Tips Biaya Irit Berlibur di Yogyakarta

Wikipedia

Cangkeman.net - Provinsi mungil namun istimewa apalagi kalau bukan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.Yogyakarta memiliki warna-warna indah dalam sosial budayanya. Jika keindahan di Yogyakarta dipresensi, maka keramahan masyarakatnya tidak dapat absen darinya. Biaya hidup yang serba murah, universitas top, pusatnya dunia perbatikan, bahkan dunia seni, semua melekat pada nama Yogyakarta. Dan tentu saja wisatanya juga tak boleh dilewatkan.

Provinsi Yogyakarta memiliki tempat wisata yang bermacam-macam. Mulai dari wisata alam sampai wisata buatan. Pegunungan, hutan, pantai, museum, kebun binatang, wisata wahana permainan, kolam renang, dan masih banyak lagi. Mungkin dapat dikatakan, Yogyakarta adalah tempat paling nyaman untuk berlibur, entah berlibur sendiri atau bersama teman maupun keluarga, sampai tidak sedikit pelancong yang berdatangan di tempat ini.

Mungkin beberapa dari kalian sudah sangat umum dengan nama Yogyakarta, atau bahkan ada saja yang sudah bolak-balik ke Jogja. Tapi mungkin juga ada yang dari dahulu mendambakan dapat datang dan menikmati suasana Yogyakarta namun juga belum terwujud. Dan tulisan ini akan membawa kalian semua untuk membuka mata agar buru-buru datang ke Yogyakarta.

Kalau mau berlibur ke Yogyakarta, uang tak menjadi halangan, kendaraan umum menjadi jalan. Bagi kalian yang sepertinya sudah bosan dengan Jogja, kamu perlu tahu ini untuk eksplor dengan suasana lain.

Banyak tempat yang bisa dikunjungi dan Malioboro menjadi hal yang paling pupuler ketika seseorang mengatakan Kota Yogyakarta. Untuk itu, pembahasan kali ini tidak tentang detail di mana saja kita dapat berwisata. Melainkan rekomendasi cara menikmati keindahan kota Yogyakarta dengan gaya yang berbeda, dengan metode penghematan yang bisa kamu rasakan dengan berwisata di sekitaran Malioboro.

Ada beberapa tempat yang dapat dijadikan tujuan jika kamu berada di Yogyakarta dan tidak ingin jauh dari Malioboro. Beberapa diantaranya ialah Malioboro itu sendiri,Titik Nol Kilometer, Kraton, Taman Sari, Oleh-oleh Bakpia, Benteng Vanderburgh dan Kaos Oblong Jogja.

Untuk merasakan suasana baru, ke Jogja menggunakan kereta cukup mudah dijangkau, mengingat pusat kota, Malioboro tidak jauh dari Stasiun. Cukup berjalan kaki sekitar lima menit. Apalagi jika kamu berencana berlibur tanpa menginap, menggunakan kereta adalah solusi tepat. Keunggulan ke Jogja dengan kereta ialah,minim resiko kecelakaan, hemat energi, hemat waktu karena tidak ada macet, dan jauh dari kata ribet mantengin Google Maps. Dengan kereta juga memaksa kita untuk tidak berlibur jauh-jauh dari pusat kota agar pengeluaran tak banyak. Sedangkan kekurangannya ialah sedikit ribet bila menginginkan tempat tujuan yang jaraknya jauh dari stasiun, ada biaya transportasi lagi untuk menempuhnya.

Tapi permasalahan transportasi di Jogja ada obatnya. Kabar baik datang dari transportasi unik yang belum tentu ada di daerah lain. Untuk orang yang masih awam terhadap tranportasi yang harus dipesan secara online, maupun memang ingin menjajal tranportasi khas Yogyakarta. Yogyakarta menyajikan tranportasi khas seperti andong dan becak motor. Harga yang yah.. tidaklah kalau mahal, apalagi acara jalan-jalan yang biasanya-yah...kapan lagi bisa ke Jogja, budget segitu kenapa tidak, toh berlibur itu acara "kolo-kolo" paling satu tahun sekali, dua, tiga kali. Atau memang benar-benar ingin meminimalisir pengeluaran bisa juga menggunakan Bus Trans Jogja yang super terjangkau. Harga Rp3.500,- per orang sekali jalan menuju tempat tujuan.

Lalu,bagaimana cara menghemat pengeluaran untuk biaya makan? Aku masih belum bekerja, uang saku masih minta, aku harus hemat, tapi juga harus bisa ke Jogja. Kebetulan di Yogyakarta makanan terbilang murah, kecuali untuk daerah tertentu.Untuk itu perlu strategi untuk hemat dan menjadi pelancong lokal yang anti-mainstream. Pertama-tama bawa minuman sendiri,dalam rangka hemat sekaligus cinta lingkungan. Setidaknya kalau mau jajan es cukup satu kali, tidak berkali-kali lantaran haus berkepanjangan. Kalau mau makan tentu gak perlu harus di Mall. Mau makan bakso yang cocok untuk semua lidah tentu harga akan lebih terjangkau bila dibeli dari penjual bakso kaki lima, bukan di kios-kios. Bisa beli kentucky chicken yang sudah banyak dijual di mana-mana yang tentu kira-kira harganya standar. Bisa ngirit lagi dengan makan di angkringan, biasanya dijual di gang sekitaran jalan Malioboro. Mau lebih ngirit lagi, sah-sah saja bawa mie instan sendiri dengan varian sesuka hati dan minta dibuatkan di angkringan, nanti bayarnya tentu lebih murah dan inilah antimainstream yang nyaris tidak pernah dilakukan orang-orang. Dapat mie panas, harga damai, dan dapat insight nongkrong di angkringan bercengkrama bersama kawan tanpa peduli makanan itu aesthetic atau tidak. Cara yang lebih ampuh, bisa bawa bekal sendiri. Menutup gengsi dengan dalih lebih higienis dan vacation berkedok camping.

Cara-cara seperti itu benar-benar ngirit, bukan? Tentu banyak dari generasi ini yang akan sulit melakukan aksi liburan dengan cara pengiritan total seperti itu. Generasi dengan dominasi serba aesthetic yang makan-minum, pakaian-aksesoris, kendaraan sampai tempat nongkrong yang seakan harus yang beraroma instagramable menjadikan cara seru antimainstream seperti yang telah dipaparkan di atas akan jarang disadari dan seperti ogah untuk mencobanya. Tapi ketahuilah bahwa tujuan dari berlibur adalah untuk penghiburan maka cara yang sederhana namun penuh makna itulah yang seharusnya cocok untuk dijalani. Memang terkadang gengsi selalu menyertai, tapi untuk tahu lebih dalam, gengsi perlu disingkirkan. Bukankah bahagia itu sederhana? Lalu mengapa semua harus diunggah di sosial media yang gambarnya tentu cantik tapi justru momen yang ada digambar itu seharusnya dapat dinikmati tapi malah hanya jadi sebuah konten yang rasa-rasanya kita tak pernah berkunjung ke tempat itu karena sangking fokosnya pada sebuah handphone. Tidak ada yang salah dari membuat konten,tapi juga tidak ada keharusan untuk selalu membuat konten.

Sadar atau pun tidak, pengiritan merupakan salah satu bentuk kesusahan. Dengan kesusahan lalu tercapainya tujuan (liburan) tentu cara seperti itu otomatis akan terbentuk ingatan yang lebih kuat. Dari liburan, bukankah yang paling penting adalah apa yang kita lihat dan rasakan yaitu ketenangan dan kebahagiaan? Soal bisa menjajal makanan A B C di kota mana, beli oleh-oleh,itu kan bonus. Bisa berlibur tanpa mabuk kendaraan saja sudah syukur. Kalau belum memungkinkan lebih baik jangan memaksakan daripada harus puyeng setelah selesai liburan. Niat mau menghilangkan stres dari aktivitas dan melanjutkan aktivitas dengan pikiran fresh malah nambah stres pasca liburan karena boros, kan repot.


Sayidah Chovivah

Santri. Tangan kanannya sendiri.