Begini Cocoklogi dalam Menafsirkan Suatu Legenda

gunungapipurba

Cangkeman.net - Kalau membicarakan hal yang sulit diterima akal sehat seperti legenda, tak jarang pembicaraan ini langsung diabaikan. Hal ini terjadi karena dianggap tidak rasional dan sulit dibuktikan kebenarannya. Namun dari legenda, seseorang sebetulnya mampu mengungkap suatu peradaban dan menebak pesan yang ingin disampaikan dengan cara yang bisa dikatakan cukup simpel.

Sebelum membahas lebih jauh, ada baiknya kita mengetahui pengertian dari legenda. Dalam pengertian sederhana, legenda merupakan sebuah cerita yang dianggap pernah terjadi pada suatu tempat dan memuat suatu pesan tertentu. Sementara menurut KBBI, legenda merupakan cerita rakyat pada zaman dahulu yang ada hubungannya dengan peristiwa sejarah. Jadi, poin pentingnya dalam pengertian yang telah disebutkan adalah: adanya sebuah cerita di suatu wilayah, berisi sebuah pesan, dan sejarah.

Dari tiga pesan yang ditulis pada paragraf sebelumnya, menyinggung sejarah. Nah, ilmu sejarah inilah yang bisa dijadikan “dasar” untuk mengetahui suatu legenda di suatu tempat dalam batasan tertentu. Menurut Kuntowijoyo yang merupakan sejarawan, dalam bukunya yang berjudul Pengantar Ilmu Sejarah, sejarah merupakan rekonstruksi masa lalu.

Jelas, dalam merekonstruksi suatu sejarah tidak hanya disusun hanya berdasarkan dari sebuah cerita atau suatu legenda saja. Karena sejarah merupakan salah satu produk ilmu pengetahuan. Pastinya terdapat suatu metode dalam pelaksanaanya agar menjadi valid dan reliabel. Misalkan, dengan melihat sumber sejarah. Adapun sumber sejarah antara lain: prasasti sezaman, peninggalan arkeologis sezaman, karya sastra sezaman, berita asing sezaman, sastra dari zaman kemudian, mitos dan legenda, dan terakhir, pendapat dari para ahli.

Memang, dalam mengungkap suatu sejarah, mitos dan legenda merupakan sumber lemah daripada yang lain. Namun yang menarik, hal ini tetap dimasukkan ke dalam sumber sejarah. Roland Barthes; semolog alias ahli semiotika atau ilmu ketandaan, dalam sebuah penelitian yang berjudul, “Mitos Kala dalam Arsitektur Wolff Schoemaker pada Gedung Landmark Bandung”, diterbitkan pada 1 Juni 2020 menyatakan, mitos merupakan suatu sistem atau cara komunikasi untuk menyampaikan suatu pesan dan bukanlah suatu wicara sembarangan, biasanya dimasukkan simbol-simbol tertentu. Terlebih jika terjadi di suatu masyarakat yang punya keterikatan yang kuat pada suatu agama atau kepercayaan. Maka, tidak mengherankan jika suatu mitos masuk dalam sumber sejarah. Hal ini juga termasuk dengan suatu legenda. Nah, dari sini kita mendapatkan kata kunci, yakni: simbol.

Adanya suatu simbol dalam legenda, mitos, bahkan di dalam suatu karya sastra dan lain sebagainya, punya dua fungsi. Pertama, sebagai smita atau pasemon, merupakan upaya dalam menyembunyikan suatu pesan tertentu. Kedua, alasan lahirnya dari legenda itu sendiri: upaya masyarakat setempat untuk memahami sesuatu yang sulit dipahami oleh mereka. Yah, bisa dikatakan dalam memahaminya, masyarakat masa itu melakukan cocoklogi.

Jika di masa kini banyak orang lebih menggunakan ungkapan, “Rahasia Illahi” atau kata yang memiliki makna sejenis saat tidak memahami suatu hal. Di masa lalu, masyarakat membangun suatu cerita untuk mencoba memahami apa yang mereka tidak pahami. Sedikit banyak memunculkan kagum dalam diri saya kepada mereka karena mengembangkan sisi kreatif.

Namun, di saat bersamaan, seseorang harus punya kemampuan dalam membaca dan menginterpretasikan simbol-simbol yang terkandung di dalamnya serta berbagai “bahan mentah” saat mengkonstruksi informasi. Sama seperti masyarakat terdahulu dalam membangun legenda, saya menggunakan cara yang sama untuk memahami informasi yang mereka konstruksikan, yaitu, menggunakan cocoklogi.

Kita langsung masuk contoh berikut penerapan membaca simbol pada suatu legenda dengan cara yang sederhana. Karena saat menuliskan ini kebetulan terdapat tukang getuk meluncur pada jalanan menurun di depan rumah sambil menyalakan lagu “Banyu Langit” karya alm. Didi Kempot, tercetus ide untuk menuliskan legenda yang terkandung di dalam lagu tersebut, yang berasal dari gunung Nglanggeran, berlokasi di Gunungkidul, Wonosari, Yogyakarta.

Berdasarkan penamaan tempat kejadian perkara, yakni, gunung Nglanggeran. Menurut berbagai sumber yang saya dapatkan, Nglanggeran berasal dari kata nglanggar, yang punya arti melanggar. Pertanyaanya, apa yang dilanggar oleh penduduk setempat sehingga melahirkan suatu legenda?

Pada suatu masa, penduduk setempat ingin melakukan hajatan setelah mendapatkan panen raya. Salah satu rundown acara tersebut berupa nanggap wayang. Didatangkanlah seorang dalang beserta jajarannya. Namun, terdapat manusia-manusia yang melakukan perbuatan yang tidak menyenangkan membuat murka sang dalang.

Mungkin di masa sekarang banyak yang meyakini, dalang merupakan pekerjaan biasa, sekadar memberikan suatu hiburan rakyat yang biasanya berlangsung semalam suntuk dengan memainkan benda bernama wayang. Kalau menggali lebih lanjut, dalang bukanlah profesi sembarangan. Secara praktis, selain menghibur, mereka memberikan suatu ilmu yang berasal dari lakon yang dipentaskan. Sehingga, ilmu tersebut harapannya bisa diterapkan oleh penonton setelah menonton nanggap wayang. Bisa dikatakan dalang bertugas sebagai guru.

Adanya kisah yang termuat dalam Murwakala bisa dijadikan gambaran kelahiran profesi dalang semakin mengejawantahkan betapa sakralnya profesi ini. Ceritanya begini, Dewa Wisnu beserta para dewa lain turun ke bumi untuk aksi penyelamatan manusia akibat kerakusan Batara Kala. Sang Hyang Wisnu menyamar sebagai Ki Dalang Kandabhuana atau Ki Dalang Karungrungan, sementara dewa lain menyamar sebagai para nayaga alias pengrawit atau penabuh. Batara Kala mengalami kekalahan lantaran Dewa Wisnu mampu membaca rajah di tubuhnya. Sebelumnya terdapat perjanjian antara Batara Kala dengan Dewa Siwa, yaitu; Batara Kala harus tunduk kepada siapa saja yang mampu membaca rajah tersebut. Barangkali dari sinilah profesi dalang terlahir dan ilmu tentang ruwat mulai tersebar.

Dari kisah tersebut, dalang merupakan profesi yang sakral dari sudut pandang spiritual dan supranatural. Karena dalang juga menjadi pemimpin dalam suatu ritual. Misalkan, dalang akan memimpin ritual ruwat yang dilaksanakan dalam suatu pementasan wayang. Secara tidak langsung, mereka yang menjadi dalang memiliki tugas untuk menyelamatkan manusia yang masuk dalam sukerta, yakni orang-orang dengan ciri-ciri dan kesalahan-kesalahan tertentu. Nah, mereka yang masuk kategori ini harus diruwat karena menjadi mangsa Batara Kala. Kalaupun tidak betulan mati, akan mengalami hidup yang penuh kesialan. Artinya, dalang agak mirip dengan imam di suatu agama dan keyakinan lain. Mereka bertanggung jawab untuk “menyelamatkan” manusia dalam sudut spiritual dan supranatural.

Dalang merupakan sebuah profesi yang seharusnya dihormati. Namun yang terjadi malah sebaliknya, adanya pihak yang merusak wayang miliknya. Inilah pelanggaran yang dilakukan oleh beberapa penduduk. Membuatnya murka lalu memberikan suatu kutukan. Diubahnya manusia-manusia tersebut menjadi wayang sebelum dilempar di dataran yang lebih tinggi, yang tempat kejadian perkara tersebut sekarang dikenal sebagai gunung Nglanggeran.

Apa pesan dari legenda gunung Nglanggeran? Perkara ini, sih, sebetulnya bagaimana seseorang menarik kesimpulan. Buat saya, betapapun tidak logisnya suatu mitos dan legenda, tetap bisa dijadikan sebagai media untuk mempelajari suatu hal, lalu pada gilirannya, akan digunakan dalam mengembangkan sisi baik dalam diri kita.

Salah satunya: mari mulai belajar untuk tidak merendahkan profesi orang lain. Karena belum tentu kita betul-betul mengetahui pekerjaan yang dilakukan yang bersangkutan sedang mengupayakan menyelamatkan orang-orang disekitarnya. Misalkan, melalui pekerjaannya, dari sekadar memenuhi kebutuhan harian hingga mengangkat derajat dirinya beserta keluarganya.



Angga Prasetyo
Kontributor ini masih malu-malu untuk menceritakan dirinya. Dapat ditemui di Instagram @anggaprass