Mengapa Kita Mengidolakan Thomas Shelby? Begini Pengamatan Filosofinya

Suara.com

Cangkeman.net - Akhir-akhir ini kalangan anak muda, terutama para laki-laki sedang menggandrungi salah satu tokoh di dalam serial film yang bertajuk mafia dengan judul Peaky Blinders. Yah, tokoh itu bernama Thomas Shelby. Banyak dari kawan-kawan saya memperbincangkan karakter tokoh yang diperankan oleh Cillian Murphy tersebut. Bahkan tak hanya di realitas sosial saja, di realitas media, seperti di TikTok, Instagram, dan YouTube sudah banyak saya temui konten-konten yang mempublikasikan perihal kepribadian si Thomas Shelby ini.

Tentu yang paling mengesankan bagi mereka adalah karakter Thomas Shelby yang ganteng, karismatik dan sikapnya yang katanya cool bak kulkas dua pintu. Tapi, lebih dari itu, bagi saya, ketika setelah menamatkan 6 serial film Peaky Blinders, kayaknya bukan hanya sekadar ganteng, karismatik dan cool yang menyebabkan para laki-laki mengidolakan Thomas Shelby. Ada hal yang lebih filosofis dari itu yang mungkin orang-orang belum sadari.

Sebab, kalau bicara karismatik dan cool mah, saya pikir semua orang sudah tahu, bahwa kedua hal itu yang sedari dulu menjadi vocal point para laki-laki. Tapi, yang jadi pertanyaan, kan: Mengapa, sih, seorang Thomas Shelby sebagai tokoh fiktif dapat membuat manusia seakan-akan ingin keluar dari eksistensinya, dan ingin mengambil peran seperti dia? Untuk mengetahuinya, mari ikuti uraian saya terkait pengamatan karakter dari Thomas Shelby. Siapkan kopi atau camilan, karena ini mungkin sedikit butuh mikir. Heuheu….

Pertama-tama yang jadi titik berangkat pengamatan saya adalah perihal: Apa sih yang disebut mengidolakan? Loh, mengapa berangkat pada titik itu? Karena bagi saya, terjadinya fenomena Thomas Shelby sebagai tokoh populer, adalah karena adanya sikap pengidolaan. Maka dari itu, saya perlu menelisik dari sebab awalnya dulu, sebelum akhirnya masuk pada substansinya.

Ini terlepas dari pengertian KBBI atau Wikipedia, saya pribadi mengasumsikan bahwa mengidolakan adalah berupaya meninggalkan yang lama, untuk menuju yang baru. Ini artinya secara tersirat kita bisa lihat, bahwa ketika manusia mengidolakan, artinya merasa ada yang sudah tidak asli dari eksistensinya; keberadaan di dalam dirinya. Loh, kok bisa, gimana logikanya? Jadi, selama ini kita kan, sebagai manusia terus mencari sesuatu yang lebih; yang inti, atau sederhananya kalau pakai bahasa agama itu “ihdinas shirothol mustaqim”, tunjukkanlah kami jalan yang lurus. Nah, saya pikir, pengidolaan itu adalah representasi dari itu. Dalam kajian filosofi humanisme, misalnya, biasanya itu disebut “the ontology of not yet”, yakni inti yang belum tiba selalu mengundang kita kesana.

Jadi, kalau kita konotasikan, pengidolaan adalah intrinsicly dari yang disebut harapan. Manusia pasti tidak lepas dengan yang namanya harapan. Tanpa harapan, manusia tak akan bisa mengada, atau menuju pada sesuatu yang hendak ia capai. Lantas, apa hubungannya semua argumentasi itu dengan Thomas Shelby sebagai suatu fenomena yang digandrungi para manusia, terutama laki-laki?

Pertama-tama adalah gaya bicara Thomas Shelby yang khas akan kesederhanaan. Yang dimaksud sederhana bukan dalam pengertian sedikit bicara dan tanpa makna. Melainkan gaya bicara yang otentik sebagai makhluk eksistensial (manusia). Nadanya yang terkesan rendah, tapi juga tak luput dari ketegasan makna dari setiap kata-katanya. Itulah yang dalam filosofi disebut sebagai rede (bahasa Jerman), yakni perasaan dasar dari dalam diri manusia sebelum diartikulasikan ke dalam bahasa. Jadi, kayak semacam kejujuran dalam diri manusia untuk mengungkapkan makna dalam kata-kata. Tanpa adanya hiperbolik yang terkesan tidak jujur.

Dari situ kita bisa menelisik ulang, kalau gaya bicara Thomas Shelby yang kita gandrungi, itu mempunyai filosofi bahwa bicara itu tak perlu muluk-muluk dan bernada tinggi, sebab esensi dari berbicara bukan tentang kerasnya suara dan indahnya bahasa, tapi tentang kejujuran dalam pengungkapan perasaan lewat kata-kata. Tentu yang disebut jujur bukan semata bicara ngawur apa adanya. Tapi, kejujuran yang sudah diolah dalam pikiran secara bulat dan otentik, sehingga memungkinkan untuk dibicarakan.

Yang kedua adalah sikapnya yang dingin. Mungkin, selama ini kita mengartikan dingin sebagai sikap yang apatis; cenderung sombong karena tidak merespon keadaan di sekitarnya. Namun, sebenarnya bukan itu yang disebut dingin. Sikap dingin adalah sikap yang eksistensial (kemengadaan). Sikap yang muncul setelah berpikir, mengamati, memilih dan memilah mana yang tidak perlu dan mana yang perlu untuk ditanggapi. Hal itu yang kemudian memantik pada salah satu sikap Thomas Shelby yang lain, yakni ketenangan.

Orang yang punya sikap eksitensial biasanya adalah orang yang tenang, tidak tergopoh-gopoh dalam mengambil keputusan. Karena di dalam situasi tenang, mereka sedang berpikir dan mengamati keadaan. Bagi orang eksistensial, keadaan adalah sesuatu yang sublime dalam kehidupan. Keadaan adalah semacam modal dasar sebelum menjalani kehidupan. Oleh sebab itu, mengapa kita mengidolakan Thomas Shleby? Yah, karena keotentikan pribadinya yang filosofis dalam menjalani kehidupan. Tidak terburu-buru, tidak tenggelam pada arus sosial, namun mengikutinya dengan caranya yang asli sebagai makhluk yang berakal.

Yang terakhir adalah sayang keluarga. Sudah tidak diragukan lagi bahwa sikap kekeluargaan dari Thomas Shelby menjadi pemantik para laki-laki untuk mengidolakannya. Akan tetapi, apakah arti dari kekeluargaan? Apakah yang disebut keluarga adalah ekosistem sosial terdekatnya saja? Tentu tidak. Yang dimaksud kekeluargaan lebih luas lagi, yakni sikap yang pekat terhadap sosialitas. Meskipun sikapnya yang dingin, Thomas Shelby juga menaruh sikap sosialis yang humanis. Itu terbukti di beberapa scene film Peaky Blinders yang menayangkan dia menjadi anjing Winston Churcill dengan segala misi kotornya, hanya agar keluarganya tidak dieksekusi mati di dalam penjara.

Kalau diartikan lebih luas, sikap kekeluargaannya adalah representasi dari kemanusiaan. Yah meskipun film Peaky Blinders di beberapa scene kadang pekat dengan pembunuhan, namun kita bisa ambil filosofinya, bahwa berbuat baik kepada keluarga, artinya berterima kasih kepada dirinya sendiri, karena tanpa adanya mereka, kita tak akan bisa menikmati eksistensi kehidupan. Inilah yang saya pikir menjadi latar belakang mengapa kita mengidolakan Thomas Shelby. Rasa kemanusiaan secara intrinsik menjadi suatu keniscayaan bagi keberadaan kita.

Mengapa hanya tiga point? Di mana karakter genius dan don juan yang ada di Thomas Shelby? Menurut saya, sikap genius dan don juan akan otomatis mengikuti ketika ketiga sikap di atas tadi sudah teraktualisasi. Bagi saya, genius yang ada pada karakter Thomas Shelby adalah sikap yang hadir akibat algoritma berpikir dan pengalaman eksistensialnya. Bila kita mengartikan genius sebagai sikap yang cerdas, kreatif, dan orisinal, maka itu tidak lepas dari Thomas Shelby sebagai pribadi yang kritis, tenang, dan pengalaman perangnya. Jadi, sangat masuk akal bila kita mengidolakan Thomas Shelby. Karena seyogianya kita sebagai manusia yah harus selalu berpikir kritis, tenang, dan selalu mengambil kesempatan agar punya pengalaman.

Begitupun dengan karakter don juannya. Bila don juan kita artikan sebagai suatu sikap yang ahli dalam memikat Wanita, maka itu juga tidak lepas dari kepribadian Thomas Shelby dengan gaya kepemimpinannya yang kekeluargaan dan tidak otoriter, tenang, tidak banyak berjanji, serta caranya yang sederhana dalam berbicara. Wanita membutuhkan itu dalam sebuah hubungan. Jadi, untuk bisa jadi don juan seperti Thomas Shelby, maka tirulah sikap ke-eksistensial-an dia yang sudah saya rangkum di atas. Sederhana dalam berbicara, berpikir kritis, bersikap tenang, dan bersikap seperti pemimpin yang orientasinya pada kemanusiaan.

Achmad Fauzan Syaikhoni
Manusia setengah matang, yang sedang fakir pengetahuan. Kalau mau menyumbang pengetahuan, bisa kirim lewat Instagram saya @zann_sy