Tips Menghadapi Quarter Life Crisis

Pixabay on Pexels

Cangkeman.net - Bingung menentukan hidup mau ke mana dan harus melakukan apa, sementara usia sudah memasuki dewasa. Merasa jadi beban orang tua karena belum mandiri atau belum menemukan pekerjaan. Mulai mempertanyakan tujuan hidup dan masa depan, sementara jawaban masih belum ditemukan. Membandingkan diri dengan orang lain pun sering dilakukan dan itu membuat diri menjadi cemas dan stres.

Apa kamu pernah di posisi itu? Atau saat ini sedang merasakan? Itu adalah fenomena kecemasan nasional, atau yang biasa disebut Quarter Life Crisis. Fenomena krisis jati diri. Di mana hal tersebut biasa menyerang seseorang yang baru memasuki dewasa awal. Usia dua puluh-an adalah gejolak awal mulai mempertanyakan banyak hal dalam hidup.

Tak jarang, fenomena ini menyebabkan depresi, anxiety, dan sejenisnya. Bagi sebagian orang, fase quarter life crisis adalah fase yang paling mengerikan dalam hidup. Perubahan mood tak teratur, sering cemas, sedih, dan merasa kesepian.

Hidup penuh tekanan dan tuntutan dari orang sekitar pun mulai menyeruak. Tuntutannya beragam. Ada yang belum siap bekerja, tetapi dituntut untuk membiayai adik dan perekonomian keluarga. Pokoknya dituntut mengikuti ekspetasi keluarga lah, karena di usia ini kamu sudah dilabeli DEWASA, tetapi sebenarnya kamu belum kuat dan mesti memiliki energi ekstra untuk adaptasi.

Lalu, bagaimana cara menjalani dan mengatasi fenomena ini?

Nah, ini ada beberapa tips yang bisa dilakukan untuk kamu yang tak lagi ada di zona nyaman dan mulai mempertanyakan tujuan hidup.

1. Jangan Jauhi Keluarga atau Orang-orang Terdekat!
Kalau sendiri terus, dipastikan kamu hanya akan jadi pemurung yang fokus pada masalahmu saat ini. Kamu perlu bicara dengan orang dan jeda dari berpikir. Konsultasikan kepada keluargamu, minta saran dan masukan dari mereka. Intinya, kamu perlu mentor!

Setidaknya, komunikasi membuat kamu tidak merasa sendiri dan terhibur. So, jangan pernah jauhi orang-orang, ya!

2. Berdamailah dengan Keadaan!
Hah? Maksudnya gimana, nih? Iya, berdamai dan terimalah kondisimu saat ini. Kalau misalnya keadaanmu saat ini tidak punya pekerjaan misalnya atau punya masalah finansial. Nah, damailah dulu! Jangan marah-marah dan kecewa. Berdamai membuat otak kamu rileks dan tenang, sehingga mudah untuk berpikir jernih.

Memang tak mudah. Sangat tidak mudah. Tapi ini adalah caranya. Kamu harus ingat, bahwa hidup itu tidak akan selamanya seperti apa yang kamu inginkan. Kamu harus sadar akan itu. Dan jangan kecewa juga akan hal ini. Jalani apa yang ada tanpa harus berusaha untuk menolak atau lari! Percuma!

Perlahan, kamu juga akan terbiasa, kok. Ingat, kamu hanya perlu energi ekstra untuk adaptasi.

3. Jangan Terlalu Sering Meratap
Duduk melamun sambil memeluk lutut dalam kesendirian, justru membuat kamu semakin mengingat kesedihan. Me time untuk menemukan sebuah tujuan boleh, tapi jangan sampai terlalu jauh meratap yang tak ada ujungnya.

Ayolah bangkit! Jangan diam sambil memikirkan banyak hal, tapi gak ada realisasi! Mulailah mencari relasi, cari sesuatu yang buat kamu senang, dan santai. Dengan cara inilah kamu bisa lebih berpikir jernih.

4. Kurangi Menjelajahi Sosmed

Membuka sosmed untuk sewaktu-waktu boleh lah, tapi jangan sampai kehidupan kamu ada di sana. Yang ada kamu hanya akan memperhatikan kehidupan orang lewat story-story yang penuh manipulasi, hingga akhirnya kamu jadi membanding-bandingkan diri. Kalau kesepian, carilah orang-orang di dunia nyata yang kamu bisa ajak bicara. Setidaknya senyumanmu akan nyata, tidak hanya maya.

5. Mulai Untuk Olahraga
Tahukah kamu, berkeringat itu menghasilkan hormon dopamine (hormon kebahagiaan) loh. Kamu akan merasa lebih rileks setelahnya.

Coba aja bandingkan ketika kamu hanya terpuruk di kamar dan bergerak aktif setelah berolahraga. Beda, kan? Setidaknya dengan olahraga, tubuh kamu sehat dan cara berpikir pun akan lebih waras.

6. Enggak Usah Terburu-buru
Nganggur, enggak punya kegiatan, tetapi belum menemukan jalan. Terus kamu cemas, dong, karena hal itu. Eits, jangan berpikir kayak gitu, semuanya ada masanya, kok. Semua berjalan sesuai zona waktunya masing-masing.

Kamu tidak akan selamanya seperti ini, tinggal menunggu waktu yang tak tentu aja. Kamu akan segera menemukan kemana kamu melangkah, kok.

Nah, itu, Sob, kalimat rangkulan buat kamu yang lagi ling-lung dalam hidup. Santuy aja, Bre, kamu enggak sendiri, kok. Dan yang kamu rasakan saat adalah kewajaran kamu dalam menanyakan eksistensi diri kamu.

Capek, ya? Bawa santuy aja. Oya, satu lagi, jangan terlalu mikirin apa kata orang! Makin cemas, nanti.

Siti Diana

Seorang penulis kelahiran tahun 2002 di tanah Cianjur. Saat ini dia masih menjadi seorang mahasiswi di Universitas Teknologi Nusantara, juga berprofesi sebagai guru honorer di salah satu sekolah swasta Cianjur. Baginya menulis adalah jalan hidup dan kewajiban, dengan menulis dia merasa bahagia dan puas.