Pembiaran Perilaku Bullying Sama Saja Mendukung Bullying

Rodnae Productions on Pexels

Cangkeman.net - Kasus bullying tidak ada habis-habisnya, selalu saja terjadi, dan kasus tersebut lebih banyak tidak terungkap ke permukaan, hanya sekadar menjadi angin lalu.

Saya adalah salah satu penyintas korban bullying. Bullying yang dialami oleh saya bukan hanya sekadar kekerasan fisik saja. Tetapi juga juga berupa cacian, makian, dan hinaan. Dampak dari bullying tersebut membuat saya menjadi seseorang yang suka menyendiri, takut untuk berteman, dan sulit untuk berinteraksi dengan lingkungan.

Bullying tersebut pertama kali terjadi sewaktu saya berumur 7 tahun, dan itu terjadi di sebuah sekolah yang harusnya bisa menjadi tempat yang aman. Bullying tersebut berlanjut sampai saya lulus sekolah dasar. Selepas sekolah dasar saya memutuskan untuk sekolah di tempat yang jauh agar tidak satu sekolah dengan orang yang mem-bully saya. 

Bullying tersebut bukan hanya dialami oleh saya, tetapi juga dialami oleh paman saya, bibi saya, dan juga adik saya. Masyarakat sekitar tempat saya tinggal seperti jijik terhadap kami tanpa sebab yang jelas. Padahal keluarga kami tidak pernah berbuat onar, apalagi merugikan masyarakat.

Ayah dari kakek (kakek buyut) saya yang dikenal sebagai orang pintar mengungkapkan bahwasanya ada seorang yang tidak suka terhadap keluarga kakek. Orang tersebut meminta kepada dukun supaya keluarga kakek dibenci oleh masyarakat desa, istilahnya kelihatan seperti "awak tai". Kakek buyut menyarankan agar kakek hijrah, namun berpuluh tahun berlalu hingga kakek wafat kami masih tinggal di desa tersebut.

"Kasihan anak putumu lebih baik hijrah saja," begitulah ujar kakek buyut. Akan tetapi ada saja halangannya yang membuat gagal untuk hijrah.

Kembali ke bullying. Pernah suatu kali saya difitnah ketika duduk di bangku kelas 6 sekolah dasar, dan tidak ada satupun guru yang mempercayai saya. Sepanjang kelas 6 tersebut saya selalu disindir setiap kali kepala sekolah mengajar di kelas. Sampai sekarang ini orang tua saya pun tidak tahu akan kejadian tersebut, karena saya tidak pernah menceritakannya. Karena saya khawatir akan menjadi panjang urusannya.

Ibu saya lah orang yang paling gigih membela saya ketika saya mendapatkan bullying. Sementara ayah saya pergi merantau, dan jarang pulang. Ibu seringkali terlibat adu mulut dengan orang tua pelaku, akan tetapi para orang tua pelaku menormalkan tindakan bullying yang dilakukan oleh anak-anaknya. Menganggap bahwa bullying adalah sesuatu yang wajar, bukan sebuah permasalahan.

Saat itu melaporkan ke para guru ya percuma saja, tidak ada tindakan tegas, seolah-olah mewajarkan perilaku bullying.

Menulis tulisan ini membuat saya teringat apa yang dialami oleh adik perempuan saya baru-baru ini. Ia dikucilkan seorang diri oleh teman sekelasnya di sebuah sekolah sore (madrasah ngaji), tidak ada yang mengajak ngobrol dengan adik saya. Bahkan momen wisuda di sekolah sore tersebut, di saat teman-teman satu kelas foto bersama adik saya hanya duduk di pojokan.

Setiap pulang ngaji adik saya selalu menangis, meskipun yang dilakukan oleh teman-temannya bukan bullying fisik, tetapi tetap saja menimbulkan trauma. Nenek saya pun tidak tinggal diam, ia pun menegur orang tua pelaku bullying tersebut agar bisa mendidik anaknya

Beberapa hari kemudian salah satu orang tua pelaku bullying tersebut tidak terima, terjadilah cekcok dengan ibu saya di tempat umum. Tanpa tahu akar permasalahannya seperti apa, orang-orang yang ada di tempat umum tersebut malah membela pelaku bullying tersebut, seolah-olah membenarkan tindakan bullying tersebut. Jelas saja ibu saya tidak bisa berkutik apa-apa, karena dia seorang diri.

Ditambah lagi guru yang mengajar di sekolah tersebut hanya mendengarkan penjelasan dari pihak pelaku bullying saja tanpa mendengarkan cerita dari korban bullying, yaitu adik saya. Seharusnya sebagai seorang guru harus bisa berbuat adil, jangan hanya sepihak saja.

Betapa berdosanya mereka yang menormalkan tindakan bullying. Mereka tidak tahu bahwa sesungguhnya tindakan bullying menimbulkan dampak negatif yang berkepanjangan.



Malik Ibnu Zaman

Penulis lepas. Dapat ditemui di Instagram @malik_ibnu_zaman