Laron, One Night Stand Story

rumahlia.com

Penulis:        Rois Pakne Sekar
Editor:          Fatio Nurul Efendi

Dan aku memujamu penuh cinta
seperti laron terpesona oleh cahaya
dian, pelita, sebut apa saja

Meski takdir pahit menanti
Laron mesti terpanggang mati
Aku tak lagi peduli
Bukankah hidup,
memang mesti berlanjut mati?

Di bulan-bulan yang berakhiran ‘ber’ ini lazimnya kita akan sering menjumpai laron. Binatang bersayap tersebut biasanya akan bermunculan selepas hujan nrecih seharian atau semalaman. Kehadiran laron ini biasanya sangat dinantikan oleh anak-anak yang tinggal di pedesaan. Mereka akan berburu sebanyak-banyaknya untuk dimasak. Pasalnya laron bisa dijadikan peyek yang sangat lezat, plus kaya protein.

Laron, kita tahu, adalah bentuk metamorfosa dari rayap. Binatang yang termasuk dalam ordo orthoptera ini memiliki keunikan berupa waktu hidup yang sangat singkat. Mereka hanya menjalani hidupnya sehari, sudah itu mati. Ketika masih menjadi rayap sih umurnya cukup lama juga. Sebuah penelitian menyatakan bahwa seekor ratu koloni rayap bisa hidup hingga 20 tahun. Namun ketika telah bermetamorfosis menjadi laron, kebanyakan dari mereka hanya hidup untuk 1 hari.

Ada yang istimewa dalam masa hidup yang singkat tersebut, mereka merayakan hidupnya yang hanya sehari tersebut dengan penuh cinta. Mereka memuja cahaya, terbang berpesta pora mengelilingi segala yang berpendar. Tujuannya adalah untuk menemukan pasangannya. Ini patut ditiru saudara. Jangan mencari pasangan dalam keremangan, mundak entuk jodoh yang tidak sesuai harapan.

Seringkali dalam proses mencari jodoh tersebut laron harus menerima konsekuensi yang fatal. Beberapa dari mereka berakhir di perut kodok, cicak, atau binatang lainnya. Beberapa sukses bertanformasi menjadi peyek laron yang kemriuk, endingnya masuk perut manusia juga. Sedangkan kebanyakan mesti merelakan tubuhnya hangus terbakar oleh sumber cahaya, entah itu lampu ataupun pelita. Bayangkan saudara, meninggoy oleh sesuatu yang mereka puja.

Mereka telah mafhum resikonya jika terlalu dekat dengan sumber cahaya, toh mereka tetap berpesta. Belum pernah tuh saya jumpai ada laron solitaire. Laron yang terbang menyendiri ke tempat-tempat gelap untuk mencari pasangan (jika sampeyan menemukan laron jenis ini, mungkin ia adalah laron yang memiliki kelainan).

Hanya segelintir dari anggota koloni yang bisa selamat dari proses ‘pesta cahaya’ tersebut. Ada hadiah besar bagi mereka yang selamat. Para survivor tersebut akan menemukan pasangannya dan berkembang biak. Selanjutnya mereka akan membentuk koloni baru, and they will live happily ever after.

Pesannya adalah, kita bisa meniru sikap hidup laron tersebut. Bahwa demi sesuatu yang kita puja, kita mesti berani menerima konsekuensi logisnya. Ndak usah terlalu mikir resiko, kalau sudah suka ya hajar saja. Carpe diem.. atau seize the day kata alm. Robin Williams dalam dead poet society.

Anda boleh mengartikan ‘pesta pora cahaya’ dengan bebas sesuai pemahaman sampeyan. Apakah itu berupa cinta, karier, hobi, ideologi, atau bahkan yang berhubungan dengan Ke-Tuhanan. Berpestalah, rayakan hidup demi sesuatu yang anda puja tersebut. Tak peduli apapun konsekuensinya. Carpe diem, seize your day!!!

Adakah lagi cara hidup (dan mati) yang lebih agung dari ini?


Rois Pakne Sekar

Seorang part time teacher dan full time parent. Mengajar -sekaligus belajar- Mapel Bahasa Jawa di SD Mafaza Integrated Smart School. Juga seorang atlit badminton amatir yang tidak akan takut menghadapi 'minions' ataupun 'the daddys'