Cinta Itu Membebaskan, Bukan Memenjara

Donald Tong

Penulis:         Rois Pakne Sekar
Editor:          Fatio Nurul Efendi 

Cangkeman.net - "Jangan biarkan cintamu menjelma jeruji yang menjadi penjara bagi jiwa kekasihmu" -Pakne Sekar-

Pernahkah anda membaca sebuah idiom bahwa “Cinta itu seharusnya membebaskan, bukan mengungkung?“ Idiom tersebut adalah pandangan ideal tentang cinta, kasih, katresnan, atau dengan kata apapun sampeyan menyebutnya. Marilah jujur pada diri kita masing-masing, sudahkah kita menunjukkan kasih sayang kepada pasangan dengan cara yang membebaskan? Entah itu kepada istri, suami, atau kekasih. Bahkan juga kepada anak-anak kita.

Faktanya di era sekarang ini, kita semakin sering menjumpai cerita-cerita bernada curhat atau sambat mengenai perilaku pasangan yang cenderung mengungkung dan membatasi. Itu masih agak mendingan, bahkan ada yang sampai di titik ekstrimnya: memenjara. Itu semua dilakukan dengan alasan yang sangat klise, karena dan atas nama CINTA. Perilaku yang demikian ini kita kenal sebagai sifat posesif.

Posesif sendiri dideskripsikan sebagai “Having or showing a desire to control or dominate“. Jika diartikan dalam Bahasa Indonesia secara umum berarti suatu sikap yang dipunyai atau ditunjukkan untuk mengontrol atau mendominasi sesuatu atau seseorang. Sikap ingin memegang kontrol dan mendominasi ini dilandasi anggapan bahwa pasangan adalah ‘miliknya’ sendiri sehingga tidak ingin kehilangan. Maka efeknya bisa menimbulkan pembatasan ruang gerak bagi pasangan. Sungguh sebuah pola hubungan yang toxic bukan?

Coba deh bayangkan situasi berikut ini. Apa yang akan anda rasakan jika sepanjang waktu pasangan mengecek inbox anda? Masih bisakah sampeyan merasa nyaman jika pasangan selalu ngepoin aktivitas anda baik di dunia maya ataupun nyata? Pernahkah kita berpikir: lalu apa bedanya kita sebagai manusia dengan burung yang ada di dalam sangkar? Atau singa-singa di kandang kebun binatang? Atau rajawali dengan rantai di kaki?

Seekor burung dengan suaranya yang merdu, mempunyai potensi untuk membawa kebahagiaan bagi semua, melalui nyayiannya di alam lepas. Seekor singa dengan kegagahan dan kekuatannya, jika hidup di alam liar mempunyai potensi untuk menjadi predator alpha yang disegani binatang lain. Ia juga menyumbangkan peran penting bagi siklus rantai makanan. Seekor rajawali yang bebas, mempunyai potensi untuk menginspirasi manusia dengan kegagahannya di angkasa.

Tapi mereka semua, hewan-hewan tersebut, ketika hidup di kerangkeng tak akan lebih dari sekadar pajangan. Begitu juga dengan pasangan kita. Ketika kita telah membuat jeruji imajiner bagi jiwa pasangan kita, maka pada dasarnya kita sedang menggerus derajat mereka manusia yang utuh. Mereka hanya akan menjadi manusia pajangan, manusia piaraan yang hanya menjadi klangenan bagi kita. Singkatnya, seorang pasangan hanya akan menjadi hiburan bagi ego kita sendiri. Betapa tak berharganya hidup yang seperti itu.

Akibat dari sikap posesif ini dalam melakukan hubungan percintaan, mungkin tak akan tampak dampak yang ditimbulkan. Namun jika terjadi dalam jangka waktu yang lama, tentu akan menumpuk dan membentuk sebuah gunung es psikologis. Akan menjadi lebih parah jika pasangan yang diposesifi (korban) tidak menemukan tempat sambat atau yang disebut Tommy Page: a shoulder to cry on.

Korban sikap posesif yang tidak punya saluran untuk sharing tersebut akan cenderung introvert, dan ujung-ujungnya berpotensi besar untuk mengambil tindakan fatal. Bisa tindakan agresif di rumah, di lingkungan sekitar maupun di jalanan. Bisa juga berupa tindakan agresif pada dirinya sendiri: misalnya (amit-amit) suicide.

So, bagi para pecinta, jangan biarkan kasih sayang sampeyan menjelma jeruji yang menjadi penjara bagi jiwa pasangan anda. Jangan pernah beranggapan bahwa pasangan adalah hak milik mutlak kita. Jangankan terhadap pasangan, terhadap diri sendiri saja, adakah kita mempunyai hak milik mutlak? Jawabnya adalah TIDAK. Sebab segala yang mutlak hanya milik GUSTI.

Rois Pakne Sekar

Seorang part time teacher dan full time parent. Mengajar -sekaligus belajar- Mapel Bahasa Jawa di SD Mafaza Integrated Smart School. Juga seorang atlit badminton amatir yang tidak akan takut menghadapi 'minions' ataupun 'the daddys'