Kenapa Diskusi Selalu Dipandang Lebih Baik daripada Debat?

Fauxels on Pexels

Cangkeman.net - Kata salah satu filsuf klasik, yaitu Aristoteles, manusia itu adalah zoon politicon, atau pengertian umumnya: Manusia itu dikodratkan untuk berinteraksi satu sama lain. Perihal interaksi ini tentu tidak lepas dengan yang namanya pemahaman. Tujuan inti dari berinteraksi itu sendiri tidak lain ialah untuk menerima pemahaman dari subjek atau komunikator, agar kemudian terjalin pola hubungan sosial.

Meskipun perkara interaksi ini sekilas sederhana, tapi ia memiliki aspek-aspek yang kompleks dalam praktiknya. Banyak problem-problem pada entitas interaksi yang kadang kala nggak menjadikan pola hubungan sosial, tapi malah menimbulkan pola perpecahan sosial. Hal itu memang sesuatu yang lazim untuk eksistensi manusia: Kesalahpahaman maupun perbedaan pendapat. Namun, juga menjadi perlu dibahas apabila perkara interaksi ini masih pekat dengan kerancuan pemahaman.

Seperti halnya perkara berdebat dan berdiskusi yang selama ini masih dipahami orang-orang secara salah kaprah. Kesalahpahaman yang tersemat pada kedua istilah itu saya pikir sudah di taraf “hiper klise”, yaitu yang katanya kalau berdiskusi itu berarti baik, sedangkan kalau berdebat berarti buruk. Padahal, dalam literatur komunikasi dan metodologi pembelajaran, keduanya itu sama-sama baik; sama-sama menyediakan proposisi yang baik untuk interaksi manusia.

Mengenal Apa itu Berdebat dan Berdiskusi
Dilansir dari Zenius.net, ada perbedaan antara berdebat dan berdiskusi, berdebat ialah kegiatan menyampaikan argumentasi antar dua orang atau kelompok, dengan bertujuan mencari argument mana yang paling benar. Sedangkan diskusi, adalah kegiatan pertukaran pendapat terhadap suatu topik, dengan bertujuan mencari titik temu atas sebuah masalah yang dihadapi.

Senada dengan itu, seorang pakar linguistic, Henry Guntur Tarigan menyatakan bahwa berdebat adalah suatu kegiatan saling beradu argumen antar pribadi atau kelompok untuk menentukan baik dan tidaknya suatu usulan tertentu yang didukung oleh suatu pendukung dan disangkal oleh penyangkal. Sedangkan berdiskusi menurut penulis buku Pendidikan guru, Uzer Usman, diskusi ialah proses yang melibatkan sekelompok orang dalam interaksi dengan berbagai pengalaman atau informasi, pengambilan kesimpulan atau pemecahan masalah.

Dari berbagai macam pengertian di atas, kita bisa ambil kesimpulan bahwasannya diskusi dan debat memang berbeda, tapi keduanya sama, yaitu sama-sama berorientasi pada integrasi pengetahuan. Diskusi tarafnya lebih ke arah afirmatif dan kerja sama, sedangkan debat tarafnya ke arah penegasian nalar logika tentang suatau pengetahuan yang dirasa kurang tepat. Dengan begitu, apakah debat masih terkesan buruk daripada diskusi?

Perbandingan antara Berdiskusi dan Berdebat
Perihal debat ini sama halnya dengan apa yang disebut “dialektika”. Filsuf seperti Hegel menjelaskan tentang epistemology atau teori pengetahuan, bahwa pengetahuan bisa didapat melalui dialektika, yaitu metode penalaran logika yang terdiri dari tesis (pengiyaan), antithesis (pertentangan), dan sintesis (penyusunan). Hegel berpendapat demikian utamanya berangkat pada asumsi bahwa sebenar-benarnya pengetahuan itu haruslah diuji dengan pengetahuan yang lainnya, agar sampai pada konklusi yang sempurna.

Bila balik pada perihal berdiskusi dan berdebat, kedua hal itu kan, merupakan metode untuk memperoleh pengetahuan. Hanya saja berdiskusi terkesan baik karena konsepnya yang cenderung tidak mendekonstruksi atau menghargai sebuah pendapat. Tapi, pada intinya antara berdebat dan berdiskusi itu sama-sama untuk memperoleh pengetahuan.

Berdebat kalau ditelaah lebih lanjut sebenarnya lebih efisien dan efektif karena ia tidak hanya memperoleh pengetahuan, melainkan juga untuk memperoleh penguatan penalaran logika akan pengetahuan. Berbeda tipis dengan diskusi, ia lebih kuat pada penampungan pendapat ketimbang penguatan nalar. Mungkin, dari sini juga bisa dikatakan kalau berdebat itu termasuk ke dalam diskusi, tapi berdiskusi belum tentu termasuk berdebat.

Stigmatisasi tentang Berdebat
Kesalahpahaman tentang berdebat ini kerap kali muncul di berbagai situasi: Di sosial media seperti di TikTok, pernah ada konten yang menarasikan bahwa perdebatan hanya menimbulkan perpecahan; perdebatan hanya mencari pembenaran, bukan kebenaran; perdebatan membuat orang jadi kolot, nggak open minded; berdebat menghasilkan pembicaraan yang nggak sehat. Stigma-stigma semacam itu yang kemudian membuat orang-orang di luar sana selalu menghindar ketika berjumpa dengan istilah “perdebatan”.

Kesalahpahaman semacam itu tidak lain karena penalaran logika mereka tentang perdebatan yang bersifat pragmatis. Memang tak ayal, perdebatan sering menggambarkan kedua orang atau kelompok yang saling ngotot, terkesan nggak mau kalah, dan selalu mencari cara untuk survive dari belenggu kemacetan argumen. Tetapi, bukan berarti hal itu lantas disimpulkan sebagai kegiatan interaksi yang nggak sehat, kita harus benar-benar tahu dulu secara kritis tentang konsep yang tersemat pada istilah debat. Toh, kalau misalnya memang berdebat itu kegiatan yang nggak sehat, lalu mengapa ia masih ada sampai sekarang sebagai judul pola hubungan sosial? Bahkan sekelas institusi Pendidikan pun masih kerap mengadakan lomba perdebatan.

Mengembalikan Makna Debat dari Stigma Sosial
Jadi, stigma-stigma tentang perdebatan tadi yang katanya menghasilkan kekolotan, nggak open minded, menjadikan pembicaraan yang tak sehat, itu semua menurut saya adalah anggapan dari orang-orang yang belum mampu melihat pembicaraan yang berorientasi pada pengetahuan. Mereka yang menganggap berdebat itu buruk berarti masih pongah dengan pendapatnya sendiri; pongah terhadap dirinya sebagai makhluk yang bisa salah dan bisa benar.

Kalau sebuah pendapat itu memang benar-benar “benar”, maka apa salahnya ia diuji di dalam perdebatan. Kan, juga menjadi nilai plus apabila pendapat kita nantinya salah maupun benar. Ada banyak pelajaran juga yang diperoleh dari lawan debat, termasuk dalam hal penalaran dan pengetahuan. Yang menjadikan perdebatan itu seolah menyakitkan dan buruk, itu ya karena kita nggak percaya diri dengan penalaran kita sendiri; sebuah perbincangan tentang pengetahuan disandarkan pada sentiment, bukan pada argument.

Dalam hal ini bukan berarti saya memaksa teman-teman untuk selalu berdebat, terserah mau pakai metode yang mana untuk memperoleh pengetahuan. Saya di sini cuma meluruskan logika orang-orang tentang berdebat yang sudah terstigmatisasi. Yang terpenting, antara berdebat dan berdiskusi, selalu ingat bahwa jangan sampai menyerang personal. Berdebat dan berdiskusilah dengan baik, keduanya hanyalah alat, perkara baik ataupun buruk, itu tegantung dari bagaimana cara mainnya.


Achmad Fauzan Syaikhoni
Manusia setengah matang, yang sedang fakir pengetahuan. Kalau mau menyumbang pengetahuan, bisa kirim lewat Instagram saya @zann_sy