Siapa yang Memilih Jadi Pelacur?

Jessica Feliciao on Unsplash


Cangkeman.net - Kupu-kupu malam atau bahasa yang lebih halus daripada pelacur adalah profesi yang mudah ditemui. Tak harus ke hotel berbintang, mereka bahkan bisa ditemui di balik bangunan gubuk berkedok warung. Tengah malam, meninggalkan anak-anaknya yang kedinginan dan dihinggapi nyamuk. Menjadikan kehormatan sebagai objek transaksi utama demi sejumlah uang yang tak seberapa.

Bagaimana lagi? Tak semua orang mau terus-menerus menjadi tempat berhutang. Kontrakan yang menunggak lama, membuat mereka menunggu kesabaran si empu habis dan menendang mereka dari atap yang nyaman. Mirisnya, beberapa anak di bawah umur bahkan mengambil pekerjaan ini setelah frustrasi membantu perekonomian keluarga. Para ibu bersembunyi dari anak-anaknya. Para remaja bersembunyi dari kedua orang tua dan adik-adiknya. Lucu, bukan? Dunia ini terlalu neraka bagi mereka.

Kumpulan pria hidung belang tak lebih menganggap mereka sebagai pemuas nafsu. Jika tetangga tau, mereka pun akan mengunci rapat-rapat pintu, takut jika suami mereka akan menjadi penyewa selanjutnya. Ibu warung sekaligus muncikari hanya bermodal ruang 2 x 2 meter dan satu kotak “pengaman”. Urusan dosa belakangan, yang penting dapat keuntungan.

Stigma buruk yang diberikan masyarakat pun sudah melekat erat. Sekali dipandang hina, tetaplah hina. Sama sekali tidak ada celah kebaikan meski faktanya mereka terdesak keadaan usai lelah menghadapi ribuan gagal dan penolakkan. Sebab, orang gila saja yang menjadikan “lonte” sebagai profesi yang dicita-citakan. Siapa tau? Barangkali setiap pukul 3 pagi mereka bersujud memohon ampunan dan berharap mendapat pekerjaan yang lebih baik.

Di televisi kita pun kerap kali melihat adegan penyergapan yang dilakukan oknum polisi. Beramai-ramai, pihak berwajib mengobrak-abrik tempat “mencari kehangatan” itu diikuti reporter yang sibuk mendokumentasikan para pegawai malam dan tempat remang di mana mereka beraksi. Mempermalukan dianggap menjadi tindakan jera bagi para pemilik profesi tersebut.

Tidak harus terciduk pun, mereka sudah cukup merasa kotor dan malu dengan diri mereka sendiri. “Kamu bisa cari kerjaan yang halal.” Begitu Kata salah seorang polwan dengan seragam yang gagah. Kumpulan wanita berpakaian terbuka hanya menunduk sambil menutupi wajah—menahan malu. Keduanya sama-sama wanita, tetapi hidup di dunia yang berbeda.

Apa jadinya jika penghuni rumah melihat salah seorang keluarga yang tertangkap basah lalu tersiarkan di seluruh jagat maya? Sekali pun wajah tersensor, anak mana yang tak mengenali baju ibunya? Anak pertama mungkin akan memusuhi sang ibu meski uang yang dihasilkan berhasil melunasi tunggakkan sekolah yang hampir menaun. Kemudian para adik bersorak girang, “Ibu, semalam ada Ibu di tv! Tapi muka Ibu kok ditutupin, ya?”. Apakah akan begitu?

Tak seorang pun yang ingin hidup dengan uang hasil “menjual diri”. Terkadang dunia hanya memberi mereka kesempatan, tapi tidak dengan peluangnya. Dunia pelacuran tidak pernah menjadi opsi yang sewaktu-waktu mereka jadikan pilihan. Hanya saja, setiap jalan yang mereka lalui lagi-lagi berujung kebuntuan.

Kupu-kupu malam bekerja untuk menafkahi keluarga, bukan untuk menimbun kekayaan. Mereka menyewakan kehormatan, bukan menipu, apa lagi mencuri uang rakyat. Jika pun merugikan orang lain, barang tentu mereka jauh lebih dirugikan. Bukan begitu?


Thiara

Lagi fokus mempelajari alur plot twist! Aktif menulis berbagai genre dan ragam sastra serta membuat ilustrasi bergaya abstrak. Puan berdarah Sunda-Sumatera ini bisa ditemui pada Instagramnya @thiara.yhiara.