Mahasiswa Aktif Bukan Berarti Flexing

Buro Milenial on Pexels

Cangkeman.net - Perihal bertanya saat di dalam kelas sudah menjadi sebuah preferensi ketika seorang mahasiswa atau pelajar itu belum paham tentang suatu materi yang sudah dijelaskan. Bahkan tak hanya bertanya, berdebat pun kerap dilakukan oleh mereka yang sedang haus akan pengetahuan. Setiap pernyataan yang tidak logis, atau teori yang tidak relevan dengan suatu topik menjadi titik berangkat bagi mereka si mahasiswa yang aktif bertanya.

Saya kira sah-sah saja, dan bahkan sudah sepatutnya menjadi seorang mahasiswa; menjadi seorang yang posisinya belum tahu apa-apa itu bertindak sedemikian rupa. Apalagi kalau mengingat biaya yang dikeluarkan dan effort yang telah dikorbankan untuk menjadi mahasiswa. Rasanya rugi kalau kesempatan tersebut disia-siakan. Iya, enggak?

Meski begitu, terkadang saya sendiri masih merasakan dilema ketika bertanya ataupun berdebat di dalam kelas. Salah satu penyebabnya adalah mereka; rekan mahasiswa yang antipati terhadap aktivitas perdebatan. Banyak respon dari mereka yang seakan ingin mengutuk saya untuk tidak lagi bersikap aktif di dalam kelas.

Bermacam-macam jenis respon yang terlontar di antaranya seperti, “Ini anak cari muka banget ke dosen ih, ini anak flexing banget sih, ini anak nyusahin banget sih, ini anak ngelamain jam waktu kuliah ih, ini anak sebenarnya udah tahu jawabannya tapi ngapain, sih, ditanyakan lagi?” dan ada satu respon yang membuat saya merasa seperti seorang kriminal, “Ini anak bunuh temen ih.” Astaghfirullah, saya suka ngelus dada kalau menerima respon itu.

Munculnya berbagai macam respon tadi kebanyakan hadir ketika dalam perkuliahan yang metode perkuliahannya itu presentasi per-kelompok. Mahasiswa satu kelas terbagi menjadi beberapa kelompok untuk mempresentasikan beberapa materi yang telah dibagi oleh sang dosen. Dari situ biasanya perihal bertanya atau berdebat sangat masif dilakukan.

Mereka yang antipati dengan pertanyaan-pertanyaan dan perdebatan kerap memasang sikap sinis terhadap mahasiswa yang aktif. Seakan-akan sikap sinisnya menyuruh untuk tidak usah membuat rumit proses presentasinya. Karena mereka takut dan malu kalau nanti dalam presentasinya, mereka tidak bisa menjawab pertanyaan, atau tidak mampu menangani gempuran perdebatan.

Saya tidak mengada-ngada. Faktanya memang seperti itu, dan saya pun pernah mengalami situasi tersebut. Digempur dengan pertanyaan yang tak diduga-duga, lalu kicep karena belum paham dan belum menguasai materi yang sudah dipresentasikan.

Saya dulu sempat mikir juga, kalau mereka yang aktif bertanya itu kok kayaknya tidak kasihan, ya, sama kita yang belum paham materi. Yah mereka enak, punya nalar yang kritis, menyanggah sana-sini, tidak berhenti bertanya kalau belum benar-benar dapat jawaban dan kesimpulan yang klimaks. Lah, sedangkan kita, membaca makalah saja masih bingung maksudnya seperti apa, apalagi kalau disuruh berpikir kritis.

Tapi, asumsi itu alhamdulillah sekarang sudah hilang. Saya menyadari bahwa kendati mereka cari muka ke dosen, tetap bertanya meskipun sudah tahu jawabannya, saya pikir menjadi nilai plus juga loh buat kita.

Sekarang, kalau memang kita sudah yakin dan dirasa kompeten tentang materi yang dipresentasikan, maka pelbagai pertanyaan dan perdebatan pun harusnya menjadi salah satu parameter untuk kita tahu benar-benar apakah kita kompeten. Bukan malah kita mengutuk kesempatan itu menjadi suatu bencana buat kita sebagai mahasiswa. Hmmm…

Bersikap sinis kepada mereka yang aktif di kelas menurut saya sedikit tidak bijak untuk dilakukan. Karena kalau posisinya adalah sebagai mahasiswa dan sedang melaksanakan kuliah di kelas, maka mereka punya hak untuk bertanya, berdebat, ataupun mencari nilai. Sekalipun mereka niatnya adalah untuk membuat malu, ya itu urusan mereka. Kita tidak punya hak untuk menghakimi bahwa mereka tidak boleh bersikap seperti demikian.

Tapi, itu kan tidak manusiawi? Sudah tahu jawabannya, kok masih ditanyakan? Sudah tahu kita belum benar-benar paham, kok masih dipojokkan?

Jika bicara konteks manusiawi, hal tersebut memang tidak manusiawi. Mempermalukan teman, membingungkan pikiran teman, ataupun memojokkannya. Akan tetapi, ketika di dalam kelas, maka konteksnya sudah berbeda. Sebab konteksnya adalah ruang akademis. Di mana dalam ruang akademis orientasinya adalah pada argumentasi dan ilmu pengetahuan, bukan pada sentimental. Jadi, perihal perdebatan dan gempuran pertanyaan sudah menjadi suatu hal yang wajar di dalam kelas..

Fenomena yang saya paparkan di atas tadi agaknya sudah menjadi stigma bagi mahasiswa yang aktif di kelas. Seoalah-olah bagi mereka yang antipati dengan perdebatan atau pertanyaan: kuliah itu yang utama bukan untuk mendapatkan pengetahuan, tapi untuk mendapatkan ijazah doang. Alhasil, kemungkinan dampak negatifnya membuat mereka yang aktif di kelas itu tidak lagi bersikap aktif, karena dipengaruhi respon-respon yang antipati dengan perdebatan dan pertanyaan. Hal ini menurut saya berbahaya jika terus-menerus terjadi.

Seumpama kita termasuk dalam mahasiswa yang pasif, cobalah jangan membangun asumsi bahwa mahasiswa aktif di kelas itu jahat, arogan, atau suka flexing. Mereka itu mempunyai kepribadian yang kritis, hal-hal detail nan mendalam sudah dianggap menjadi kebutuhan aktualisasi mereka. Ya, meskipun kadang dampakya bagi kita itu tidak menyenangkan, coba kalau kita mempunyai kepribadian yang sama dengan mereka, tak bisa memungkiri pasti kita akan melakukan hal yang sama.

Tapi, itu kan, jadi egois. Kita memahami mereka, tapi mereka tidak mau memahami kita?

Lagi-lagi kita harus pintar mengkontekstualisasikan. Jika konteksnya tidak di ruang kelas, maka sah-sah saja kita dan mereka sebagai sesama manusia itu saling memahami. Nah, tapi, kalau sudah di dalam ruang kelas, maka kita harus manut dengan prinsip intrinsik yang ada di kelas, yakni bersikap kritis. Kalau kita tetap menentang dan enggan menerima sikap kritis tersebut, maka solusi paling radikal adalah jangan jadi mahasiswa, jangan berada di kelas perkuliahan. Ngopi saja di warung kopi sambil bercanda dan main mobile legends-an. Gimana?

Meski begitu, juga ada sedikit afirmasi buat yang mahasiswa aktif. Ketika kita bersikap kritis, aktif bertanya dan berdebat dengan teman, tidak ada salahnya juga sih, kalau setelah meninggalkan kelas itu kita saling respect satu sama lain. Saling simpati dan berempati dengan teman yang sudah diberi peryanyaan dan didebat. Toh, dengan begitu, kita bisa membangun kesan bahwasannya kita sebenarnya tidak ada niat buruk kepada mereka.

Dengan harapan lebih, semoga kawan-kawan mahasiswa tidak lagi membangun stigma kepada mereka yang aktif di kelas. Sekalipun mereka kesannya membuat malu, flexing, dan cari muka ke dosen, hal itu adalah sebagian konotasi dari bentuk kritis mereka. Kita bisa menganggap seperti itu kan karena kita belum mampu seperti mereka, alhasil kesan itu yang muncul di benak kita. Jadi, jangan antipati kepada keaktifan mereka. Kalau sebagai mahasiswa tujuan utamanya adalah mencari ilmu, ya apa salahnya sih, kita mendukung dan meniru sikap kritis mereka.



Achmad Fauzan Syaikhoni
Manusia setengah matang, yang sedang fakir pengetahuan. Kalau mau menyumbang pengetahuan, bisa kirim lewat Instagram saya @zann_sy