Sebetulnya, Pemerintah Era Klasik Sudah Peduli dengan Masalah Pendidikan

Taha Samet Arslan on Pexels
Penulis:        Angga Prasetyo
Editor:         Susi Retno Utami

Cangkeman.net - Beberapa waktu belakangan, di lini sosial media, saya cukup sering menemukan yang barangkali bisa dikatakan semacam meme. Kira-kira berbunyi sebagai berikut:

“Tahun 1222 Ken Arok membunuh Tunggul Ametung, kemudian berdirilah Kerajaan Singasari. Sementara itu, 13 tahun sebelumnya di dataran Britania sana, Universitas Oxford berdiri.”

Kalimat tersebut membuat saya tersenyum.

Bagi saya, perbandingan tersebut tidaklah apple to apple. Satu kalimat menyatakan masalah mendirikan suatu negara, sementara yang lain berupa fenomena pendidikan. Terdapat analogi lain agar lebih mudah untuk memahaminya. Misalkan, kita ingin mengetahui nasi goreng mana yang terenak. Tetapi objek perbandingannya bukan sesama nasi goreng, melainkan dengan rendang. Tentunya tidak dapat disimpulkan. Hal ini dikarenakan objek perbandingannya berbeda. Biarpun rendang lebih enak daripada nasi goreng, tetapi tidak dapat dijadikan jawaban dari pertanyaan utama, yakni, nasi goreng mana yang terenak.

Meskipun hanya sekadar asumsi, saya paham maksud dari meme ataupun berbagai komentar yang ada. Asumsi saya, tentang mirisnya dunia pendidikan di Indonesia. Di belahan dunia lain, sudah sibuk memikirkan masalah kecerdasan bangsa. Loh kok masyarakat Indonesia terdahulu masih sibuk berperang. Barangkali begitu.

Yah, kalau dilihat lebih lanjut, pada abad segitu, permasalahan stabilitas negara dan konflik geopolitik memang sedang meluas. Tidak cuma Nusantara dan tanah Britania. Munculnya kekuatan dari Mongolia juga merupakan hal yang sangat dicemaskan kala itu. Sepertinya, hidup pada abad segitu merupakan masa sial karena daratan bisa menjadi ladang pembantaian manusia.

Namun, marilah kita kesampingkan masalah perang-perangan. Opini yang ingin digiring dari meme dan beragam komentar tentang pendidikan. Muncul asumsi lain, yakni, wajar saja sekarang Inggris merupakan negara maju, setidaknya dalam lingkup pendidikan. Karena tahun 1200-an sudah ada universitas. Bagaimana dengan masyarakat kita di masa lampau? Apakah ada atau tidak perihal kepedulian akan pendidikan?

Kita pasti mengenal adanya kerajaan Sriwijaya. Selain dikenal tangguh di maritim, kerajaan ini pun dikenal sebagai pusat pengajaran agama Budha di Asia Tenggara. Misalkan, pada tahun 671 Masehi, seorang biksu asal negeri Tiongkok bernama Yijing atau juga dikenal sebagai I Tsing, sempat berkunjung ke Sriwijaya selama enam bulan. Pada masa singgahnya, ia menerjemahkan teks agama Budha yang masih menggunakan bahasa Sanskerta dengan bantuan seorang translator asal Jawa bernama Jnanabhadra. Menurut catatan Yijing, terdapat 1000 biksu yang belajar di sana. Jangan membandingkan pada masa kini. Tahun segitu, 1000 murid sudah dianggap sangat banyak karena jumlah populasi manusia masih minimalis. Dan akibat dari sangat menghargainya bahan ajar yang ada, di masa setelahnya, Yijing kembali singgah dan menetap selama 10 tahun.

Salah satu penguasa Sriwijaya, Balaputradewa, merupakan sosok yang dikenal sangat peduli dengan pendidikan. Berbekal terjalinnya hubungan baik dengan kerajaan Palla yang berlokasi di Nalanda, India, Balaputradewa meminta penguasa setempat, yakni, Rajadewa, untuk membebaskan lima desa dari pajak. Di tempat itulah kemudian didirikan sebuah kuil, yang kemudian hari menjadi asrama sebagai tempat tinggal pelajar asal Sriwijaya selama belajar di Nalanda sana. Hal ini termuat dalam prasasti Ligor yang bertarikh 775 Masehi. Bayangkan, masehi belum menyentuh angka seribu, tetapi sudah terdapat penguasa Sumatra yang berupaya memfasilitasi rakyatnya untuk belajar di luar negeri.

Selain itu, kepedulian penguasa di tanah Jawa akan pendidikan tak kalah menarik. Salah satunya, seperti yang dilakukan Mpu Sindok, penguasa Mataram Kuno dari dinasti Isyana. Selain sibuk mengurusi kerajaan, Mpu Sindok menyempatkan diri untuk membuat kitab Tutur. Sebuah naskah berisi tentang ajaran berperilaku yang wajib dipelajari bagi mereka yang berada dalam fase brahmacari atau masa menuntut ilmu.


Mpu Sindok juga menganugerahkan desa Wanjang sebagai wilayah sima alias bebas pajak. Dikarenakan seorang pujangga bernama Sri Sambhara Suryawarana menciptakan karya sastra berjudul Sanghyang Kamahayanikan yang dianggap sangat baik oleh sang penguasa. Sebuah kitab yang mengajarkan kita bertoleransi antar-sesama. Naskah tersebut lahir sekitar pertengahan tahun 900-an. Ini semakin menegaskan pemerintah masa itu sangat peduli dengan pendidikan. Dampak dari hasil belajar bisa berdampak kepada orang-orang sekitar, yang mana dalam kasus ini, atas jerih payah sang pujangga menciptakan Sanghyang Kamahayanikan, menyebabkan desa tempatnya tinggal menjadi bebas pajak. Hal semacam ini sangat bisa menumbuhkan motivasi untuk terus mencari dan menuntut ilmu demi kemajuan dan kesejahteraan masyarakat.

Tidak hanya sampai di sana. Pemerintah era klasik atau zaman Hindu-Budha, memiliki aturan yang berisi bahwa wilayah yang dijadikan tempat pendidikan harus bebas pajak. Entah berupa karesyan, atau pusat pendidikan agama, atau kedewaguruan, instansi pendidikan yang lebih umum tidak hanya berfokus pada agama saja. Misalkan, dalam prasasti Mantyasih bertarikh 907 Masehi, Raja Balitung dari Mataram Kuno menetapkan desa yang memiliki nama yang sama dengan prasasti ini sebagai wilayah sima. Hal ini dikarenakan desa tersebut digunakan sebagai komunitas pertapa daerah karesyan.

Sampai sini, sebetulnya bisa disimpulkan bahwa pemerintah pada masa era klasik sangat peduli dengan masalah pendidikan. Bentuk kepeduliannya pun semakin berlimpah ruah seiring berjalannya waktu. Terlebih saat masuk era kerajaan Kediri. Sebuah masa yang memang bisa dikatakan sangat produktif dalam menciptakan karya sastra selain masa Majapahit. Kalau misalkan kamu memandang karya sastra merupakan contoh produk pendidikan yang tidak ilmiah, kamu bisa digebuk mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya, sastrawan, pun budayawan se-Indonesia. Perkara ilmiah atau bukan tidak hanya dilihat dari faktor hitungan.

Saya pun tidak bisa mengatakan bahwa pendidikan masa klasik sudah super baik. Apalagi jika dibandingkan dengan zaman sekarang. Setiap masa dalam urusan masalah pendidikan, pasti terus berbenah diri. Salah satu fenomena yang mengerikan saat berganti era, masyarakat pada masa itu gemar menghancurkan segalanya. Pendidikan pun terkena imbasnya. Terlebih di masa klasik, proses pendidikan sangat eksklusif, yakni, calon murid harus mencari sendiri guru yang akan mengajarkan mereka. Sebuah kondisi yang sangat kontras dengan zaman sekarang bahwa pendidikan merupakan fase yang wajib diikuti oleh setiap manusia. Barangkali hal ini juga yang menyebabkan berbagai instansi pendidikan saat itu, baik karesyan maupun kedewaguruan, lebih memilih tempat terpencil dalam melakukan pengajaran. Seperti di lereng-lereng gunung, misalnya, selain adanya kepercayaan bahwa tempat tersebut dianggap suci tentu saja.

Namun, jika menganggap tidak ada rasa peduli pemerintah zaman era klasik perihal masalah pendidikan, penilaian ini jauh dari kebenaran. Apalagi sampai memandang jika masyarakat terdahulu sangat primitif dan belum mengenal pendidikan. Beberapa hasil karya yang lahir oleh pujangga-pujangga masa lalu pun sangat bisa dinikmati saat ini. Bahkan, bisa saja karya mereka dijadikan solusi atas masalah yang dihadapi saat ini, tentang toleransi, misalkan, dengan membaca Sanghyang Kamahayanikan.

Sebagai penutup, menurut saya terdapat beberapa sikap yang bisa dijadikan semangat dalam belajar dan menuntut ilmu. Misalkan, adanya kemauan untuk belajar sungguh-sungguh dan tidak mudah menyerah, serta terus belajar mengolah pikiran, menguasai berbagai bahasa, yang semuanya sudah dilakukan oleh peserta didik masa lampau sejak era Sriwijaya. Hal semacam ini pun dinasehatkan oleh penguasa Mataram Kuno, yakni, Rakai Kayuwangi yang berkuasa sekitar tahun 856–882 Masehi. Tentunya, beliau menambahkan pesan agar peserta didik menumbuhkan sikap tenggang rasa dan menerapkan ajaran dari berbagai hal yang telah dipelajari semasa menuntut ilmu. Menurut saya, berbagai pesan ini jauh lebih penting dipertahankan dan selalu ditumbuhkan dalam diri daripada sibuk membandingkan sesuatu yang tak penting.


Angga Prasetyo
Kontributor ini masih malu-malu untuk menceritakan dirinya. Dapat ditemui di Instagram @anggaprass