurutnya berasal dari menjalani hidup seorang diri. Kesepian dan kesendirian merupakan suatu kondisi yang secara umum, bisa dihilangkan jika terdapat seseorang yang dapat mengisi keseharian. Juga, memiliki benefit untuk diajak bertukar pikiran, atau sekadar mengobrol hal-hal remeh sampai saling memberikan dukungan dan berbagai saran.

“Menjalani hari tanpa adanya kekasih rasanya sepi banget. Apalagi kalau kondisi finansial memang sudah baik dan layak berumah tangga. Kadang, ya, pengen punya pacar bahkan istri, tetapi mengingat kondisinya begini, nggak mungkin.”

Strategi Bujang Menghadapi Tekanan

Mengalihkan Stressor ke Aktivitas Lain

Untuk mengalihkan berbagai tekanan, baik bersifat internal dan/atau eksternal, Bujang melakukan berbagai kegiatan lain.

“Misalkan, saat perasaan sepi hadir, ya, tinggal ditenggelamkan dengan fokus menyelesaikan berbagai pekerjaan.”

Pekerjaan yang dimaksud tentunya profesi yang dipunya saat ini sebagai karyawan di salah satu perusahaan swasta. Bujang juga bercerita, tak jarang saat tidak ada pekerjaan lain yang harus dituntaskan, ia meminta pekerjaan tambahan. Bujang mengklaim sukarela lembur. Selama mampu menghilangkan berbagai pikiran dan perasaan negatif, tidak jadi soal.

Mencari Kompensasi

Mengalami kondisi mikropenis dan kriptorkismus, bagi Bujang merupakan dua daftar dari berbagai kekurangan yang dipunya. Menurutnya, dibutuhkan kompensasi tertentu untuk menutup kekurangan yang dipunya.

“Pernah denger nggak, saat seseorang punya suatu kelemahan atau kekurangan tertentu, ternyata moncer di aspek lain dalam hidupnya? Nah, itulah yang kulakukan.”

Dalam diri manusia, terdapat dorongan untuk menaklukan suatu hal. Tujuanya agar dipandang secara utuh. Sehingga, orang lain tidak hanya sibuk menilai hanya dari aspek kekurangan, melainkan juga berbagai kelebihan yang dikembangkan sepanjang hidup.


Dalam kasus Bujang, kompensasi yang harus didapatkan demi menutupi kekurangannya, salah satunya melalui jenjang karir. Bagi saya pribadi, karir Bujang sangat moncer. Pasca lulus strata satu, mendapatkan kesempatan karir program Management Trainee. Sekarang, Bujang menduduki Kepala Cabang. Keinginannya saat ini setelah menjadi Kacab selama beberapa tahun, ingin menduduki jabatan Subject Matter Expert atau SME. Suatu jabatan yang menurutnya sangat fenomenal di perusahaannya.

Berusaha Menerima Kondisi Diri

“Sebetulnya sekarang bisa saja kembali menjalani pengobatan dan berbagai terapi. Namun nggak kulakukan sampai sekarang. Bisa jadi, karena sudah mulai nyaman.”

Memang proses penerimaan diri terkadang dianggap klise. Namun buat Bujang, tak ada salahnya untuk hidup membujang sepanjang waktu sampai maut menjemput. Memang, saat menjalankan keputusan yang diambil, berbagai hal negatif bisa hadir. Namun baginya, ini hanyalah risiko yang terkandung atas pilihan.

“Tak masalah sesekali mengeluh. Buatku, normal. Toh, pada akhirnya, berbagai keluhan itu akan lenyap.”

'Mengangkat Anak'

Inilah strategi terbaru yang dilakukan Bujang. Dia mengatakan, baru-baru ini mengangkat anak dalam artian tertentu. Menurutnya, strategi ini sangat berdampak positif.

“Kan, mengangkat anak secara official, prosesnya ruwet banget. Lagipula, nggak bisa juga. Karena salah satu persyaratannya harus suami-istri. Sementara aku nggak begitu kondisinya.”

Bujang menjelaskan maksud dari mengangkat anak. Jadi, kawanku ini menjadi donatur di salah satu panti asuhan. Sebagai donatur, Bujang berhak memilih salah satu anak yang akan dibantu biaya hidup minimal sebulan sekali. Nah, uang yang diberikan nantinya untuk dibelikan berbagai tetek-bengek penunjang kehidupan si anak. Misalkan: popok, susu, dan lain sebagainya.

Pihak panti asuhan setiap saat akan mengirimkan kabar dan dokumentasi berupa foto atau video mengenai kondisi anak yang dipilih donatur.

Kemudian, Bujang juga bercerita tentang kabar si anak bahwa sudah bisa buang air di toilet sendiri.

“Tau, nggak, denger kabar begitu doang, rasanya seneng banget. Jadi nggak sabar kedepannya si anak bisa apa lagi. Muncul perasaan hangat dan nyaman, serta berpikir kalau kehidupanku bertambah lagi maknanya.”

Penutup

Setiap orang pasti punya masalah masing-masing dalam hidup. Dalam kasus Bujang, mesti menghadapi mikropenis dan kriptorkismus sepanjang waktu. Jelas, sangat memampukan lahir berbagai tekanan, seperti: malu dengan kondisinya, enggan berhubungan serius dengan perempuan, mendapatkan berbagai pandangan negatif dari berbagai pihak, sampai dirajam sepi.

Dari berbagai stressor yang didapatkan, Bujang menerapkan bermacam-macam strategi dalam menanggulanginya. Namun, yang mengesankan bagi saya, adanya upaya memanfaatkan dorongan menaklukan di dalam dirinya ke arah yang positif. Hal ini sangat penting. Mengingat setiap orang punya hendaya atau kelemahan tertentu, mengambil suatu aspek dan mengembangkan sepanjang waktu hingga bisa dibanggakan merupakan strategi jenius.

Terlepas apa pun kekurangan yang kita punya, jangan pernah lupa bahwa kita punya kesempatan untuk membuat diri menjadi lebih positif. Barangkali, jika lupa atau merasa tidak pernah bahagia, kita akan mendapatkannya melalui cara seperti ini.

Sebagai penutup wawancara kami, saya bertanya, “Lantas dengan kondisimu yang demikian adanya, kamu tetap pede menyebut dirimu tetaplah lelaki?”

Kemudian dia membalas, “Ya jelas dong. Perkara ini kan takdir yang nggak bisa diubah. Ini adalah identitas seksual yang sudah diberikan kepada Yang Maha Kuasa kepadaku, terlepas bagaimanapun kondisinya.”

Tak lupa, Bujang memberikan saya nasehat bagai orang tua, punya anak laki-laki yang bodoh betul dalam menggaet perempuan. “Kamu itu, ya, Ngga [Angga maksudnya. Merupakan nama saya], usia sudah tinggi, masih saja jomblo. Hati-hati loh, nanti burungmu menciut, testismu lenyap. Buruan cari pasangan. Atau mau dibantu? Saya ada nih…”

Asem!

Angga Prasetyo
Kontributor ini masih malu-malu untuk menceritakan dirinya. Dapat ditemui di Instagram @anggaprass