Si Rangking Satu Sekarang Jadi Apa? (Part 2)

Indozone

Cangkeman.net - Setelah hampir satu bulan vakum, akhirnya Cangkeman kembali menerbitkan sebuah artikel. Artikel tersebut ditulis oleh mbak Thiara dengan judul “Si Rangking Satu Sekarang Jadi Apa?”.

Saya pun menyambut hal ini dengan senang. Pertama, karena hal ini merupakan pertanda bahwa Cangkeman sudah mulai membaik dan yang kedua karena isi dari artikelnya relate dengan pengalaman saya ketika SMA.

Tulisan singkat tersebut berhasil membangkitkan beberapa ingatan kurang menyenangkan. Yap, saya termasuk siswa yang ambisius. Hal itu dapat dibuktikan dari prestasi yang saya raih, di mana selama 6 semester (kelas 1-3 SMA) saya selalu memperoleh ranking satu di kelas. Dan terhitung beberapa kali saya mendapatkan juara paralel antar kelas IPA dalam satu angkatan.

Kenapa hal yang seharusnya membanggakan ini justru saya sebut sebagai ingatan yang kurang menyenangkan? Jawabannya adalah karena saya sering di-bully hanya karena jadi ranking 1.

Saya memang sering tidak memberi contekkan saat ujian. Tapi saya selalu siap sharing, belajar bersama, dan diminta menjelaskan apa yang mereka belum paham (kalau saya sudah paham) tentang suatu materi, tapi perlu digaris bawahi ‘sebelum ujian’ dimulai. Kalau memberi contekkan saat ujian saya memang tidak mau karena itu sudah menjadi prinsip saya sendiri dan tidak fair juga kalau saya harus selalu menuruti apa yang mereka mau.

Bisa dibilang saya termasuk beruntung dalam hal prestasi akademik. Tapi tidak dalam masalah pertemanan. Jumlah teman yang benar-benar baik dan sefrekuensi dapat dihitung jari. Selebihnya mereka hanya mendekat saat ulangan Fisika, Matematika, dan Kimia atau ketika ada tugas yang sulit saja.

Lucunya setelah ujian itu selesai, mereka selalu kembali mem-bully saya. Kalimat semacam “Sekarang sih rangking 1, tapi biasanya yang pinter itu malah gak jadi apa-apa nantinya!”, “Ngapain sih ambis banget?, ortu gue aja sekarang sukses dan kaya raya padahal dulu males banget”, “Dasar jagoan kelas, main bola aja gak bisa!” dan kalimat sejenisnya masih terekam jelas di kepala.

Di sini, saya ingin membedah beberapa pertanyaan yang sering dilontarkan kepada si rangking 1, yang mungkin saja mereka belum bisa menjawab atau tidak punya kesempatan untuk menjawabnya. Semoga ini bisa mewakili kalian yang senasib dengan saya ya..

Kenapa Si Rangking 1 Ambisius Banget, Sih?

Jawaban dari pertanyaan ini sebenarnya se-simpel bahwa setiap orang punya background dan mindset yang berbeda-beda.

Mungkin bagi kamu masa sekolah atau kuliah adalah waktu untuk bisa have fun, dan itu sah-sah saja. Tapi kamu juga harus tau kalau bagi beberapa anak, bisa merasakan nikmatnya pendidikan adalah sebuah kemewahan yang luar biasa dan penuh perjuangan.

Dari pengalaman, saya berusaha mendapatkan rangking 1 agar dapat potongan SPP. Sekaligus bentuk penghargaan saya kepada orang tua yang sudah capek-capek bekerja di sawah, panas-panasan dan gajinya yang hanya 4 bulan sekali (saat panen) selalu habis untuk biaya pendidikan saya.

Banyak teman yang tidak tahu background saya, bahkan tidak mau tau. Saya jarang ikut kumpul dan join futsal antar kelas, karena uang saku yang saya punya kebanyakan menjelma menjadi tabungan kalau mendadak harus beli buku LKS, atau jika ada kegiatan mendadak yang perlu uang sehingga dengan tabungan itu tidak perlu menambah beban orang tua lagi.

Uang 10.000 bagi saya yang merupakan anak kos, rasanya lebih baik buat beli nasi padang daripada buat nongkrong sampai tengah malam. Pada saat itu, memilih nasi padang dibanding kopi adalah hal yang rasional untuk kondisi saya karena lebih kenyang dan tidak buang-buang waktu. Namun sepertinya hal tersebut justru membuat saya di-cap sebagai anak yang tidak mau bergaul.

Dan saya merasa, tidak perlu menjelaskan semua alasan dari setiap tindakan yang saya ambil, yang benci akan tetap benci, yang respect akan tetap respect.

Jadi, jika ada teman kamu yang menurutmu terlalu serius, gak asik, jarang mau diajak nongkrong, bisa jadi dia sedang bingung membagi waktu antara kerja dan kuliah, atau dia sedang sibuk membantu orang tuanya di sela-sela waktu sekolah. Seharusnya kamu merangkul dia, bukan malah menjauhi dan bahkan mem-bully.

Kenapa Suka Ngingetin Guru Kalau Ada PR?

Kamu pengen bangsa ini dipimpin sama orang yang jujur dan bertanggung jawab? Kalau iya, stop bully mereka yang jujur. Biasakan yang benar, jangan terus mencari pembenaran untuk kebiasaan yang salah!

Kenapa yang Dianggap Pinter Cuma yang Jago Itung-Itungan?

Kesalahan sistem pendidikan yang menjadikan anak emas ilmu itung-itungan, hendaknya tidak membuatmu membenci mereka yang diberi bakat itu oleh Tuhan.

Saya juga sering diremehkan oleh guru olahraga kok, saya juga sering dianggap goblok oleh guru musik karena tidak paham tempo. Tapi, hal itu sama sekali tidak pernah mebuat saya benci dengan mereka yang punya bakat di olahraga dan seni.

Karena setiap orang pasti ingin dihargai, apapun minat dan bakatnya. Semua bakat bisa saling menguatkan dengan kolaborasi, dan tidak perlu ada saling iri dan benci yang diperparah oleh sistem pendidikan yang selama ini hanya menggeneralisir dan penuh stigma.

Si Rangking 1 Sekarang Jadi Apa?

Jadi apa saja yang penting tetap jadi orang baik dan menebarkan manfaat untuk masyarakat. Keberhasilan sejati adalah yang diraih tanpa menjatuhkan yang lainnya. Percuma kalau sukses tapi suka merendahkan harga diri orang lain. Lagipula definisi sukses itu kan subjektif.

Beberapa teman rangking 1 yang saya kenal ada yang jadi PNS, ada yang jadi ibu rumah tangga, ada yang masih kuliah dan itu semua menurut saya adalah sebuah kesuksesan karena mereka fokus memperbaiki kehidupan yang mereka punya dengan cara dan ukuran masing-masing tanpa menjatuhkan orang lain.

Kalau saya sendiri, sekarang sudah bekerja di tempat yang sesuai dengan bidang yang saya sukai yaitu di industri sains terapan. Saya juga bisa lanjut kuliah sambil bekerja, nulis puisi yang merupakan hobi juga lanjut terus. Menurut saya itu juga merupakan sebuah kesuksesan, terlepas dari bagaimana standard sukses, saya memilih merdeka dari semua standard itu.

Kesalahan saya adalah menjawab pertanyaan yang sebenarnya sudah salah dari awal. Kenapa yang dipertanyakan hanya mereka yang rangking 1? Bagaimana dengan rangking 2, 3, 4, ..30, dan seterusnya? Apakah rangking 1 harus menanggung beban ‘standar sukses’ lebih berat dari yang lainnya?

Buat kamu yang sedang berjuang jadi rangking 1, berjuanglah dengan semangat!

Buat kamu yang punya bakat non-akademik, berprestasilah di bidangmu! Do your best and keep humble!

Ayo saling menhargai dan saling memahami! Semoga kalian yang baca tulisan ini bisa mendapatkan pengalaman sekolah dan kuliah yang lebih baik daripada saya ya.., khususnya dalam hubungan pertemanan.

Buat kamu yang senasib dengan saya, it’s okay, kamu gak harus lupa dengan semua pengalaman buruk itu. Tapi kamu harus lebih fokus pada hal baik yang sudah kamu dapatkan dan lakukan demi kesehatan mentalmu sendiri. Tetap semangat, jadilah apapun yang kamu mau!

Sampai jumpa di tulisan berikutnya…..!


Galih Agus Santoso

Anak teknik yang cinta sastra. Bisa diajak kenalan di instagram dengan akun @santosoogalih..