Hidup Itu Bukan Hanya Tentang Bekerja

Annie Spratt on Unsplash

Cangkeman.net - Hari-hari ini, banyak afirmasi yang saya temui dari kawan-kawan sebaya tentang perihal hidup. Seperti misalnya perkataan "Kerja kawan, jangan cuma ngopa-ngopi mulu. Biar tahu pahitnya hidup, enggak hanya tahu pahitnya kopi mulu." Atau seperti yang sekarang lagi tren di TikTok, "Menjauhlah dari duit orang tuamu, maka kau akan tahu bagaimana pria hidup."

Ketika menemui pernyataan tersebut, saya yang saat ini hidupnya kebanyakan masih bergantung dari duit orang tua, lantas sedikit tersinggung. Untungnya saja cuma sedikit, enggak banyak. Kalau banyak, mungkin bukan tersinggung namanya, tapi tersungging. Xixixi.

Menanggapi afirmasi tersebut, bukan semata-mata karena ketersinggungan saya. Tapi, ya, karena memang rasa-rasanya ada yang kurang pas aja sama pernyatannya.

Saya bukan siapa-siapa, dan enggak bisa dibilang berkapasitas dalam menjelaskan makna hidup yang sebenarnya. Meski begitu, kalau ada pernyataan yang kiranya terasa irasional, yah saya sebagai makhluk yang berakal, lumayan tergugah lah buat berkecimpung dalam membantahnya. Wushh.

Ini kalau sampai tahu sama orang yang hobinya ngatain ‘si paling’, saya mungkin akan dikatain, “Iya-iya, si paling membantah”. Emang ada-ada aja kelakuan anak muda sekarang. Dikit-dikit dibilang si paling. Kalau misalnya perihal bernafas, kira-kira mereka rela enggak, ya, dikatain, “Iya-iya, si paling bernafas.” Kan, aneh jadinya.

Tapi ini serius. Seperti pernyataan di atas tadi, saya pikir pernyataan itu tidak masuk akal loh. Karena bagaimana mungkin perihal hidup itu hanya soal kerja, kerja, dan kerja. Yah memang, dalam hidup kita enggak bisa lepas dengan yang namanya uang. Makanya kita harus bekerja biar dapat uang, lalu uangnya dibuat untuk menyambung kehidupan.

Tapi, apakah iya, kalau hidup itu makna autentiknya itu bekerja? Apakah iya, kalau kita diciptakan di dunia ini semata-mata untuk bekerja? Berarti, kalau kita berangkat pada konotasi bekerja itu sendiri, hidup ini esensinya menghadapi kerasnya hidup, dong? Artinya, hidup sama dengan kekerasan, dong?

Kalaupun memang begitu, saya sendiri jadi takut loh sama mereka yang bertuhan. Serius, dah. Karena secara enggak langsung, mereka itu mengatakan bahwa Tuhannya hanya memberikan kekerasan pada mereka. Iya, enggak? Apa enggak ironi kalau begitu? Apa enggak timbul banyak paradoks kalau dikaitkan dengan Tuhan yang maha segalanya? Gimana? bingung, kan? Yah sama. Awowkwok.

Jadi begini. Kalau misalnya pernyataan tadi kita asumsikan sebagai makna autentik dari hidup. Maka, pernyataan itu bukanlah pernyataan yang bersifat informatif. Karena semut pun ya tahu, kalau hidup ini keras. Bahkan enggak hanya semut, bayi baru lahir pun tahu kalau hidup itu keras. Wong dia saja sampai menangis saat keluar dari Rahim Ibu.

Mau kalian bantah dengan argumentasi dari perspektif mana saja, tetap saja bayi menangis ketika baru lahir itu pada intinya karena dia merasa dalam keadaan tidak nyaman. Yang artinya ketidaknyamanan itu menandakan bahwa dia telah merasakan kerasnya kehidupan. Kalau enggak percaya, silakan dicek dari sumber sains maupun agama.

Saya menebak, kalian pasti timbul omongan, “Yang dimaksud keras bukan itu, tapi menjalani kerasnya kehidupan yang sebenarnya, yakni dengan kerja sendiri, berdiri di atas kaki sendiri.”

Lah, terus, maksudnya bayi baru lahir itu harus kerja dulu gitu biar bisa tahu makna hidup? Kan enggak mungkin. Kalaupun memang begitu, berarti “kerja” bukan makna autentik dari hidup. Sebab, maknanya hanya berlaku bagi manusia yang sudah mampu bekerja. Sedangkan makna atau esensi dari hidup itu yah harusnya berlaku bagi makhluk atau manusia yang sedang hidup.

Dalam hidup, saya pikir ada porsi dan proporsionalnya sendiri. Enggak semata-mata semua manusia digeneralisir dengan tindakan bekerja dan harus dapat uang untuk mengetahui makna hidup. Bahkan bayi baru lahir pun dia bekerja loh, meskipun hasilnya bukan berupa uang.

Yah maksudnya dia bekerja untuk memanajamen dirinya dengan kapasitas yang dia miliki. Salah satunya dengan cara menangis, yang dalam hal tersebut menandakan kepada dokter atau suster untuk segera menanganinya agar tetap bisa hidup.

Nah, dari sini kita mulai mengerti, bahwa makna sebenarnya dari hidup itu bukan soal bekerja atau merasakan kerasnya kehidupan. Karena kalau balik pada pernyataan di awal tadi, yah orang yang ngopi itu berarti sudah tahu makna kehidupan. Bagi orang yang suka ngopi itu kan diasumsikan sebagai salah satu cara buat menangani kerasnya kehidupan. Meskipun dengan intensitas dan bentuk kerasnya yang berbeda. Tapi, tetap saja, tabiatnya itu menangani kerasnya kehidupan.

Kalau begitu, apa argumentasi yang bisa menutupi pernyataan di awal tadi?

Lagi-lagi saya perlu menegaskan dulu kalau saya bukan siapa-siapa dan belum bisa dikatakan punya kapasitas dalam menjelaskan makna hidup yang sebenarnya. Maka dari itu, di sini saya akan meminjam diktum dari salah satu filsuf eksistensialis sekaligus teolog dari Denmark, yakni Soren Aabye Kierkegaard. Beliau menyatakan, “Hidup itu bukan untuk melihat masalah di dalamnya. Melainkan menghayati sebuah proses, dan membawanya pada perubahan.”

Saya pikir, pernyataan dari beliau tersebut lebih masuk akal untuk dipakai sebagai referensi dalam memaknai kehidupan. Karena ketika kita melakukan apapun itu pasti enggak lepas dengan yang namanya keterpurukan dan kebahagiaan. Oleh sebab itu, apapun yang kita terima, yah harusnya kita bisa menghayatinya bahwa hidup ini mau enggak mau pasti terus berjalan.

Mau berhenti pada titik kebahagiaan pun pasti selanjutnya kita akan bertemu dengan masalah yang membawa kita pada keterpurukan. Begitupun dengan sebaliknya. Dengan begitu, kita bisa memaknai hidup secara bijak dengan mengatakan, “Kita hidup yah merasakan keras dan merasakan empuk, dan apa lagi yang bisa kita lakukan selain dengan menerima, menghayati, lalu melakukan segala hal lagi dengan tujuan perubahan.”

Akhirnya dari sini saya bisa membantah pernyataan kawan-kawan di atas tadi. Jadi, ngopi bukan suatu hal yang muskil dalam hidup, pun bukan berarti perihal ngopi, lantas dikatakan enggak tahu makna hidup. Siapa tahu dengan ngopi, seseorang bisa mendapatkan sesuatu, lalu membawanya pada perubahan. Orang sekarang ngopi saja bisa dapat ide lalu menuliskannya menjadi sebuah artikel, kok.

Malahan, orang yang melulu bekerja, bisa-bisa mereka enggak tahu bahwa hidup itu bukan hanya kerasnya bekerja. Alhasil, story/instastory-nya gitu-gitu aja, kalau enggak perihal sambat, yah berdoa yang seakan-akan Tuhannya ikut serta bermain sosial media. Hmmm.

Achmad Fauzan Syaikhoni

Mahasiswa komunikasi yang mengaku introvert. Tapi pengin jadi filsuf. Hehehe. Bisa ditemui secara virtual lewat IG: zann_sy