Perempuan Ngapain Sekolah Tinggi?

Stanley Morales on Pexels

Cangkeman.net - Saya belum pernah dengar orang yang bicara langsung "Perempuan itu enggak perlu sekolah tinggi karena nantinya juga ke dapur." Tapi beberapa hari yang lalu Ayah saya cerita kalau beliau mendengar hal tersebut dari tetangga. Reaksi saya sebagai perempuan tentunya kesal sekali dong mendengar kalau tetangga saya bicara seperti itu. Ternyata orang kaya gitu di tahun 2022 beneran ada, wkwk. Saya kira di era seperti saat ini, kalimat ‘Perempuan itu enggak perlu sekolah tinggi karena nantinya juga ke dapur’ sudah enggak bakal saya temukan lagi tapi ternyata masih ada aja, heran. 

Enggak cuma laki-laki tapi perempuan sendiri suka berpikir kalau dirinya hanya ditempatkan di dapur, sumur, dan kasur. Bukan gedung universitas, bukan perusahaan multinasional, bukan juga pemangku jabatan lembaga pemerintahan.

Balik lagi, waktu tetangga saya bicara seperti itu, Ayah saya dengan lugas menjawab “Saya sebagai orang tua hanya memfasilitasi karena anak wajib disekolahkan sampai tinggi, perihal ijazahnya mau dipakai atau enggak nanti, ya terserah anaknya.” Mungkin kalau dengar kalimat seperti ini bakal ada aja orang yang bilang pendidikan terhalang masalah finansial. Readers, beberapa teman saya yang secara finansial kurang baik, kuliahnya itu gratis-tis-tis, mulai dari UKT sampai biaya hidup karena tau ada yang namanya KIP juga beasiswa lainnya.

Oke, anggaplah setelah lulus kuliah kita langsung jadi IRT terus mikir "ijazahnya sayang dong." Enggak gitu bestie, ada ilmu pengetahuan, keterampilan, dan pengalaman yang bisa kita terapkan ketika menjadi IRT. Misalnya saya dengar dari dosen saya kalau anak itu jangan dibentak terlebih pada masa golden age. Karena hanya dengan satu bentakan, lebih dari satu miliar sel otak akan mati saat itu juga. Hanya karena satu bentakan yang secara ga sadar dikeluarkan oleh orang tua dengan tujuan mendisiplinkan anak, perkembangan otak anak akan terganggu yang akhirnya dampaknya bakal merembet kesana-sini, fatal.

Lanjut. Enggak maksud menyinggung siapapun tapi saya cuma mau menyuarakan aja perihal ‘warga kita’ yang gass nikah tapi belum mempersiapkan keuangan, belum mempertimbangkan apakah secara fisik dan mental udah siap, belum kenalan sama ilmu parenting, dan masih banyak lagi. Nah, pertama saya mau ngomongin perihal individu yang memutuskan untuk berkeluarga tapi finansial belum stabil dan mandiri. 

Gimana ya, dalam berumah tangga itu kita enggak bisa menerapkan prinsip ‘Rezeki mah ada yang ngatur, yang penting niat baik jalan dulu’. Finansial itu perlu direncanakan dan dipersiapkan karena rumah tangga enggak bisa cuma modal niat baik sama cinta. Nah ini akar dari banyak permasalahan nih misalnya aja stunting dan timbulnya fenomena generasi sandwich

Kedua, saya mau ngomongin perihal mental yang belum siap tapi digas aja buat menikah. Misalnya kita punya inner child yang terluka atau ada trauma antar-generasi, nah itu perlu banget disembuhkan terlebih dahulu supaya anggota keluarga yang lain enggak kena imbasnya. 

Terakhir, kenalan sama ilmu parenting, nah pastinya ini juga penting karena kebanyakan orang yang menikah ingin punya anak. Kita sama-sama tau kalau Ibu itu sekolah pertama anak, maka dari itu Ibu juga Ayah ini perlu banget memantaskan diri jadi sekolah pertama anaknya.

Ya siapa sih yang enggak mau punya buah hati kaya Maudy ayunda, Belva Devara, atau Oki Setiana Dewi ? Jadi pendidikan itu luar biasa penting untuk meningkatkan taraf hidup enggak cuma untuk laki-laki aja tapi perempuan juga sama. Kasarnya nih kerja di dapur, sumur, dan kasur juga butuh pendidikan yang tepat dan layak bestie.

Lidia Mutiara Chantika 
Penulis amatir kelahiran Jakarta, punya kampung halaman di Bandung, tinggal di Bogor, dan kuliah di Malang. Kelahiran tahun 2002 yang punya hobi nimbun puisi dan cerpen di handphone. Instagram : @mc.lid