A Ghost Story: Rasa Sepi di Balik Kematian

Wikipedia

Cangkeman.net - Membaca judulnya, kamu mungkin akan menduga ini adalah film horor yang membuat adegan-adegan seram dan mengejutkan. Ya, itulah yang saya sangka ketika sekilas melihat poster sosok aneh yang menutupi wajah dan seluruh bagian tubuhnya dengan kain putih—hanya menyisakan dua lubang kosong pada mata. Namun hal ini berbanding terbalik saat saya mulai menontonnya.

Film yang disutradarai oleh David Lowery ini menceritakan tentang seorang lelaki bernama Cassey Affleck (sebagai C) yang mati usai mengalami kecelakaan di depan rumahnya sendiri. M—yang juga menempati rumah tersebut pun berduka atas kematian kekasihnya itu.

Tidak seperti film horor kebanyakan yang bikin jantung dag-dig-dug serr, A Ghost Story adalah film yang menampilkan sudut pandang dari seorang arwah yang belum benar-benar “pulang”. Hal inilah yang membuat film berdurasi satu jam setengah ini minim dialog.

Yap, kamu yang gak suka film bertipe arthouse mungkin akan bosan dengan beberapa adegan long take-nya yang luar biasa. Salah satu scene terlama dan paling saya ingat adalah di mana M yang diperankan oleh Rooney Mara sedang memakan pie hingga 5 menit lamanya. Meski di menit pertama saya merasa bingung dan kesal, namun di menit berikutnya saya pun mulai merasakan emosi yang berusaha M sampaikan. Ujung-ujungnya, saya jadi salut sendiri dengan akting dan insting alami Mara yang memerankan peran tersebut.

Walau tak banyak ditemukan dialog, film bergenre indie ini menyimpan banyak pesan yang ingin diberikan. Alih-alih rasa kehilangan selepas ditinggalkan orang terkasih, saya justru merasakan emosi C di mana yang ia selami hanyalah kehampaan. Di mana seseorang yang hidup ingin menunjukkan eksistensinya agar kelak bisa diingat. Meski tetap berakhir lenyap dari peradaban dan alam semesta.

Awalnya, saya sempat mengira bahwa ini hanya kisah di antara C dan M. Namun kelama-lamaan, semuanya tertuju pada segudang cerita kematian yang dilalui C. Di mana orang-orang akan berduka atas kepergiannya. Lalu lambat laun, semua mulai terbiasa dan melupakan C seolah ia tak pernah ada. Hal ini membuat siapa pun yang menontonnya menjadi takut akan kematian.

Selama menonton, film ini akan menghadirkan rasa duka mendalam yang tak berujung. Tak ada yang saya temukan selain kesendirian, sepi, frustrasi, rasa sedih, dilupakan hingga kecewa ketika M akhirnya memulai hidup kembali dengan berpindah rumah bersama kekasih baru. Bahkan jika saya jabarkan setiap scene-nya di sini, tak akan cukup untuk menyampaikan makna yang ingin sutradara sampaikan pada penontonnya.

Di penghujung cerita, kamu akan disuguhkan sedikit bumbu plot-twist setelah hantu C melompati ruang dan waktu. Saya pun puas dengan jamuan film yang memutar seperti polaroid. Belum lagi alunan lagu berjudul I Get Overwhelmed yang membekas dengan lirik yang C ciptakan untuk M. Saya seolah menonton sebuah puisi yang cantik. Cinta keduanya begitu indah dan apa adanya.

Lucunya, setelah film selesai, saya melamun panjang. Butuh beberapa saat sebelum akhrinya saya kembali ke dunia nyata. Film ini membuat saya menyadari sesuatu, bahwa kita tidak benar-benar merasa ditinggalkan ketika seseorang mati. Pada kenyataannya, kehilangan akan lebih terasa ketika kita merasakan kematian itu sendiri. Dan sampai ulasan ini ditulis, C membuat saya jadi merasa iba dengan hantu-hantu di rumah saya.


Thiara

Lagi fokus mempelajari alur plot twist! Aktif menulis berbagai genre dan ragam sastra serta membuat ilustrasi bergaya abstrak. Puan berdarah Sunda-Sumatera ini bisa ditemui pada Instagramnya @thiara.yhiara.