Sekolah Elit tapi Parkiran Irit!


Penulis:          Angga Prasetyo
Editor:           Asri Candra Wanodya

Cangkeman.net - Ketika keluar rumah untuk menyelesaikan suatu urusan anggaplah bekerja, tiba di rumah merupakan sesuatu yang ingin segera dicapai. Tidak adanya halangan saat di perjalanan pun menjadi harapan untuk cepat sampai rumah, namun terkadang hambatan itu muncul seperti diakibatkan adanya sekolah elit yang berada di depan jalan sehingga menjadi tersendat.

Kebetulan hampir setiap hari melewati jalan tersebut. Karena satu arah dan memang jalan ini yang harus saya lewati untuk tiba di rumah, harus ekstra sabar saat berada di area tersebut. Ada kalanya juga timbul kejengkelan saat melihat kendaraan mengular akibat mobil-mobil yang bertugas mengantar-jemput siswa sekolah elit itu. Memakan separo badan jalan. Ngomong-ngomong soal jalan, tidaklah terlalu lebar tetapi termasuk lokasi yang cukup sibuk. Banyak kendaraan dengan berbagai variasi ukuran menggunakan jalan itu. Jika terdapat satu dua bus atau truk yang lewat, dipastikan kemacetan semakin menjadi.

Penyebab utama dari kemacetan yang terjadi saya pikir pihak sekolah atau yayasan tersebut tidak mempunyai lahan parkir yang seharusnya fasilitas ini wajib disediakan. Sudah tahu sekolah elit, asumsi yang ada di benak pengguna jalan umum pasti setiap siswa akan dijemput permobil satu siswa satu mobil. Karena tidak mempunyai lahan parkir, pengguna jalan umum menjadi korban.

Memang jika melihat secara umum berdirinya sekolah di depan jalan, baik sekolah elit ataupun bukan akan berpotensi menimbulkan kemacetan. Hanya saja, sejauh ini saya tidak pernah menemukan jalanan menjadi sangat tersendat di depan sekolah biasa alias yang bukan elit. Sudah banyak yang antar-jemput, pintu keluar-masuk berada di area yang sama. Suasana jalan semakin panas dan ribut. Belum lagi petugas parkir atau satpam yang sering saya lihat lebih memprioritaskan kendaraan keluar-masuk ke sekolah tersebut. Pada akhirnya, kemacetan betul-betul tak terhindarkan.

Hal lain yang tak kalah menarik tertangkap di mata saya itu adanya himbauan berupa spanduk yang dikeluarkan kepolisian setempat dengan stempel dari sekolah itu yang berbunyi: “Selain penjemput siswa sekolah, mohon mengambil lajur kanan”. Bagi saya, seakan-akan pihak kepolisian setempat pun tahu akar penyebab kemacetan di sana, namun tidak mampu berbuat banyak. Saya pun sejauh ini tidak pernah melihat petugas kepolisian turut membantu mengentaskan kemacetan di lokasi yang biasa terjadi saat pulang sekolah. Oh, kondisi ini tidak hanya di satu waktu saja. Bisa jadi, sekolah tersebut menerapkan sistem pulang sekolah yang berbeda setiap tingkat.

Mengapa nggak lewat setelah anak-anak pulang sekolah? Mungkin ada yang bertanya begitu. Pengguna jalan sudah pasti punya alasan tersendiri. Misalkan, bagi kaum pekerja yang seharian sudah berkutat dengan tanggung jawab rasanya ingin segera beristirahat di rumah, sama halnya dengan pejalan lain untuk segera tiba di tempat tujuannya. Saya pikir, hal semacam ini juga salah satu dari sekian hal yang kurang disadari oleh seluruh jajaran sekolah tersebut. Berhubung jalan itu tempat umum, setiap orang pun pasti punya kepentingannya masing-masing. Namun, yang mereka lakukan malah seakan-akan minta dimaklumi demi kepentingan sendiri.

Timbul pertanyaan, “Apakah pantas fenomena semacam ini dianggap lumrah?”

Jawaban yang paling simpel tentu saja tidak bisa dianggap lumrah. Hal ini bagi saya dilandaskan pada sebuah pemikiran, bahwa kepentingan pihak tertentu malah mengorbankan kepentingan orang lain. Jalanan merupakan salah satu contoh fasilitas umum. Namanya fasilitas umum sudah pasti digunakan banyak pihak, bukan satu pihak semata. Tak punya fasilitas yang seharusnya wajib dipunyai yakni lahan parkir, pengguna jalan lain kok seakan-akan harus memaklumi kekurangan yang dipunya. Apa itu tidak arogan namanya?

Arogan merupakan suatu sikap yang mesti dihindari. Dalam fenomena ini, seakan-akan dibiarkan tumbuh dan berkembang dilingkungan pendidikan. Adanya suatu kesalahan yang dibiarkan begitu saja dan berharap agar orang lain memaklumi tanpa adanya upaya membenahi diri juga merupakan sikap yang tak pantas dalam lingkungan pendidikan. Apakah pantas dan diperbolehkan jika instansi pendidikan mengajarkan sedari dini pada siswa, bahwa merugikan pejalan lain dengan sengaja menyebabkan kemacetan menjadi sikap yang dianggap biasa? Tentu saja tidak boleh begitu.

Hal lain yang tak kalah menarik berdasarkan fenomena ini menurut saya adalah, adanya unsur ketidaksengajaan dari pihak sekolah untuk tidak mempedulikan kondisi sekitar. Iya, saya paham. Sekolah elit pasti punya kurikulum pendidikan yang luar biasa. Dari kurikulum tersebut ada harapan agar peserta didik menjadi sosok yang luar biasa, setidaknya pintar secara akademik. Namun buat saya menjadi tidak berguna kalau tidak diseimbangkan dengan nalar bersosial yang baik. Nalar semacam ini yang menentukan bagus/tidaknya seseorang dalam memahami hingga membentuk suatu perilaku saat berada di lingkungan sosial-masyarakat.

Apalagi jika ditambah melihat kondisi masyarakat kita. Bagi saya, orang Indonesia lebih mengedepankan harmonisasi daripada individualisasi. Apa pun yang hendak dilakukan atau sekedar baru dipertimbangkan dalam pikiran, pasti memasukan unsur orang lain sebelum memutuskan. Cara bagaimana melakukan hubungan yang harmonis kepada berbagai pihak, bisa dikatakan sebagai kemampuan yang cukup penting. Kalau tidak segera diajarkan, atau malah menunjukan sikap eksklusif, justru membuat hubungan yang ada semakin runyam. Saya pun juga melihat review dari netizen tentang sekolah ini. Banyak mengeluhkan kemacetan yang terjadi. Namun sejauh ini, belum ada solusi dari pihak sekolah, hal ini merupakan penerapan contoh yang baik dari sikap eksklusif.

Sekolah elit tapi parkiran irit. Memang sebuah kalimat nyinyiran untuk menggambarkan betapa arogan, ketidakpedulian, tak mau bertanggung jawab atas keterbatasan lahan parkir, yang menyebabkan jalanan macet. Malah mengorbankan pengguna jalan lain demi kepentingannya sendiri. Sungguh, fenomena macam ini sangat tidak pantas dilakukan instansi pendidikan. Katanya pendidikan merupakan solusi untuk mencerdaskan bangsa, kok malah begitu? Suatu instansi pendidikan malah tidak memberikan contoh yang baik.


Angga Prasetyo
Kontributor ini masih malu-malu untuk menceritakan dirinya. Dapat ditemui di Instagram @anggaprass