Awas, Dropout!

Thisisengineering on Pexels

Cangkeman.net - Dropout atau putus kuliah artinya terhentinya proses pendidikan jenjang perguruan tinggi di tengah jalan yang disebabkan oleh suatu hal. Sebuah fenomena yang selalu ada sepanjang masa di dunia pendidikan. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi pada tahun 2020 mengeluarkan data statistik mengenai fenomena putus kuliah. Disebutkan angka putus kuliah pada tahun 2019 di Indonesia sebanyak 602.208 atau 7% dari 8.483.213 total mahasiswa yang terdaftar. Sementara pada tahun sebelumnya sebesar 8%.

Terlepas angka atau persentase tersebut dianggap besar atau kecil, fenomena putus kuliah pasti mempengaruhi banyak aspek. Misalkan dari sudut lingkungan pendidikan seperti: universitas, fakultas, dan jurusan, akan berpengaruh akreditasi. Barangkali, akreditasi bisa diibaratkan sebagai standar mutu. Jika suatu mengalami penurunan, maka nilai tawar akan bernasib sama. Hal ini juga menungkinkan kemampuan untuk menjaring calon mahasiswa baru akan berkurang daripada sebelumnya. Secara teknis, rasanya juga tidak berlebihan jika turunnya angka akreditasi dianggap sebagai penurunan kinerja berbagai pihak terkait di kalangan perguruan tinggi. Hanya berdasarkan dari sudut pandang sesempit ini, saya yakin, putus kuliah merupakan kondisi yang wajib dihindari oleh perguruan tinggi manapun.

Sementara dari pihak mantan mahasiswa yang mengalami putus kuliah, dampak nyatanya bisa dilihat dari cita-cita menjadi sarjana akan terbang bersama angin. Jelas, fenomena didepak dari kampus menjadi momok serupa hantu di kalangan mahasiswa. Menyeramkan. Bahkan, tercetus sejak dalam alam pikiran pun wajib dihindari.

Memang, saat ini, kita mudah menemukan narasi berisi kisah suatu tokoh punya pendidikan hancur lebur tetapi punya kesuksesan pada suatu bidang. Namun berapa banyak yang sukses? Muncul asumsi di dalam pikiran, “Jangan-jangan, yang gagal lebih banyak daripada yang berhasil?”

Adanya narasi bahwa kuliah itu tidak penting, tidak membuat minat untuk melanjutkan pendidikan tinggi menjadi berkurang. Memang, saya tidak memegang suatu data akan hal ini. Hanya berdasarkan keyakinan. Menurut keyakinan saya, minat untuk melanjutkan pendidikan jenjang pendidikan di atas SMA/Sederajat masih tinggi. Setidaknya, demi mendapatkan ijazah yang diperuntukkan dalam melamar pekerjaan.

Kuliah seakan-akan menjadi jembatan menuju tempat bernama masa depan yang lebih baik. Kuliah sangat jelas menawarkan hal itu. Jika seseorang menjalankan masa kuliah dengan baik dan benar, mampu melahirkan banyak penawaran lebih baik daripada jenjang pendidikan sebelumnya.

Namun, mereka yang putus kuliah, seakan-akan berjalan di atas jembatan, lalu terjatuh ke jurang. Dalam. Gelap. Pekat. Tak ada harapan tentang masa depan. Tak ada jalan keluar. Tak ada secercah cahaya. Malah, timbul pikiran dan perasaan bahwa akan terjebak selamanya di dasar jurang. Kegagalan masa studi sangat mampu melahirkan ketakutan dan kecemasan apabila membicarakan masa depan.

“Apa yang harus dilakukan sekarang?”

Barangkali itulah pertanyaan yang menuntut jawaban dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Karena hidup harus tetap berjalan meski latar belakang studi hancur lebur. Kalau sudah enggan dalam menjalankan, kematian mungkin menjadi solusi, terlepas dari masalah yang dihadapi. Untuk apa menjalankan hidup kalau sudah tak mau?

Mungkin ada benarnya kegagalan masa studi bukanlah akhir dari segalanya. Namun segalanya menjadi lebih rumit jika mengalami kegagalan dalam pendidikan. Kalau bukan masalah berkurangnya penawaran dalam urusan pekerjaan, atau harus menghadapi cibiran yang dialamatkan kepada kaum dropout, paling tidak harus menghadapi berbagai pikiran dan perasaan negatif yang tumbuh dalam diri. Kadang hal ini tidak mampu dikendalikan. Bisa muncul dan berkembang begitu saja.

Bagi manusia yang berhasil lulus kuliah dengan baik dan benar, atau para tenaga pendidik dan pihak universitas, mahasiswa dropout tidak lebih dari manusia malas dan tak bertanggung jawab atas pilihan yang diambil. Padahal, mantan mahasiswa tersebut dianggap telah memutuskan berkuliah tetapi malah mengakhiri dengan cara salah dan tidak baik. Di sini timbullah stigma.

Sebuah stigma terjadi atas suatu pandangan seseorang kepada orang lain yang memiliki suatu ciri negatif. Kemudian, dijadikan dasar dalam bersikap ditujukan kepada mereka yang dipandang rendah atau buruk. Hal ini mempengaruhi diri yang menerima stigma.

Saat seseorang mendapatkan sesuatu yang buruk dalam kehidupan, dibutuhkan proses penerimaan. Karena mendapatkan suatu stigma, proses tersebut berjalan lebih lambat. Padahal, penerimaan sebuah kejadian buruk merupakan langkah awal yang berdampak besar. Jika langkah pertama mengalami hambatan atau sudah menjadi gangguan besar, berpengaruh pada berbagai tahapan lain.

Suatu stigma yang tersemat kepada kaum dropout mampu menimbulkan berbagai stressor atau tekanan, kemudian mempengaruhi pikiran. Pikiran merupakan sesuatu yang unik. Ada kalanya manusia tak mampu mengendalikan pikirannya sendiri. Jika pikiran sudah kacau, maka akan mempengaruhi hal lain, perilaku salah satu contohnya. Hal ini bisa saja semakin parah ketika sempitnya penerimaan diri pasca dikeluarkan dari kampus di lingkungan sosial mereka.

Terlebih di masa sekarang. Kita lebih mudah menemukan orang-orang yang berhasil dalam pendidikan. Bukan saya menganggap sepele. Namun, dengan banyaknya informasi tersebut, saya merasa bahwa yang gagal dalam studi, seakan-akan menjadi pihak yang sulit membagikan kisah. Seperti ruang bercerita hanya penuh dan disesaki yang berhasil. Karena sebetulnya, tidak semua orang mampu meraih keberhasilan.

Dengan adanya tulisan ini, saya berharap bagi yang membaca, mampu mendapatkan suatu gambaran kecil tentang fenomena ini. Juga, bagi yang sedang mengalami masa kritis dalam masa studi, harapan saya, akan lebih sadar dan segera menyelesaikan pendidikan dengan cara yang baik dan benar. Pokoknya, segera selesaikan masa pendidikan meski mungkin sekarang dalam kondisi kehidupan sedang tidak enak dan sedikit banyak mulai mempengaruhi kelancaran studi. Percayalah, kehidupan pasca dropout lebih tidak enak. Kalau tidak percaya, monggo, silakan bertanya kepada mereka yang menyandang titel dropout.


Angga Prasetyo
Kontributor ini masih malu-malu untuk menceritakan dirinya. Dapat ditemui di Instagram @anggaprass