Setelah Healing Kok Malah Pusing?

Vidar Nordli-Mathisen


Cangkeman.net - Kerjaannya enggak seberapa, koar-koar healing-nya enggak pernah lupa. Dapat tekanan sedikit dari bos, teman kantor, atau omelan merdu dari sang kekasih langsung merasa orang paling capek di muka bumi. Kalau sudah begini, biasanya langsung melarikan diri ke Bali sambil bikin instastory pakai fitur lagu yang nadanya sendu, mungkin biar kelihatan galaunya.

Tapi ngomong-ngomong, harus banget kali ya healing-nya ke Bali, Lombok, atau kota lain? Yang begini, beneran healing atau ingin liburan aja?

Istilah healing memang akhir-akhir ini sedang ramai diperbincangkan, padahal sejak dahulu model healing-healing begini sudah banyak dilakukan. Healing sendiri kalau dalam bahasa Indonesia berarti “penyembuhan”, bukan liburan. Banyak orang yang salah kaprah dengan istilah ini, pergi ke luar kota bilangnya mau healing padahal sekadar mau bikin konten aja.

Healing baiknya dilakukan ketika seseorang memiliki luka atau masalah dalam dirinya, masalah batin biasanya. Bisa aja orang tersebut stres karena ditinggal selingkuh oleh kekasihnya, orang yang ingin meluapkan emosinya tapi enggak bisa, bahkan trauma-trauma dalam dirinya yang membuat hidupnya merasa enggak tenang. Nah kalau sudah begini, barulah healing sangat diperlukan untuk menyembuhkan gangguan psikis, mental, atau batin seseorang.

Eh tapi kok ada orang yang healing pulangnya malah makin pusing?

Kebanyakan orang yang punya gangguan dalam psikisnya suka merasa bahwa ia kurang liburan aja. Nah orang yang begini nih biasanya langsung beli tiket buat liburan di sela-sela pekerjaan yang menjenuhkan. Setelah liburan mahal-mahal, bukannya makin sehat, malah makin pusing karena uang yang dikeluarkan enggak sedikit.

Padahal tanpa disadari, bisa saja seseorang hanya belum memahami dirinya sendiri. Healing memang perlu banget dilakukan, khususnya untuk orang-orang di umur 20an yang sedang menghadapi life crisis dalam hidupnya. Tapi kembali lagi, healing sendiri enggak harus dilakukan dengan pergi ke luar kota dan ngeluarin uang banyak. Banyak model healing yang murah dan jauh lebih ampuh daripada itu, seperti menonton film atau dengerin playlist spotify mellow yang malah bisa bikin nangis lega. Kalau mau lebih ada usahanya dikit, bisa juga healing-nya bikin kerajinan tangan, masak, baca buku, atau sekadar liat pemandangan aja. Healing sesederhana itu padahal, udah bisa bikin hati senang, pikiran juga tambah segar.

Orang-orang “si paling healing” yang habis keluar kota malah makin pusing, perlu banget berbenah dan pahami diri sendiri dulu. Baru kalau memang pusing karena kurang liburan, jangan lupa bikin kontennya tentang liburan aja, jangan pakai embel-embel healing dulu, hehe...


Azizah Riska Khoirunnisa

Mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta, Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Gemar menonton film, membaca, dan menulis.