Anak Itu Kunci Kebahagiaan? Yakin?

Bess Hamity

Penulis:        Kharirus Saidiyah el Firda
Editor:         Thiara

Cangkeman.net - Pembahasan kali ini adalah momok besar dalam kehidupan rumah tangga. Mau diakui atau tidak, kehidupan masyarakat kita masih sangat lekat dengan anggapan bahwa yang sudah menikah itu, ya wajib punya anak. Kalau gak punya anak bisa di kata-katain yang tidak-tidak. Padahal, apakah mereka paham kalau masalah anak itu sangat sensitif bagi pasangan muda?

Mereka bilang, kalau anak itu kunci memperkuat hubungan dan punya peran penting dalam kebahagiaan rumah tangga. Nanti kalau gak memiliki anak, kamu dianggap punya masalah, rumah tangga disebut-sebut gak akan bertahan lama, sampai anggapan bahwa gak punya anak membuat sumber rezekimu tidak banyak.

Bingung juga ya, mau ngejelasin kayak gimana? Sesekali, rasanya lelah harus selalu menjawab pertanyaan yang sama soal anak. Padahal, semua pasti tau kalau anak itu rezeki. Nah, sedangkan rezeki itu salah satu perkara yang telah ditetapkan Tuhan, selain hidup dan mati. Ya manusia wajib berikhtiar 'kan, ya. Selebihnya, itu perkara kuasa Tuhan gitu, loh! Ibarat kata, itu sudah di luar kendali manusia. Kita sudah berusaha dengan metode bla-bla-bla, datang ke sini; datang ke situ. Kalau emang belum waktunya, ya gimana?

Tak sedikit orang yang merelakan banyak hal demi mencapai keinginan memiliki anak. Mereka mau mengeluarkan banyak biaya untuk pengobatan, meluangkan waktu, sampai menguras tenaga. Tapi ada aja yang ngomongnya menyakitkan hati.

Apa mereka pikir, kita yang mengalaminya tidak sakit dan lelah? Bagi kami yang mengalami hal ini, rasanya lelah fisik, apalagi psikis. Bagaimana, tidak? Orang-orang selalu melontarkan pertanyaan tentang anak setiap bertemu. Toh kalau usaha kami berhasil, bisa dilihat 'kan hasilnya? Kalau mau nanya sekali-dua kali, oke aja. Tapi, kalau terus-menerus setiap ketemu? Lama-lama bikin hati gak enak. Jadi males gitu lho, buat ketemu-ketemu. Ujung-ujungnya, selalu cari cara untuk menghindar sampai bikin hubungan jauh.

Kunci kebahagian di sini itu yang nentuin adalah diri kita masing-masing, bukan orang lain. Yang bisa atur ketenangan batin, ya kita sendiri. Bahagianya hidup juga kita sendiri yang ciptain.

Coba, kadang kita melihat ada orang kaya raya, tapi belum punya anak; ada orang yang punya anak, tapi ekonominya kekurangan; ada juga yang kaya raya dan punya anak, tapi diuji sama tingkah anaknya sendiri. Selalu ada aja cobaan dalam hidup masing-masing manusia. Cobaan yang memiliki porsi berbeda sesuai dengan kekuatan masing-masing manusia pula. Tetap percaya aja, kalau cobaan dan ujian itu tidak akan melampaui kekuatan hamba-Nya. Kalau sebutan di kampung jawa tuh sawang sinawang (saling pandang-memandang dalam artian positif) aja dalam hidup, karena hasrat manusiawi merasa selalu ada yang kurang. Makanya, dalam ajaran tuh selalu disuruh buat bersyukur sama apa yang didapat.

Anak juga tidak lahir untuk bertanggung jawab terhadap kebahagian orang tua maupun keutuhan keluarga. Pasangan suami istri lah yang memiliki peran-peran penting tersebut, bukan anak yang menanggung. Kalau kayak gitu, rasanya kasihan ya, si anak lahir dengan banyak beban tanggung jawab.

Sudahlah … stop dengan perkataan kalian yang menyakitkan. Toh kami juga sedang berjuang, bukan berdiam diri. Justru, kami butuh bantuan kalian semua buat menguatkan batin kami. Kalau jasmani dan rohani kita tenang, bahagia; bisa aja jadi obat perantara anak akan hadir.

Tapi kalau sebaliknya–yang sedang berusaha sudah stres oleh pengobatan, ditambah bukannya mendapat semangat, kami malah mendapat kata-kata negative, ya gimana gak semakin tertekan tuh hidupnya? Plisss … dengan kalian mendoakan dan berkata baik akan menjadi obat batin yang luar biasa. Apapun keputusannya dalam rumah tangga, mau punya anak atau tidak, bukan tolak ukur kebahagian rumah tangga. Karena kebahagiaan itu kita sendiri yang ciptakan.

Kharirus Saidiyah el Firda
Saya wanita kelahiran 8 Juli 1995 di Tuban, Jawa Timur. Sampai saat ini saya bertempat tinggal di kota tersebut.