Santunan Anak Yatim dari Perspektif Anak Yatim

Detik.com

Cangkeman.net - Dalam Islam kita belajar bahwa anak yatim punya keistimewaannya tersendiri. Doa-doa yang mereka panjatkan konon mendapat tiket eksklusif menuju Arsy dibandingkan doa orang biasa. Tapi tentunya, buat saya pribadi, gak melulu anak yatim, semua muslimin terpilih yang mendapat rahmat-Nya pun pasti begitu.

Banyak masyarakat berbondong-bondong memuliakan anak yatim. Selain simpati dengan kisahnya yang pilu, mereka juga tertarik dengan ganjaran pahala yang Allah janjikan. Gak ada yang salah dengan itu, semua mahkluk hidup emang seharusnya berlomba dalam kebaikan buat bekal di akhirat kelak.

Inilah kenapa udah hal yang lumrah kalo masyarakat mengundang anak-anak yatim dalam acara tertentu seperti keagamaan, syukuran, sampai nikahan. Anak yatim diistimewakan. Selain disuguhi banyak makanan, mereka juga membawa pulang amplop berisi uang. Terutama ketika bulan suci Ramadhan.

Saya masih mengingat jelas, bagaimana cara tatapan para sohibul hajat yang mengundang kami. Menghadiri santunan dan mendapat iba adalah rutinitas anak yatim di bulan puasa. Masalahnya, saya berpikir abu tiap kali ada seorang donator yang seolah menukar doa kami dengan uang.

Iya, doa anak yatim seperti ‘disembah-sembah’ oleh masyarakat. Karena terbiasa, para yatim juga udah gak heran dengan tradisi yang satu ini. Setiap acara selesai, peserta santunan akan berbaris menuju pintu keluar sambil menyalimi para donatur. Selain mendapat usapan di kepala, kami juga diberi amplop yang diiringi permintaan doa. “Doain keluarga Bu Haji Anu biar begini-begini-begitu, ya?”

Gak ada yang salah sebenernya. Tapi terkesan kurang enak aja kalo minta doa sambil ngulurin amplop. Doa itu obrolan di antara hamba dengan Tuhannya. Bukan transaksi di antara anak yatim dengan donator santunan. Karena gak diminta pun, anak yatim pasti berdoa untuk mereka yang berbaik hati. Apalagi orang-orang yang kebaikannya berbekas di hati kami.

Contohnya gini deh, kita yang mengenyangkan perut orang kelaparan walaupun cuma sepotong roti, pasti punya nilai tertentu di sisi Allah. Ya sama halnya ketika masyarakat menyisihkan rejekinya untuk anak yatim. Gak perlu lah pinta doa ini itu, kalo memang Allah berkehendak, kebaikan itu bisa mengabulkan sendiri harapan orang-orang baik ini.

Walau terlihat sepele atau bahkan terbilang wajar, pikirkan juga anak-anak yatim yang bisa jadi berkecil hati karena perlakuan tersebut. Jangan meminta bak seorang raja dengan membeli doa-doa mereka. Sebanyak apa pun amplop masuk saku, gak ada nilai yang menggantikan rasa kehilangan para yatim piatu.

Saran saya sih, daripada mengundang anak-anak yatim ke acara santunan yang dilengkapi spanduk ikoniknya. Lebih baik mengadakan acara privasi tanpa embel-embel ‘yatim’. Anggap mereka teman akrab yang bisa diajak seru-seruan, gak harus melulu gelar doa bersama.

Saya yakin kalo waktu yang bergulir mampu mendamaikan para yatim dengan keadaan mereka. Jadi, ketimbang mengingatkan soal kepahitan hidup tersebut melalui santunan ‘anak yatim’, cukup buat momen bahagia bersama yang gak terlupakan. Anak-anak yatim akan lebih nyaman begitu.

Thiara

Suka nulis tapi males baca. Ayok kenalan di Instagram @thiara.yhiara