Perbandingan Warkop dekat Kampus dan Warkop yang Jauh dari Kampus

Kumparan


Cangkeman.net - Saya mengelompokkan warung kopi menjadi 2 jenis, yaitu warung kopi yang dekat dengan lingkungan kampus, dan yang jauh dari lingkungan kampus.

Perbedaan antara dua warkop tersebut terletak pada pengunjungnya, kalau warkop yang dekat dengan lingkungan kampus, pengunjungnya mayoritas adalah para mahasiswa. Sementara yang jauh dari lingkungan kampus, pengunjungnya mayoritas bukan para mahasiswa.

Kemudian juga kalau warkop yang dekat dengan lingkungan kampus, pengunjung yang datang itu kebanyakan berkelompok, jarang yang datang sendirian. Sementara di warkop yang jauh dari lingkungan kampus sebaliknya, yaitu kebanyakan pengunjung datang hanya seorang diri.

Selain itu juga perbedaannya terletak pada keakraban pemilik warung kopi, di mana pemilik warung kopi yang jauh dari lingkungan kampus sering bercengkrama dengan pengunjungnya. Lain halnya dengan warung kopi yang dekat dengan lingkungan kampus, pemilik warungnya cenderung irit bicara. Sehingga tidak mengherankan apabila ngutang dulu di warung kopi yang jauh dari lingkungan kampus tidak merasa sungkan.

Sebelum pandemi, saya lebih sering nongkrong di warung kopi yang dekat dengan lingkungan kampus, tentu saja bersama dengan teman-teman satu organisasi untuk membahas terkait dengan program kerja. Sementara ketika pandemi, karena perkuliahan dilakukan secara online, jadi ya tidak nongkrong di warung kopi.

Ketika kemudian perkuliahan kembali tatap muka, saya kembali sering nongkrong di warung kopi yang dekat dengan lingkungan kampus. Tetapi kali ini bedanya tidak bersama dengan teman organisasi, saya bersama dengan teman saya bernama Luki. Akan tetapi itu hanya bertahan beberapa bulan saja, dikarenakan ia sakit, dan pulang kampung.

Bersamaan dengan itu, saya pun memutuskan untuk tinggal di kost paman yang tentunya sangat jauh dari kampus, dari kost paman butuh waktu 3 jam menuju kampus naik Transjakarta.

Di dekat kost paman ada sebuah warung kopi yang ramai pengunjung, otomatis saya pun jadi sering nongkrong di warung kopi tersebut, tetapi seorang diri. Saya amati pengunjung yang datang ke warkop tersebut juga seorang diri, tidak bersama dengan kawan-kawan. Karena saking seringnya nongkrong di warung kopi tersebut, saya pun akrab dengan pemilik warkop tersebut.

Akan tetapi setiap kali saya nongkrong di warung kopi tersebut, pasti ada saja sesama pengunjung warung kopi yang bertanya kepada saya "Kamu kerja di mana?". Pertanyaann tersebut membuat saya dilema, apakah saya akan menjawab saya pengangguran, atau menjawab penulis yang belum terkenal. Pada akhirnya saya hanya bisa menjawab dengan mengukir senyum.

Untuk saat ini pertanyaan semacam itu sungguh membuat hati tidak nyaman, maklum saja sebagai seorang mahasiswa yang masih mengandalkan belas kasihan orang tua, pertanyaan tersebut bikin tidak enak hati.

Suatu ketika saat saya sedang asyik menyeruput kopi, datanglah seorang perempuan usianya mungkin sekitar 50 tahun, sebut saja namanya Ibu Siti (nama samaran). Lalu ia duduk di samping saya, dan memesan seporsi mie goreng. Kemudian Ibu Siti bertanya "Kerja di mana?". Sama seperti sebelumnya, saya pun menjawab hanya dengan mengukir senyum.

Tetapi Ibu Siti ini lain daripada penanya sebelum-sebelumnya, sepanjang ia maka mie goreng sampai dengan selesai. Dirinya menceritakan tentang keponakannya yang sukses menjadi orang, Ibu Siti pun menyarankan agar saya segera mencari kerja. Saya pun menjawab dengan "Iya bu, segera mungkin saya akan mencari kerja."

Setelah Ibu Siti berlalu, seorang pria bernama Tono (nama samaran) berucap kepada saya "Ya, jangan diambil hati omongan ibu itu tadi." Pemilik warung kopi yang bernama Pak Abdi (nama samaran) juga menimpali "Jangan dihambil hati, dibikin santai saja."

Untuk mencairkan suasana, Tono pun mengajak ngobrol saya berkaitan dengan dunia pesantren, Pak Abdi pun ikut dalam obrolan kami. Pengetahuan Tono tentang dunia pesantren sangat bagus, terlepas dari penampilannya yang seperti preman. Begitu juga halnya dengan Pak Abdi, ia tahu banyak berkaitan dengan pesantren-pesantren di Jawa Barat.

Ya begitulah cerita saya tentang warung kopi yang jauh dari lingkungan kampus, saya bisa berdiskusi dengan banyak orang berkaitan dengan banyak hal. Tetapi nggak enaknya ya itu, saya sering ditanya " Kerja di mana?" Huhuh. 
 

Malik Ibnu Zaman

Penulis lepas. Dapat ditemui di Instagram @malik_ibnu_zaman