Kenapa Kuliah Harus Rajin Isi Presensi?

Pixabay on Pexels


Cangkeman.net - Jika ada kemiripan judul tulisan ini terhadap tulisan sebelumnya, maka hal ini memang disengaja. Karena tulisan ini secara khusus akan menanggapi tentang tulisan sebelumnya itu.

Tulisan sebelumnya ditulis oleh salah seorang yang cukup aktif menulis di Cangkeman dengan atribusi pada biodatanya tertulis "Manusia setengah matang, yang sedang fakir pengetahuan."

Karena beliau ini masih manusia setengah matang yang sedang fakir pengetahuan. Mungkin tulisan ini yang merupakan sanggahan untuk tulisan beliau akan sedikit menjadikan beliau lebih matang dan lebih berpengetahuan lagi. Siapa tau sehabis ini ganti atribusi jadi "Manusia 3/4 matang, cukup pengetahuan." heuheu.
 
Sebenarnya di awal tulisan beliau ini saya sudah cukup menyadari kalau isi tulisannya hanya akan pada taraf "Good" dan tidak sampai pada taraf "Great". Hal ini terlihat ketika beliau menyebutkan kekecewaanya karena tidak lulus akibat "percobaan" yang beliau lakukan.
 
Jadi ada satu peraturan. dia mencoba melanggar, dia dapat hukuman, eh dia kecewa. Ra mashhook.
 
Sebagai seorang akademisi, melakukan percobaan-percobaan, analisi, itu hal yang biasa. Tapi di sini akademisi ini terbagi menjadi dua. Yang satu yang lebih mengutamakan hasil, yang lainnya justru bahagia dengan proses penelitiannya. Seperti kata seorang fisikawan asal Amerka Serikat, Richard Feynman, "The difference between a good student and a great one is that a good students is concerned more about the outcome while a great one is fascinated by the process learning."
 
Nah mungkin penulis artikel sebelum ini hanya berorientasi pada hasil bukan prosesnya. Yah ga ada masalah, ga semua mahasiswa harus menjadi mahasiswa yang "Great". Menjadi "Good" juga sudah cukup baik. Tapi masalahanya kok hasilnya udah ada ehh masih kecewa juga. Ini maunya apa?
 
Beliau ini meminta seorang akademisi harus taat dengan pikiran, bukan dengan aturan. Tapi dalam tulisannya banyak hal yang mengarah kalau penulis ini tidak taat dengan pikiran, bahkan dengan pikiranya sendiri. Mari kita bedah!
 
Menurut beliau sang penulis pada artikel sebelum ini, bahwa aturan wajib menghadiri kelas perkuliahan adalah aturan tidak logis. Dia berpikir dia sudah membayar pihak kampus untuk memberikan dirinya pengetahuan. Perkara dia datang ke kelas atau tidak, itu bukan urusan pihak kampus. Kampus hanya menyediakan tata cara bagaimana dia sebagai mahasiswa terbutuhi kebutuhannya dalam mencari ilmu pengathuan. Nah di sinilah beliau ini tidak tunduk pada pikirannya.
 
Ketika kita sebagai mahasiswa sudah memutuskan untuk berkuliah pada suatu universitas, tentu kita percaya kepada kampus tersebut akan memberikan ilmu pengetahuan kepada kita. Oleh karena itu kita membayarkan sejumlah uang sebagai "barter" atas ilmu yang kampus berikan kepada kita.
 
Dalam memberikan ilmu pengetahuan kepada mahasiswanya, setiap kampus memiliki sistem dan cara tersendiri. Salah satu caranya adalah dengan menerapkan peraturan kehadiran mahasiswa di kelas. Jangan buru-buru juga mengecap aturan seperti ini adalah cara transfer ilmu pengetahuan beraroma represif. Bisa jadi ada maksud lain di dalamnya.
 
Seperti yang penulis artikel sebelum ini sarankan, sebaiknya kampus mengajak mahasiswa diskusi terkait pemahaman eksistensi dirinya. Yahh gimana mau diskusi kalau mahasiswanya enggak ada yang masuk ke kelas? Bisa jadi kan bahwa peraturan wajib presensi itu tujuannya utamanya adalah menghadirkan manusia sebanyak mungkin di kelas agar ruang diskusi lebih luas karena banyak kepala yang terlibat. Kalau tidak ada "pemaksaan" kehadiran, justru kampus akan menjadi sepi, tempat yang harusnya menjadi ruang diskusi hanya menjadi tempat mengerjakan UTS dan UAS.
 
Jika merasa pintar hanya karena mampu mengerjakan UTS dan UAS, maka perlu kita kaji kembali fungsi dari ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan sendiri adalah alat yang digunakan untuk mempermudah kehidupan kita. Dalam kehidupan kita, kita hidup berdampingan dengan banyak manusia lainnya. Maka pengetahuan yang paling utama bagi saya adalah bukan bisa mengerjakan UTS dan UAS, tapi bagaimana cara kita menghormati orang lain, bagaimana cara kita memperlakukan manusia lainnya.
 
Kehadiran di kampus bukan hanya sekadar kita memperoleh pelajaran dari dosen. Di sana kita belajar bagaimana menghargai seorang dosen yang jauh-jauh dari rumahnya ke kampus. Memang kita sudah membayar, tapi yang kita bayar hanya ongkos bensinnya, makanannya, alat tulisnya, kita tak pernah bisa membayar pengalaman rasa yang dosen itu sampaikan kepada kita.
 
Saya sendiri berkuliah di kampus yang tidak mewajibkan kehadiran di kelas. Setiap hari mahasiswa yang hadir paling banyak 20 persen dari total mahasiswa di kelas. Saya dapat pastikan, saya termasuk dalam 20 persen itu. Bukan karena saya butuh nilai, wong beberapa mata kuliah kerap kali saya minta ke dosen agar tidak meluluskan saya karena saya belum puas dengan proses belajarnya. Rumah saya terhitung juga paling jauh dari kampus dibanding mahasiswa lainnya. Secara pengetahuan juga saya berani beratruh saya akan masuk 5 orang terpintar di kelas saya, jadi bukan berarti saya haus ilmu pengetahuan sekali sehingga rajin ke kampus. Saya hanya sedang menikmati proses belajar. Enggak masalah banyak mengulang, bagi saya mengulang bukanlah hukuman. Mengulang yah mengulang, kaya kita baca buku terus baca lagi, sesimpel itu.

Kalau toh tidak setuju dengan aturan dosen, ajaklah dosennya berdiskusi. Mereka juga manusia bisa ngobrol juga. Ajak mereka ngobrol. Kalau kamu pengen ada diskusi di kelas, coba kamu pantik diskusi itu.

Baru-baru ini juga saya tidak mengerjakan tugas dari dosen yang menyuruh mahasiswanya menonton tayangan miliknya di channel Youtube miliknya juga. Saya tentu tidak setuju dengan tugas-tugas seperti itu. Tapi nanti jika di akhir semester saya tidak lulus karena itu, nah di situlah saya debatin itu dosen, saya ajak diskusi. Kalau toh akhirnya buntu dan memang harus mengulang yasudah saya mengulang saja dan syukur-syukur di mata kuliah tersebut di semester depan dapatnya bukan dosen itu lagi.

Jadi begitu, kisanak. Kalau kamu enggak suka sama peraturan, ajak ngobrol dulu pembuat peraturannya. Cari tau dulu tujuan peraturan itu dibuat. Bagaimana kamu memimpikan ruang diskusi di kelas kalau kamu saja takut memulai diskusi yang kaitannya dengan dirimu sendiri.