Kok Bisa Kasus Pemerkosaan Berakhir Damai?

Sindonews

Penulis:        Ulfiana
Editor:         Fatio Nurul Efendi

Cangkeman.net - Bahkan seorang anak kecil pun paham kalau penjahat harusnya dihukum, ini yang “harusnya” berpendidikan kok malah lebih bodoh. Agak mengherankan aparat negara ini.

Beberapa hari lalu saya berselancar di media sosial Twitter. Saya menemukan sebuah cuitan yang membuat saya sadar, betapa bobroknya kepolisian di Indonesia. Memang benar katanya sih hanya “oknum”. Lha tapi kok banyak.

Kasus bermula saat terjadi pemerkosaan pada tahun 2019, di mana korban dan pelaku yang berjumlah 4 orang sama-sama bekerja di Kemenkop UKM. Kasus ini kembali muncul kepermukaan saat orang tua korban memutuskan membuka lagi kasus ini agar bisa maju ke pengadilan di bulan Oktober 2022. Kasus yang sangat miris sebenarnya, korban yang seharusnya mendapatkan perlindungan malah berakhir dinikahkan dengan pelaku yang masih single. Gila!

Mirisnya lagi, pihak polisi, pihak yang seharusnya menjadi tempat korban berlindung, pihak yang seharusnya menegakkan keadilan malah turut andil dalam menikahkan korban dengan pelaku. Sebelumnya keempat pelaku hanya ditahan selama dua minggu, dan dilepaskan hanya karena desakan keluarga pelaku. Ini seorang polisi, loh. Masa goyah hanya karena desakan keluarga pelaku yang memang sudah terbukti salah?

Korban berakhir dengan dinikahkan dengan pelaku, dengan dalih “restorative juctice”. Jika dipikirkan dengan logika, orang idiot mana yang membuat konsep kalau solusi pemerkosaan itu menikahkan korban dengan pelaku? Dan bukankah kasus yang bisa berakhir “damai” adalah yang menguntungkan kedua belah pihak?

Dari kasus ini sudah terlihat sangat jelas bahwa korban sangat dirugikan, baik dari segi mental, fisik, maupun materi. Kabar yang terbaru, pelaku hanya memberi nafkah sebesar Rp 300.000 saja. Sedangkan pelaku sudah tidak terjerat hukum, tidak dicabut gelar PNSnya, bahkan bisa melanjutkan sekolah dengan beasiswa.

Saya saja merasa sakit hati, padahal hanya membaca. Saya sudah tidak bisa membayangkan sehancur apa korban dan keluarganya. Seorang korban pemerkosaan sudah pasti megalami yang namanya trauma, dan untuk “sembuh” harus dilakukan treatment yang tepat. Sedangkan ini malah dinikahkan dengan pelaku yang sebenarnya adalah penyebab dari trauma tersebut.

Sudah saatnya system kepolisian di Indonesia diperbaiki. Sudah banyak penyimpangan-penyimpangan berdalih “oknum” yang dilakukan oleh kepolisian. Dalam hal ini yang dirugikan tidaklah sedikit, apalagi beberapa tahun ke belakang ini banyak sekali kasus kasus yang berkaitan dengan penyimpangan yang dilakukan oleh polisi, lembaga yang seharusnya menjadi tempat pertama untuk mencari keadilan malah beralih fungsi memihak yang bercuan.

Dari banyaknya kasus yang sudah terjadi, pemerintah seharusnya bisa membuka mata, betapa bobroknya sistem kepolisian di negaranya. Jika hal ini tetap dibiarkan, mau jadi seburuk apa negara ini nanti? Terkadang hal baik tidak selalu berjalan, tetap jaga dirimu dari ketidakadilan.

Ulfiana

Seorang Mahasiswa Pencari Rupiah.