Merokok Agar Dipandang Dewasa Merupakan Alasan Nyeleneh

Vladyslav Dukhin on Pexels

Cangkeman.net - Tulisan ini tak sengaja tercipta tatkala penulis berpapasan dengan siswa SMA. Di bawah langit pagi Jakarta yang sudah ribut, ia sibuk klepas-klepus bagai perokok andal di jalan. Timbul pertanyaan, “Apakah nanti di sekitar tubuhnya tak dihinggapi aroma rokok?” Toh biasanya, bagian kesiswaan pasti sudah berdiri di depan pintu sekolah, tempatnya belajar dan menuntut ilmu. Kalau ketahuan, bisa berabe tuh anak.

Bukan, bukan. Penulis bukanlah satgas anti-rokok. Toh, pada kenyataannya, saya pun perokok aktif. Entah sudah berapa ribu batang rokok telah terhisap, berapa juta uang telah terbakar, tak pernah sekalipun dihitung. Kalau diingat-ingat, penulis pun sudah menggeluti aktivitas merokok bahkan sebelum mengenakan seragam putih abu-abu. Barangkali siswa tersebut juga demikian.

Timbul pertanyaan lain, “Apa yang menyebabkan seseorang akhirnya memulai untuk merokok?” Tentu saja perkara ini sudah banyak yang meneliti. Kita bisa menemukannya berbagai informasi yang terkait dengan fenomena ini di mana pun. Namun, penulis berusaha untuk membawakannya dengan perspektif yang sedikit berbeda.

Merokok merupakan suatu kegiatan bertamasya. Bagi yang merokok, tentu saja. Sebetulnya juga tidak ada dampak positif lain yang ditimbulkan dalam diri perokok selain menghibur diri pada waktu luang. Beda cerita, sih, kalau sudah mengalami kecanduan.

Kecanduan. Merupakan masalah klasik yang dihadapi setiap manusia. Dalam kasus merokok, pada tahapan tertentu, perokok bisa sakau akibat kekurangan asupan nikotin dalam diri. Pasti kita pernah menemukan jawaban atas pertanyaan yang diberikan pada perokok alasan dibalik mereka melakukan kegiatan ini. Jawaban klisenya, “Saat merokok, bisa membuat diri lebih tenang, alias rileks”, atau bentuk jawaban lain yang punya makna sama.

Tentu jawaban tersebut ada benarnya. Lah, mereka sudah kecanduan. Kadar nikotin dalam diri sudah di atas batas wajar. Karena begini, manusia sebetulnya telah dibekali berbagai zat. Pada tahapan tertentu, suatu zat akan mengalami peningkatan, contohnya kadar nikotin. Jika zat tersebut asupannya berkurang, akan menimbulkan suatu hal. Kepala menjadi mumet salah satunya. Untuk itulah mereka berusaha agar segera memberikan asupan nikotin dalam diri. Selanjutnya seperti jawaban klasik yang saya tulis di paragraf sebelumnya, menjadi rileks dan santai. Karena jika tidak terpenuhi, maka kepala mereka tetap mumet. Barangkali juga menimbulkan dampak lain, mudah uring-uringan, senewen, dan seterusnya.

Gambaran di atas mampu memberikan penjelasan alasan meningkatnya jumlah batang rokok yang dihisap seseorang. Mungkin dulunya hanya sebatang, kemudian berlanjut menjadi tiga, setengah bungkus, bahkan bisa saja merokok sebungkus dalam sehari. Sebab dari kadar nikotin dalam diri yang terus meningkat, mengakibatkan yang bersangkutan harus meningkatkan pula jumlah batang rokok yang mesti dihisap setiap hari. Kalau tidak begitu, akan mengalami fase sakau kekurangan nikotin. Berbagai bentuk negatifnya pun sudah diterangkan pula pada paragraf sebelumnya.

Dari penjelasan tersebut, penulis pikir sudah memberikan sedikit gambaran alasan sulitnya seseorang mampu betul-betul terlepas dari rokok. Terkadang, niat saja tidak mampu membendung keinginan berhenti merokok. Dalam kasus yang ekstrim, perokok lebih memilih untuk tetap melakukan ritual merokok meski harus mengorbankan hal-hal tertentu. Misalkan, dalam kesulitan ekonomi, bukannya mengurangi rokok, malah mengorbankan jatah uang makan. Mereka lebih memilih makan ala kadarnya daripada mengurangi aktivitas merokok. Bukan main. Mampu membuat orang-orang disekitar menggelengkan kepala.

Teringat suatu kejadian lucu bin goblok saat penulis masih duduk di bangku SMA. Alkisah, teman sekelas kepergok merokok di toilet oleh guru bagian kesiswaan. Kena gampar lah dia. Kemudian, digiring oleh sang guru, teman saya mempraktikkan merokok di depan kelas sambil berkata, “Jangan tiru saya.” Tak lupa bapak guru meminta siswa lain untuk memberikan tepuk tangan. Suasana kelas menjadi riuh gaduh. Cerita berakhir menjadi bahan dasar gunjingan geng. “Sok jago sih lu!” Kira-kira begitu yang saya katakan pada teman yang sengaja menceburkan diri pada kebodohan, lalu mengantarkannya ke sebuah kesialan yang diundang sendiri.

Sok jago. Merupakan sebentuk perilaku yang biasa dilakukan oleh manusia-manusia yang sedang mengalami ledakan hormon dewasa. Pada fase remaja memang penuh kebingungan. Satu sisi, mereka masih dianggap atau menganggap diri sebagai anak-anak. Namun di lain sisi, terdapat unsur kedewasaan yang mulai tumbuh atau diperkenalkan. Maka, tidak heran, pada tahapan ini, adanya dua lakon yang harus dijalankan membuat para remaja tak jarang mengalami kesulitan. Hal ini akan terus dihadapi sampai awal hingga pertengahan masa perkuliahan. Kira-kira usia dua puluh tiga lah.

Mungkin, salah satunya agar dianggap dewasa adalah dengan merokok. Karena memang untuk melakukannya setidaknya harus berusia tujuh belas alias mempunyai KTP. Kalau sudah punya, dianggap dewasa. Setidaknya secara administrasi negara. Namun tak jarang banyak dari remaja tak sabar untuk dianggap dewasa. Merokok barangkali dianggap sebagai suatu aspek agar dipandang dewasa.

“Memang, apa sih enaknya menjadi dewasa, sampai-sampai manusia tanggung itu tak sabar menjejaki fase kedewasaan?” Lagi, sebuah pertanyaan klasik menggantung dalam pikiran ketika saya menghisap rokok sambil menatap cairan kopi didalam cangkir. Gelap.

Menjadi dewasa lebih banyak gelapnya. Suatu kali, rasanya diri ini ingin punya kemampuan menciutkan usia, atau mengecil menjadi bagian dari ampas kopi, berenang-renang di pinggir cangkir, melayang-layang di tengah lautan hitam pekat yang seolah tanpa dasar. Kemudian tenggelam tanpa ada kehendak untuk kembali.

Kadang, menatap saja bisa tak mampu. Karena di depan manusia-manusia dewasa lebih banyak masalah yang harus diselesaikan. Itu kalau ingin menjadi orang dewasa yang keren. Lari dari masalah bukanlah suatu cara yang direkomendasikan. Demi menyelesaikan suatu masalah, kadang harus mampu bersikap kooperatif dengan berbagai pihak. Tak bisa semau sendiri atau memaksakan kehendak. Sesuatu hal yang sangat biasa dilakukan para remaja.

Saya pikir, alangkah lebih baik bagi kalian yang belum memasuki fase dewasa, agar lebih menikmati fase kalian dulu daripada terburu-buru masuk pada tahap selanjutnya. Apalagi sampai mencari aspek nyeleneh yang dianggap dewasa.


Angga Prasetyo
Kontributor ini masih malu-malu untuk menceritakan dirinya. Dapat ditemui di Instagram @anggaprass