Ini yang Harus Kamu Lakukan Ketika Membeli BBM di SPBU!

CNBC Indonesia

Cangkeman.net - Entah kenapa, sampai sejauh ini kegiatan mengantre di SPBU saya rasa masih penuh dengan problem moral masyarakat Indonesia. Apa tuh problem-nya? Sebenarnya sangat sederhana, dan saking sederhananya itulah yang mungkin akhirnya malah dianggap remeh oleh orang-orang wakanda.

Saya sebagai salah satu orang yang masih disuruh Tuhan untuk nyaman jadi pengendara motor, kadang kala kudu misuh kalau ketemu sama pengendara motor lainnya yang kurang ajar ketika antre bensin di SPBU. Wes nggak usah panjang-panjang prolognya, berdasarkan pengalaman saya, inilah 7 hal yang sudah seharusnya pengendara motor lakukan saat mengantre di SPBU.

Plis, jangan cuma dibaca, tapi dipraktikkan juga!

1. Matikan Mesin Meskipun Antrean Masih Panjang
Pertama-tama adalah enggan mematikan mesin motor ketika antrean masih panjang. Teruntuk kalian yang pernah melakukan ini, seberapa banyak, sih, tenaga yang dikeluarkan untuk mematikan mesin? Wong, ya, cuma tinggal menekan kunci kontak ke kiri, apa susahnya. Lagian, itu juga menghemat bahan bakar kalian, kan?

Mungkin, kalian akan menjawab, “Kalau antrean masih panjang, ya mending dinyalakan, ketimbang capek-capek ngedorong motor sambil nunggu giliran.” Iya… saya tahu itu capek, tapi pernah nggak, sih, kalian mikir kalau hal itu berpotensi menimbulkan banyak ketidaknyamanan? Misalnya saja, anda nggak terkontrol narik gasnya saat bergiliran, apa ya nggak menimbulkan slebor motor yang di depan kalian itu lecet nanti? Belum lagi, kalau seandainya knalpot motor kalian itu bunyinya bak sound system rusak. Udah ngebuat slebor lecet, ngebuat kuping risih pula.

Ya, bukan berarti ngejelekin mereka yang motornya pakai knalpot racing, tetapi maksud saya, cobalah sejenak matikan mesin motor meskipun antrean masih panjang. Di satu sisi itu biar menghemat bahan bakar, pun di sisi yang lain biar menghindari hal-hal yang nggak diinginkan. Toh, ngedorong motornya nggak sampai ratusan meter, kan?

2. Usahakan Isi dengan Takaran Nominal Rupiah yang Bulat
Saya sering menjumpai pengendara motor yang ketika ngisi bensin itu masih berdasarkan nominal per-liter. Perihal ini nggak salah juga, tapi kan lebih baik isi berdasrkan nominal rupiah “yang bulat”. Sekarang, mau pertalite atau pertamax, itu harganya kan decimal nominalnya. Hla…. kalau isi bensinya berdasarkan per-liter, apa ya nggak kesusahan petugas SPBU-nya buat cari uang kembalian. Kasihan sedikit lah. Dan, itu yang juga ngebuat antrean jadi lama loh.

Kalaupun memang terpaksa cuma punya uang pas-pas-an, hanya punya uang 12.500, misalnya. Ya, minimal, isi 12rb atau 10rb; isi dengan nominal yang bulat. Hal ini di satu sisi itu biar memperlancar proses uang kembalian kita, pun di sisi yang lain biar antrean nggak tambah lama. Toh, bedanya berapa mili liter, sih, nominal 500 perak dan 2rb rupiah.

3. Buka Penutup Tangki Sebelum Waktunya Diisi
Tentu untuk mengisi bensin, haruslah membuka penutup tangki terlebih dahulu. Tapi, bukan dalam pengertian sempit itu yang dimaksud.

Sampai sejauh ini, saya masih heran sama orang-orang yang kalau udah gilirannya isi bensin itu masih tergopoh-gopoh membuka penutup tangki bensinnya, bahkan sampai pernah saya menemui si petugas SPBU-nya itu menunggu si pengendara motor membuka tutup tangkinya. Hash… ndak masuk blasss…

Kalau dipikir-pikir, memangnya sebelum gilirannya, mereka itu ngapain, sih. Kan, mengantre itu kegiatan yang gabut, apalagi di SPBU itu nggak boleh mainan HP. Terus, ngapain…. gitu selama antre, sampai nggak sempat membuka penutup tangkinya.

Ya… kalau dibuka penutup tangkinya sebelum gilirannya, nanti bensinnya menguap, dong!

Iya, benar sekali bestieh… Tapi, at least bukalah penutup tangki itu ketika sudah tersisa satu antrean di depan. Emangnya sampai berapa menit sih, nunggu isi bensin satu motor doang! Kan, yo penak to nanti nggak tergopoh-gopoh, dan memperkecil jangka waktu antrean?

4. Siapkan Pembayaran saat Tangki Sedang, atau Hendak diisi, Jangan Malah Ngelamun Jorok
Di antara hal yang menjengkelkan ketika mengantre di SPBU, adalah orang yang nggak mempersiapkan pembayaran. Orang semacam ini tergolong orang-orang yang absurd bagi saya. Pasalnya, mereka ini nggak menyiapkan pembayaran, tapi malah melamun ngelihatin indikator isi bensin di mesin SPBU. Lalu, setelah selesai pengisian, mereka ini lantas tergopoh-gopoh ngambil uang di dompet atau di sakunya yang entah gelagatnya kadang seolah uangnya hilang ditelan lamunan. Ada masalah apa sih sebenarnya orang-orang kayak gini?

Perkara pembayaran itu kan, dibagi menjadi dua jenis, ada yang dilakukan setelah mengetahui jumlah yang dibayar, ada juga yang langsung mengerti jumlah yang akan dibayar. Seperti halnya di Indomaret, itu masuk jenis pembayaran yang pertama, karena jumlah pembayarannya nunggu petugas kasir menjumlah harganya dulu. Nah, kalau di SPBU, itu kan kita udah tahu tuh, berapa uang yang akan dibayar. Terus, ngapain sih, kita nggak siapkan pembayaran ketika tangki sedang diisi? Nggak ada yang salah, kan? Ketimbang ngelamun jorok dengan dalih ngelihatin indikator nominal yang ada di mesin SPBU. Atau juga, bisa menyiapkan saat antrean masih panjang, itu malah lebih bagus, karena selain membantu kegabutannya saat mengantre, pun membantu agar antrean nggak terlalu lama.

5. Jangan Isi Full Tank Sampai Luber
Mungkin, perihal ini masih jarang kita pahami sebagai moral, atau baik-buruknya saat mengisi BBM. Sejauh ini masih kerap saya menemui orang-orang, khususnya pengendara motor yang kalau isi bensin itu bilangnya “full tank” hingga luber-luber di mulut tanngki. Meskipun perihal luber ini terkesan nikmat, tapi tentu berbeda antara lubernya BBM dengan lubernya coklat yang ada di wafer. Saya harap orang-orang tahu tentang proporsi per-luberan ini.

Yang dimaksud isi full tank itu bukan full tank sampai luber di mulut tangki. Tetapi full yang sudah berdasarkan pembatas besi di mulut lubang tangki. Jangan dikira besi yang ada di lubang tangki motor itu hanya hiasan doang, itu juga ada fungsi dan tujuannya tersendiri. Selain fungsi dari pembatas itu ialah jadi penanda bahwa full BBM jangan sampai luber, pun tujuannya ialah supaya nggak sampai luberan BBM itu memantik adanya kebakaran di area SPBU.

Jadi, kalau hendak isi full tank, coba perkirakan berapa biasanya nominal yang merepresentasikan kapasitas tangki motor kalian. Atau, juga bisa bilang ke petugas SPBU-nya supaya isi full tank, tapi jangan sampai meluber ke bibir tangki.

6. Maju Satu Body Motor, Baru Menutup Tangki, Jok, dan Beres-beres Uang Kembalian
Yang terakhir ini paling saya jengkelkan ketika mengantre di SPBU. Sudah tahu antrean masih panjang, eh setelah tangkinya terisi malah seenak jidat beres-beres penutup tangki, jok, dan masukin uang kembalian dengan motor masih di posisi tetap. Yah nggak apa-apa kalau nggak ada yang antre, hla… kalau antrean banyak, masak ya nggak mikir kalau pengendara motor di belakang itu juga mau isi BBM, bukan mau main gaple.

Tolong biasakan berperilaku humanis ygy (red: ya gaes yak), apalagi di negara kita yang dasar negaranya mengandung humanisme di sila kedua. Kalau kalian mau jadi seorang humanis pemula, nggak perlu kalian baca buku filsafat humanisme-nya Jean Paul Sartre dulu, atau yang lainnya, kalian cukup melakukannya saat antre di SPBU dengan cara: Setelah tangki motor terisi, maka majulah setidaknya satu body motor terlebih dahulu, baru beres-beres tutup tangki, jok, dan uang kembalian. Biar orang yang di belakang itu bisa segera isi BBM juga.

Saya kira itu tadi hal-hal yang sudah seharusnya pengendara motor lakukan ketika mengantre di SPBU. Beberapa hal tadi, semata-mata tujuannya biar kita semua paham, bahwa mengantre itu bukan kegiatan yang hanya sekadar memerlukan kesabaran saja, melainkan juga memerlukan moralitas. Sebenarnya ada banyak hal ihwal moralitas yang pernah saya tangkap saat antre di SPBU, tapi saya lupa. Kalau suatu saat teringat, saya akan menuliskannya lagi di versi yang kedua. Amin


Achmad Fauzan Syaikhoni
Manusia setengah matang, yang sedang fakir pengetahuan. Kalau mau menyumbang pengetahuan, bisa kirim lewat Instagram saya @zann_sy