Mengumbar Privasi Demi Atensi, Menjual Kepalsuan Demi Diagungkan, Duh Budak Media Sosial

Dalila Dalprat on Pexels

Cangkeman.net - Disadari atau tidak kita semua sudah telanjur menjadi budak likes dan pengakuan diri dari orang lain, begitulah fenomena yang saya pahami saat ini dari media sosial yang nggak pernah lepas dari konten tentang mengumbar privasi diri dan pamer kehidupan. Kalau nggak percaya coba ketika scroll media sosial apapun, pasti akan selalu disuguhi dengan konten-konten viral tentang kehidupan orang lain yang terlihat sempurna, seperti lagunya Andra and the backbone.

Maka dari itu media sosial secara gak langsung juga punya andil besar membuat batasan privasi seseorang itu semakin abu-abu alias buram, karena nggak sedikit orang yang membuat sosmed itu sebagai diary kehidupan dan menganggap semua itu hal yang lumrah.

Misalkan hal-hal yang sering dilakukan oleh anak muda zaman sekarang seperti habis jadian, dibuat story wa, eh besoknya malah ketikung. Punya masalah keluarga, jadiin snapgram captionnya “broken home”. Lagi ada masalah di kantor, bikin thread panjang banget, biar jadi trending dan seluruh rakyat Indonesia tahu, satu kata dari saya “norak”. Kok bisa sih jempol anak muda zaman sekarang terlalu ringan untuk membagikan banyak hal tentang kehidupannya yang nggak pantas untuk dibicarakan di depan umum?

Perilaku banyak nge-share tentang segala kehidupan pribadi yang seharusnya menjadi privasi itu biasa disebut dengan oversharing. Ketika banyak orang yang mengetahui tentang kehidupan pribadimu, akibatnya privasi yang kita miliki jadi berkurang. Begitu juga sebaliknya, ketika kita memilih untuk memproteksi diri dan nggak sembarangan membagikan kehidupan pribadi agar orang mengetahui tentang diri kita, ya akhirnya kita jadi punya privasi yang lebih banyak.

Ingat, ketika kita nggak tau batasannya, karena terlalu sering membagikan kehidupan pribadi kita di sosmed, dan berfikir bahwa "ah gapapa", ternyata hal itu bisa berubah menjadi sesuatu yang berbahaya buat dirimu sendiri. Gampangnya pelaku penipuan bisa dengan mudah menjadikanmu target mereka hanya dari informasi yang kita bagikan melalui media sosial pribadi. Mereka bisa dengan mudah mengaku temen deket, bos, atau keluarga, biar kita percaya.

Mungkin ada juga yang berpikir tapi aku bukan siapa-siapa, masa sih ada yang mau nipu kurang kerjaan banget, justru karena kita bukan siapa-siapa akan lebih mudah bagi pelaku penipuan mengelabui kita, kalau menipu artis atau orang terkenal lainnya mereka pasti punya pengacara yang siap sedia kalau kliennya kena masalah. Lah kalau orang biasa? Mana punya pengacara yang siap sedia, potensi jadi korban penipuannya jadi lebih besar dan lebih mudah dilakukan.

Maka dari itu beberapa alasan yang menjadi penyebab kenapa bisa punya hasrat yang tinggi untuk mengumbar kehidupan pribadi sendiri, salah satu penyebabnya lagi butuh perhatian yang tinggi. Ketika kita lagi butuh perhatian yang tinggi atau dalam istilah anak muda itu needy, kita akan mencoba ngelakuin berbagai macam cara termasuk mengorbankan batasan diri sendiri, yaitu dengan oversharing. Kurang lebih oversharing di sini kayak semacam magnet buat dapetin perhatian atau pengakuan dari orang yang lagi disukai, semacam itulah gimana jelasinnya ya.

Alasan selanjutnya kenapa orang-orang kok bisa dengan mudah membagikan kehidupan pribadinya di media sosial, bisa jadi karena memang nggak aware aja alias gak pernah diajarin bahwa ada batasan-batasan tertentu tentang kehidupan pribadi yang nggak boleh dibagikan di media sosial.

Contohnya mengenai identitas diri, banyak di antara kita yang sama sekali nggak sadar kalau identitas diri itu sifatnya krusial banget, nggak boleh sembarangan. Alhasil banyak dari kita yang dengan latahnya ikutan trend biar dianggap keren Misalkan ngasih tau alamat rumah, atau nomor hp pribadi yang menurut kita itu cuman buat seru-seruan ternyata malah menjadi berbahaya.

Boleh ikutin trend tapi harus tau batasannya!

Dalam artian lain, sharing-nya itu gak ada masalah, namun kesadaran untuk sharing secara bijak yang patut untuk diperhatikan. Nah ketika kita gak tau konsekuensi dari privasi yang sudah diumbar, besar kemungkinan kita juga nggak tau jenis privasi orang lain yang perlu dihormati. Dan hal ini menjadi salah satu alasan mengapa kita sering nemuin kasus orang yang sering nge-publish privasi orang lain secara bebas di medsos, atau nge-doxing, semua hal itu di spill, diceritain nama lengkapnya siapa, kelakuannya gimana, ceritain sesuatu yang bisa jadi masalah pribadi seseorang yang pada akhirnya malah merugikan kedua belah pihak.

Muhamad Irfan

Mahasiswa biasa saja yang tidak terkenal.