Sinopsis Film Perburuan

CNNIndonesia

Cangkeman.net - Film yang berjudul Perburuan merupakan film yang rilis pada tahun 2019. Film ini diadaptasi dari novel yang berjudul Perburuan karya Pramoedya Ananta Toer. Film ini adalah film yang berlatar belakang sejarah. Film Perburuan disutradarai oleh Richard Oh dan dibintangi oleh Adipati Dolken sebagai Raden Hardo, Ayushita sebagai Ningsih, Ernest Samudra sebagai Dipo, Khiva Ishak sebagai Karmin, Michael Kho sebagai Shidokan Dono.

Film ini berlatar belakang sejarah pendudukan Jepang, adegan pertama dalam film ini adalah olahraga Kendo yang merupakan seni olahraga berpedang asal Jepang yang menggunakan pedang kayu, dan alat pelindung diri khusus. Dalam olahraga ini Shidokan Dono berhasil mengalahkan Dipo seorang anggota Peta (Pembela Tanah Air), kemudian dengan sombong Shidokan Dono menantang prajurit Peta yang lain, sehingga majulah Raden Hardo seorang Shodanco (Pemimpin Kompi) dan dengan mudah Shidokan Dono berhasil dikalahkan, kekalahan ini membuat Shidokan Dono dendam kepada Raden Hardo.

Kartiman membawa laporan bahwa Shodanco Supriyadi dari Blitar akan melakukan pemberontakan kepada Jepang pada tanggal 14 Februari. Mengenai pemberontakan ini sebenarnya Bung Karno sudah memperingatkan Supriyadi akan kegagalan pemberontakan ini, namun Supriyadi tidak mempedulikan saran dari Bung Karno. Pemberontakan tersebut berhasil digagalkan, perwira Peta dan anggota Peta yang terlibat dalam pemberontakan diadili dan dijatuhi hukuman militer. Namun sampai saat ini keberadaan Shodanco Supriyadi tidak diketahui keberadaannya.

Kembali ke cerita, Raden Hardo memutuskan akan ikut serta dalam pemberontakan Peta, dan malam harinya akan menduduki markas Jepang di Blora, Raden Hardo mengumpulkan semua teman-temanya Karmin, Dipo, Kartiman. Namun Karmin tidak mau ikut dalam pemberontakan ini. Belum sempat mereka bergerak, tentara Jepang sudah mengetahui akan ada pemberontakan, rencana Raden Hardo bocor karena ulah Karmin. Di tengah perjalanan mereka disergap oleh Tentara Jepang. Raden Hardo, Dipo, dan Kartiman berhasil meloloskan diri.

Mereka memutuskan menjadi seorang kere atau pengemis, Raden Hardo memutuskan untuk bertapa di sebuah gua dengan hanya makan daun daun dan buah-buahan dari hutan. Sementara Dipo dan Kartiman menjadi pengemis. Mereka terus dicari oleh Jepang. Hardo sendiri adalah anak seorang Wedana Karang Jati kalau sekarang wedana itu disebut dengan nama camat. Setelah beberapa bulan bersembunyi di dalam gua, Hardo keluar dari persembunyiannya dengan pakaian yang lusuh, rambut gondrong, Hardo hendak menuju Ke Kota Blora.

Di tengah perjalanan Hardo bertemu dengan seseorang yang mengenal dirinya, sosok tersebut adalah Lurah Kaliwangan yang merupakan calon mertua dari Hardo, ayah dari Ningsih. Lurah Kaliwangan tersebut menceritakan bahwa Ayah Hardo dipecat dari Wedana dan Ibunya Hardo meninggal. Lurah Kaliwangan menyuruh Hardo untuk pulang, namun Hardo menolak, begitu juga ketika Lurah Kaliwangan memberikannya uang, Hardo juga menolak.

Kemunculan Hardo di Blora menjadi perbincangan hangat di masyarakat. Lurah Kaliwangan melaporkan kedatangan Hardo kepada Tentara Jepang, sehingga Hardo kembali menjadi perburuan Tentara Jepang, Tentara Jepang mengerahkan Seinendan dan Keibodan untuk menangkap Hardo. Dalam perjalanannya, Hardo bersembunyi di sebuah gubuk di tengah ladang jagung, dan ternyata gubuk tersebut milik ayahnya. Saat Hardo sedang tidur dalam gubuk tersebut, datanglah Ayah Hardo, pada mulanya Ayah Hardo tidak mengenalinya. Begitu juga Hardo saat ditanya apakah ia anaknya, karena suara dan tertawa nya mirip dengan anaknya. Hardo mengatakan bahwa ia seorang pengembara. Ayah Hardo menceritakan bagaimana pergolakan hatinya.

Sebenarnya Ia sudah mengetahui perasaan Hardo sejak lama, tentang ketidaksukaannya kepada Jepang. Saat mengetahui Hardo memberontak, ia diperintahkan untuk memimpin rakyatnya untuk melakukan pengepungan, begitu juga dengan istrinya, setelah pengepungan tersebut istrinya meninggal. Dia kehilangan segalanya, dipecat menjadi wedana, kehilangan istri, dan anaknya. Wedana Karangjati tersebut sekarang menjadi penjudi. Ayah Hardo kemudian membakarkan jagung, saat itulah Hardo kabur dengan menerobos gubung belakang. Ketika Ayah Hardo sedang membakar jagung, datanglah pasukan Seinendan dan Keibodan untuk memburu Hardo. Ayah Hardo menutup-nutupinya bahwa anaknya tidak datang ke gubuk. Saat ditanya mengapa bagian belakang bisa berlubang seperti ada yang menerobos, serta ada jejak kaki. Ayah Hardo mengatakan bahwa itu jejak kakinya, dan lubang itu ia terobos saat hendak mencari kayu.

Hardo kemudian menuju kolong jembatan dan bertemu dengan Dipo. Ia mengatakan bahwa semalam Tentara Jepang patroli di kolong jembatan, mencari gembel yang terdapat bekas samurai di tangan kanannya. Itulah yang menjadi ciri khas Hardo. Kemudian keesokan harinya datanglah Kartiman yang mengatakan bahwa Tentara Jepang telah menangkap semua gelandangan. Serta ia juga mendapatkan info dari kakaknya bahwa Indonesia telah merdeka.

Tentara Jepang hendak menangkap Ningsih untuk dibawa ke Kempetai. Hardo, Dipo, dan Kartiman kembali dikejar tentara Jepang dan berhasil ditangkap kemudian dibawa ke rumah Ningsih. Saat itu Shidokan Dono, Karmin sedang berada di rumah Ningsih hendak menangkap Ningsih. Saat itulah terdengar kabar berita disuarakan dari mobil bahwa Indonesia telah merdeka. Terdengarlah pekik merdeka dimana-mana, bendera Jepang di atas atap diturunkan, dan diganti dengan merah putih.

Masyarakat dengan senjata parang mengepung tempat tersebut. Shidokan Dono mengeluarkan pistolnya dan menembaknya ke beberapa warga, ketika hendak menembak Hardo langsung dicegah oleh Karmin terjadilah perebutan pistol tersebut. Pistol berhasil direbut dan Shidokan Dono tersungkur, Dipo langsung merebut samurai dari tangan Shidokan Dono dan mengarahkannya ke Shidokan Dono. Shidokan Dono meminta ampun dan ketakuran, kemudian Shidokan Dono dipenggal kepalanya. Dipo hendak memenggal kepala Karmin, namun dicegah oleh Hardo. Akhir dari cerita tersebut adalah Ningsih meninggal, ternyata salah satu tembakan Shidokan Dono tadi mengenai Ningsih.


Malik Ibnu Zaman

Penulis lepas. Dapat ditemui di Instagram @malik_ibnu_zaman